Contoh Makalah Metode Pembelajaran Yang Baik dan Benar

Contoh Makalah Metode Pembelajaran Yang Baik dan Benar – Model Pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat di pakai untuk merancang mekanisme suatu pengajaran yang mencakup sumber belajar, subyek pembelajar, lingkungan belajar dan kurikulum ( joyce et al., 1992:24). Suatu model pembelajaran harus memenuhi empat karaktteristik dasar yaitu : sintaks, system social, prinsip-prindip reaksi, dan system pendukung. makalah yang kami berikan berjudul : Metode Pembelajaran Pendidikan Lingkungan di SD 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Meningkatkan mutu pendidikan adalah menjadi tanggungjawab semua pihak yang terlibat dalam pendidikan terutama bagi guru SD, yang merupakan ujung tombak dalam pendidikan dasar. Guru SD adalah orang yang paling berperan dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas yang dapat bersaing di jaman pesatnya perkembangan teknologi.

Guru SD dalam setiap pembelajaran selalu menggunakan pendekatan, strategi dan metode pembelajaran yang dapat memudahkan siswa memahami materi yang diajarkannya, namun masih sering terdengar keluhan dari para guru di lapangan tentang materi pelajaran yang terlalu banyak dan  kekurangan waktu untuk mengajarkannya. Menurut pengamatan, dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas penggunaan model pembelajaran yang bervariatif masih sangat rendah dan guru cenderung menggunakan model konvesional pada setiap pembelajaran yang dilakukannya.

Hal ini mungkin disebabkan kurangnya penguasaan guru terhadap modelmodel pembelajaran yang ada, padahal penguasaan terhadap model-model pembelajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru. Kurikulum tingkat satuan pendidikan memberi kemudahan kepada guru dalam menyajikan pengalaman belajar, sesuai dengan prinsip belajar sepanjang hidup yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal, yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar dengan melakukan (learning to do), belajar untuk hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be). Untuk itu guru perlu meningkatkan mutu pembelajarannya, dimulai dengan rancangan pembelajaran yang baik dengan memperhatikan tujuan, karakteristik siswa, materi yang diajarkan, dan sumber belajar yang tersedia. Kenyataannya masih banyak ditemui proses pembelajaran yang kurang berkualitas, tidak efisien dan kurang mempunyai daya tarik, bahkan cenderung membosankan, sehingga hasil belajar yang dicapai tidak optimal.

Tujuan

  • Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Basic pendidikan lingkungan.
  • Menambah wawasan khususnya dalam model pembelajaran lingkungan di Sekolah Dasar
  • Menambah wawasan mengenai aplikasi pembelajaran tentang Model pembelajaran lingkungan di Sekolah Dasar
  • Menambah wawasan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
  • Menambah wawasan dalam membuat alat peraga yang digunakan dalam menggunakan model pembelajaran

Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian Model Pembelajaran ?
  2. Apa saja jenis- jenis Model Pembelajaran ?
  3. Model yang digunakan dalam Model Pembelajaran lingkungan ?
  4. Bagaimana contoh RPP Model Pembelajaran ?

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Model Pembelajaran

            Model Pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat di pakai untuk merancang mekanisme suatu pengajaran yang mencakup sumber belajar, subyek pembelajar, lingkungan belajar dan kurikulum ( joyce et al., 1992:24). Suatu model pembelajaran harus memenuhi empat karaktteristik dasar yaitu : sintaks, system social, prinsip-prindip reaksi, dan system pendukung

Secara khusus, istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang

digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatn. Sunarwan (1991) dalam Sobry Sutikno (2004 :15) mengartikan model merupakan gambaran tentang keadaan nyata. Model pembelajaran atau model mengajar sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada mengajar di kelas dalam setting pengajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.

Jenis-jenis Model-Model Pembelajaran

a.Pengajaran Langsung
Pengajaran langsung banyak diilhami oleh teori belajar sosial yang juga sering disebut belajar melalui observasi. Dalam bukunya Arends menyebutnya sebagai teori pemodelan tingkah laku. Tokoh lain yang menyumbang dasar pengembangan model pengajaran langsung John Dolard dan Neal Miller serta Albert Bandura yang mempercayai bahwa sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain.

Pemikiran mendasar dari model pengajaran langsung adalah bahwa siswa belajar dengan mengamati secara selektif, mengingat dan menirukan tingkah laku gurunya. Atas dasar pemikirian tersebut hal penting yang harus diingat dalam menerapkan model pengajaran langsung adalah menghindari menyampaikan pengetahuan yang terlalu kompleks.

Para pakar pada umumnya membedakan pengetahuan menjadi dua yaitu, pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu. Sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Supaya ungkapan tentang pengetahuan deklaratif dan prosedural lebih jelas marilah kita amati sebuah neraca. Neraca apapun pasti tersusun atas bagian-bagian yang menyusunnya. Bagian-bagian tersebut meliputi dasar atau kaki neraca, lengan neraca, piring neraca dan bagian-bagian lain. Masing-masing bagian tersebut mempunyiai fungsi tertentu, yang pada akhirnya mendukung fungsi neraca tersebut. Pengetahuan tentang bagian-bagian neraca dan fungsi masing-masing bagian tersebut merupakan pengetahuan deklaratif.

Neraca digunakan dengan prosedur atau langkah-langkah yang tepat, supaya memberikan hasil yang akurat. Pada langkah awal menggunakan neraca kita harus ”mengenolkan” neraca tersebut, atau menyeimbangkan lengan neraca secara tepat. Langkah selanjutnya adalah meletakkan anak timbangan yang massanya kita prediksi hampir sama dengan massa benda yang kita timbang. Selanjutnya kita meletakkan benda dan menemukan massa benda yang kita timbang tersebut. Langka-langkah dalam menggunakan neraca tersebut merupakan pengetahuan prosedural. Dalam menerapkan model pengajaran langsung hendaknya kita menyederhanakan baik pengetahuan deklaratif maupun pengetahuan prosedural yang akan kita sampaikan kepada siswa.

Pengajaran langsung dicirikan oleh sintaks tertentu. Pada Tabel 1 berikut ini akan diberikan sintaks model pengajaran langsung dan peran yang dijalankan oleh guru pada tiap-tiap sintaks

Tabel 1. Sintaks Model Pengajaran Langsung
Fase
Peran Guru
1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.
2. Mendemonstrasikan keterampilan (pengetahuan prosedural) atau mempresentasikan pengetahuan (deklaratif)
Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap.
3. Membimbing pelatihan
Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan
4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik.
5. memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan

Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.

Demikianlah uraian singkat tentang pengajaran langsung yang cocok untuk diterapkan dalam mengajarkan prosedur kerja tertentu, langkah-langkah penggunaan alat tertentu atau materi-materi pelajaran yang sederhana dan tidak terlalu kompleks.

b.Pembelajaran Kooperatif

Pakar-pakar yang memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan model pembelajaran kooperatif adalah John Dewey dan Herbert Thelan. Menurut Dewey kelas seharusnya merupakan cerminan masyarakat yang lebih besar. Thelan telah mengembangkan prosedur yang tepat untuk membantu para siswa bekerja secara berkelompok. Tokoh lain adalah ahli sosiologi Gordon Alport yang mengingatkan kerja sama dan bekerja dalam kelompok akan memberikan hasil lebih baik. Shlomo Sharan mengilhami peminat model pembelajaran kooperatif untuk membuat setting kelas dan proses pengajaran yang memenuhi tiga kondisi yaitu

(a) adanya kontak langsung,

(b) sama-sama berperan serta dalam kerja kelompok dan

(c) adanya persetujuan antar anggota dalam kelompok tentang setting kooperatif tersebut.

    Hal yang penting dalam model pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa dapat belajar dengan cara bekerja sama dengan teman. Bahwa teman yang lebih mampu dapat menolong teman yang lemah. Dan setiap anggota kelompok tetap memberi sumbangan pada prestasi kelompok. Para siswa juga mendapat kesempatan untuk bersosialisasi.

   Terdapat beberapa tipe model pembelajaran kooperatif seperti tipe STAD (Student Teams Achievement Division), tipe jigsaw dan investigasi kelompok dan pendekatan struktural.

Model pembelajaran kooperatif mempunyai sintaks tertentu yang merupakan ciri khususnya. Tabel 3 berikut ini adalah sintaks model pembelajaran kooperatif dan tingkah laku guru pada setiap sintaks.
Tabel 3. Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif

Fase
Tingkah Laku Guru

Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Fase 2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

Fase 3
Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Fase 5Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Fase 6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

   Demikianlah uraian singkat tentang model pembelajaran kooperatif yang sangat cocok untuk memberi bekal kepada siswa trampil hidup bermasyarakat.

c. Pengajaran Berdasarkan Masalah
Model pengajaran berdasarkan masalah lebih kompleks dibandingkan dua model yang telah diuraikan sebelumnya. Model pengajaran berdasarkan masalah mempunyai ciri umum yaitu menyajikan kepada siswa tentang masalah yang autentik dan bermakna yang akan memberi kemudahan kepada para siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Model ini juga mempunyai beberapa ciri khusus yaitu adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu, penyelidikan autentik, menghasilkan produk/karya dan memamerkan produk tersebut serta adanya kerja sama. Masalah autentik adalah masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dan bermanfaat langsung jika ditemukan penyelesaiannya. Sebagai contoh masalah autentik adalah ”bagaimanakah kita dapat memperbanyak bibit bunga mawar dalam waktu yang singkat supaya dapat memenuhi permintaan pasar” Apabila pemecahan terhadap masalah ini ditemukan, maka akan memberikan keuntungan secara ekonomis. Masalah seperti ”bagaimanakah kandungan klorofil daun pada tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang tingkat intensitas cahanyanya berbeda” merupakan masalah akademis yang apabila ditemukan jawabannya belum dapat memberi manfaat praktis secara langsung.

Apabila anda melihat seekor ikan yang berenang di akuarium, maka apakah masalah autentik dan masalah akademik yang dapat dirumuskan dari pengamatan ikan tersebut. Masalah autentik yang muncul dapat meliputi, bagaimanakah komposisi ransum pakan ikan supaya menghasilkan pertumbuhan badan ikan yang maksimal, atau bagaimanakah ransum pakan yang menghasilkan warna tubuh ikan yang lebih cerah sehingga ikan tersebut lebih mahal jika dijual. Adapun masalah akademik yang muncul meliputi bagaimanakah pengaruh suhu air terhadap kecepatan membuka dan menutupnya insang pada ikan, bagaimanakah pengaruh adanya zat polutan terhadap kecepatan motilitas ikan dan masalah-masalah lain yang tidak langsung bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Masalah autentik juga sangat menarik minat siswa sebagai subyek belajar, karena terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari dan bermanfaat bagi dirinya. Dengan mengangkat masalah-masalah autentik ke dalam kelas, maka pembelajaran akan lebih bermakna.

   Adapun landasan teoritik dan empirik model pengajaran berdasarkan masalah adalah gagasan dan ide-ide para ahli seperti Dewey dengan kelas demokratisnya, Piaget yang berpendapat bahwa adanya rasa ingin tahu pada anak akan memotivasi anak untuk secara aktif membangun tampilan dala otak mereka tentang lingkungan yang mereka hayati, Vygotsky yang merupakan tokoh dalam pengembangan konsep konstruktivisme yang merupakan konsep yang dianut dalam model pengajaran berdasarkan masalah.

   Model pengajaran berdasarkan masalah juga mempunyai sintaks tertentu yang merupakan ciri khas dari model ini. Tabel 4 berikut ini adalah sintaks model pengajaran berdasarkan masalah dan tingkah laku guru pada setiap tahap sintak.

Tabel 4. Sintaks Model Pengajaran Berdasarkan Masalah

Tahap
Tingkah Laku Guru

Tahap 1
Orientasi siswa kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa untuk terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.

Tahap 2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Tahap 3
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

Tahap 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

Tahap 5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Demikianlah sekilas tentang model pengajaran berdasarkan masalah yang sangat cocok diterapkan ada siswa kelas tinggi atau siswa yang bekal pengetahuan prasyaratnya sudah cukup.

d. Inkuiri atau Belajar Melalui Penemuan

    Para siswa dapat belajar menggunakan cara berpikir dan cara bekerja para ilmuwan dalam menemukan sesuatu. Tokoh-tokoh dalam belajar melalui penemuan ini antara lain adalah Bruner, yang merupakan pelopor pembelajaran penemuan. Pembelajaran penemuan merupakan suatu model pengajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur atau ide kunci dari suatu disiplin ilmu, perlunya siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran, dan suatu keyakinan bahwa pembelajaran yang sebenarnya akan terjadi melalui penemuan pribadi. Tokoh lain adalah Richard Suchman yang mengembangkan suatu pendekatan yang disebut latihan inkuiri. Dengan pengajaran ini guru menyajikan kepada siswa suatu teka-teki atau kejadian-kejadian yang menimbulkan konflik kognitif dan rasa ingin tahu siswa sehingga merangsang mereka melakukan penyelidikan.

Sintaks belajar melalui penemuan tidak jauh berbeda dengan langkah-langkah kerja ilmiah yang ditempuh oleh para ilmuwan dalam menemukan sesuatu. Tabel 5 berikut ini adalah sintaks dan tingkah laku guru dalam model belajar melalui penemuan.
Tabel 5 Sintaks Model Belajar Melalui Penemuan
Tahap
Tingkah Laku Guru

Tahap 1
Observasi untuk menemukan masalah
Guru menyajikan kejadian-kejadian atau fenomena yang memungkinkan siswa menemukan masalah.
Tahap 2
Merumuskan masalah
Guru membimbing siswa merumuskan masalah penelitian berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikannya.
Tahap 3
Mengajukan hipotesis
Guru membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis terhadap masalah yang telah dirumuskannya.
Tahap 4
Merencanakan pemecahan masalah (melalui eksperimen atau cara lain)
Guru membimbing siswa untuk merencanakan pemecahan masalah, membantu menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dan menyusun prosedur kerja yang tepat.
Tahap 5
Melaksanakan eksperimen (atau cara pemecahan masalah yang lain)
Selama siswa bekerja guru membimbing dan memfasilitasi.
Tahap 6
Melakukan pengamatan dan pengumpulan data
Guru membantu siswa melakukan pengamatan tentang hal-hal yang penting dan membantu mengumpulkan dan mengorganisasi data.
Tahap 7
Analisis data
Guru membantu siswa menganalisis data supaya menemukan sesuatu konsep
Tahap 8
Penarikan kesimpulan atau penemuan
Guru membimbing siswa mengambil kesimpulan berdasarkan data dan menemukan sendiri konsep yang ingin ditanamkan.
Demikianlah sekilas uraian tentang model belajar melalui penemuan yang sangat cocok untuk konsep-konsep yang dapat ditemukan lewat percobaan.

Contoh model pembelajaran alternative yang memenuhi karaktristik dasar adalah model pembelajaran yang di kembangkan  berdasarkan pandangan pemecahan masalah atau inkuiri dan konstruktivisme. Model-model pembelajaran  konstruktivisme antara lain yaitu sebagai berikut: :

e Model Siklus Belajar ( Learning Cycle)

Model siklus belajar ( Learning Cyclr) cukup sederhana maka layak sebagai alternative pertama dalam upaya awal menerapkan  model pembelajaran yang berorientasi pada pandangan konstruktivisme di Sekolah Dasar.

Menurut Karplus (1978:162-163) dalam siklus belajar terjadi interaksi antara konsepsi siswa dan konsepsi guru dengan memberikan aktivitas kepada siswa yang seluas luasnya berupa pengalaman fisikal (physical experiences) dan transmisi social (social transmission).

Selama fase pertama, fase eksplorasi konsep, siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan pengetahuan awalnya, mengembangkanpengetahuan baru, serta menjelaskan fenomena yang mereka alami.

Dalam fase kedua (pengenalan konsep) atau klarifikasi, peran guru sangat dominant. Guru membantu siswa dalam mengidentifikasi konsep, prinsif, atau hubungan –hubungan setelah mereka memiliki dasar pengalaman dari fase eksplorasi konsep.

Dalam fase ketiga, aplikasi konsep atau elaborasi, siswa menggunakan konsep yang telah mereka pahami untuk menyelidiki atau memecahkan masalah-masalah baru yang masih berhubungan. Guru membantu siswa dalam menginterpretasi dan menggeneralisasi hasil observasi berdasarkan pengalaman siswa melalui kegiatan diskusi kelas atau kelompok

Keterampilan guru menggunakan model ini sangat bergantung kepada: a) pemahaman dan penguasaan guru terhadap mnateri pelajaran: b0 pengetahuan dan keterampilan guru menghubungkan komponen-komponen kegiatan pembelajaran: dan c) ketepatan guru memilih metode pengajaran pada setiap fase model.

Model Pembelajaran EKPA

Model Pembelajaran EKPA dikemukakan oleh Like Wilardjo (1998:62-64). Nama EKPA merupakan akronim dari Elitasi, Konfrontasi, Pengenalan konsep,dan Aplikasi konsep.

fase pertama

Model Pembelajaran Interaktif

Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak.Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992). Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus. Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya(Harlen, 1992:48-50) Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu siswa atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.

    Bagi siswa pembelajaran interaktif memberikan pengalaman baru dan diharapkan memberikan kontribusi terhadap peningkatan belajarnya. Siswa memiliki kesadaran bahwa proses pembelajaran adalah dalam rangka mengembangkan potensi dirinya, karena itu keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh siswa. Disamping itu, melalui penelitian ini siswa terlatih untuk dapat memecahkan masalah dengan pendekatan ilmiah dan siswa didorong aktif secara fisik, mental, dan emosi dalam pembelajaran. Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan profesional, dan pembelajaran interaktif menjadi alternative pembelajaran IPA untuk meningkatkan prestasi siswa. Memberikan kesadaran guru untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan, materi, karakteristik siswa, dan kondisi pembelajaran. Guru mempunyai kemampuan dalam merancang model pembelajaran interaktif yang merupakan hal baru bagi guru, dan menerapkannya dalam pembelajaran IPA. Dengan penelitian ini, kemampuan guru mengaktifkan siswa dan memusatkan pembelajaran pada pengembangan potensi diri siswa juga meningkat,

sehingga pembelajaran lebih menarik, bermakna, menyenangkan, dan mempunyai daya tarik.

Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan

pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian

menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992). Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaanpertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus. Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992:48-50). Model pembelajaran interaktif memiliki lima langkah. Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Interaktif diawali dengan

1) persiapan, sebelum pembelajaran dimulai guru menugaskan siswa untuk membawa hewan peliharaannya dan mempersiapkan diri untuk menceritakan tentang hewan peliharaannya masing-masing.

2) kegiatan penjelajahan, pada saat pembelajaran di kelas siswa lain boleh mengamati hewan-hewan peliharaan teman-temannya dari dekat (meraba, mengelus, menggendong) dan mereka boleh mengajukan pertanyaan.

(3) pertanyaan siswa diarahkan guru sekitar proses pemeliharaannya.

4) penyelidikan, guru dan siswa memilih pertanyaan untuk dieksplorasi lebih jauh. Misalnya siswa diminta mengamati keadaan hewan-hewan yang

tidak dipelihara, seperti dari mana mereka memperoleh makanannya, dimana merekatidur, punya nama atau tidak, bagaimana kebersihannya.

5) refleksi, pada pertemuan berikutnya di kelas dibahas hasil penyelidikan mereka, dilakukan pembandingan antara hewan peliharaan dengan hewan liar untuk memantapkan hal-hal yang sudah jelas dan memisahkan hal-hal yang masih perlu diselidiki lebih jauh. Pada akhir kegiatan guru dapat memberikan tugas kepada siswa untuk mengamati benda-benda di sekitar siswa untuk mengamati benda-benda di sekitar mereka seperti buku dan tas sekolahnya. Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu siswa atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.

Contoh RPP Model Pembelajaran Kooperatif

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran: Sistem Pernapasan Manusia

Sekolah : SD dan MI
Mata Pelajaran : Sains
Kelas/Semester : V/1

Standar Kompetensi : Siswa mampu memahami alat-alat tubuh bagian dalam (organ) manusia dan hewan, cara tumbuhan hijau membuat makanan dan dapat mengembangkan kemampuan mengaitkan ciri-ciri makhluk hidup dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat, serta menyadari pentingnya pelestarian jenis makhluk hidup untuk mencegah kepunahan.

A. Kompetensi Dasar
2. Mendeskripsikan alat-alat tubuh bagian dalam manusia (organ pernapasan, pencernaan, dan peredaran darah)

B. Indikator

· Menjelaskan proses keluar masuknya udara pernapasan pada manusia
· Mendeskripsikan fungsi masing-masing organ pada sistem pernapasan
· Membuat prediksi/ramalan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.
· Merancang kegiatan untuk membuat model mesin pernapasan sederhana secara mandiri atau dalam kelompok.
· Membuat suatu karya atau alat untuk memvisualisasi proses keluar masuknya udara pernapasan pada manusia.
· Menguji coba hasil karya yang berupa model mesin pernapasan sederhana yang telah dibuat.
· Menyempurnakan hasil karya yang berupa model mesin pernapasan sederhana berdasarkan hasil uji coba.

C. Alokasi Waktu: 2 jam pelajaran (1 x pertemuan)

D. Model dan Metode Pembelajaran:
1. Model Pembelajaran
– Pembelajaran Kooperatif
2. Metode Pembelajaran
– Diskusi
– Eksperimen

E. Langkah Kegiatan Pembelajaran

A. Pendahuluan (± 10 menit)

1. Memotivasi siswa dengan meminta para siswa duduk saling berhadapan dengan temannya. Masing-masing siswa memegang dadanya sendiri sambil mengamati dada pasangannya. Pasangan siswa tersebut diminta ambil napas dalam-dalam, merasakan apa yang terjadi pada tubuhnya dan mengamati apa yang terjadi pada tubuh temannya. Selanjutnya guru menanyakan beberapa pertanyaan yang berkaitan denga kegiatan yang baru dilakukan seperti alat-alat tubuh apakah yang terlibat pada saat bernapas, zat yang dihirup dan dihembuskan pada saat bernapas, perubahan pada dada dan perut pada saat menghirup dan menghembuskan napas dan pertanyaan lain yang berkaitan dengan pernapasan. (Fase 1)

2. Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai hari ini, yaitu mempelajari sistem pernapasan khususnya pada manusia. Dan melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pernapasan. (Fase 1)

B. Inti (± 60 menit)

1. Guru menyajikan informasi dengan cara menjelaskan beberapa konsep yang penting tentang sistem pernapasan pada manusia seperti yang terdapat pada Buku Siswa tentang pernapasan pada manusia. (Fase 2)
2. Selanjutnya guru menjelaskan hal-hal penting yang berkaitan dengan Model Mesin Pernapasan seperti yang terdapat pada gambar di bawah ini. (Fase 2)

3. Guru mengelompokkan siswa. Satu kelompok terdiri dari 3-4 siswa. Kepada wakil masing-masing kelompok diminta mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan dan selanjutnya meminta kelompok-kelompok siswa untuk membuat Model Mesin Pernapasan. (Fase 3)

4. Selama siswa bekerja, guru membimbing dan memfasilitasi. Bimbingan tersebut untuk memperjelas petunjuk cara pembuatan model mesin pernapasan secara tepat, cara mendemonstrasikan model mesin pernapasan yang telah dibuat siswa untuk memvisualisasi proses keluar masuknya udara pernapasan pada tubuh manusia, mengarahkan siswa dalam pengambilan data, analisis data dan penarikan kesimpulan. (Fase 4)

5. Langkah evaluasi ditempuh guru dengan cara memberi kesempatan kepada satu atau dua kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya, yang berupa model mesin pernapasan hasil kerja kelompok itu, demonstrasi penggunaan model mesin pernapasan yang telah dibuat, data, analisis data dan kesimpulan yang dibuat oleh kelompok itu. Selanjutnya guru memberi kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi presentasi tersebut. Guru juga memberi umpan balik untuk menunjukkan model mesin pernapasan yang benar, demonstrasi penggunaan model mesin pernapasan yang tepat, data, analisis dan kesimpulan yang seharusnya diperoleh kelompok kerja siswa. Guru juga memberi penguatan pada akhir langka evaluasi tersebut. (Fase 5)

6. Langkah memberi penghargaan ditempuh dengan cara memberi pujian kepada kelompok yang hasil kerjanya baik dari aspek akademik maupun kerja sama antar anggota kelompok. (Fase 6)

C. Penutup (10 menit)
Membimbing siswa merangkum butir-butir penting pembelajaran hari ini tentang proses keluar masuknya udara pernapasan pada tubuh manusia. Pada bagian penutup dapat juga menugaskan siswa untuk mengerjakan beberapa Lembar Penilaian yang berisi butir-butir soal yang relevan.

F. Sumber Pembelajaran
Buku siswa Sains SD & MI tentang sistem pernapasan pada manusia
Lembar Penilaian yang berisi butir-butir soal yang relevan

G. Alat dan Bahan
Pertemuan Pertama
· 2 balon karet (1 besar, 1 kecil)
· sedotan limun
· selotip
· gunting
· botol plastik/kaca kecil, jernih (transparan) yang dasarnya terpotong
· plastisin
· Buku Kegiatan

Tujuan:

Mengetahui terjadinya erosi.

Alat dan Bahan:

– Dua buah bak persegi dari papan/triplek

– Tanah

– Tanaman rumput

– Air

Langkah Kerja :

  1. Lakukan secara berkelompok
  2. Masukkan tanah ke dalam bak pertama!
  3. Masukkan tanah ke dalam bak kedua, kemudian tanamilah dengan

rumput-rumputan!

  1. Siram tanah pada kedua bak tersebut dengan air!
  2. Amatilah bak mana yang lebih banyak mengalami pengikisan tanah oleh

air?

  1. Buat laporan pada buku tugasmu!
  2. Faktor Hujan

Turunnya hujan sangat menyenangkan para petani. Karena dengan hujan petani dapat mengairi kebun dan sawahnya. Dapatkah kamu bayangkan apabila hujan turun dengan lebat dan terus menerus? Ya, hujan yang besar dapat menimbulkan banjir yang sangat merugikan bagi makhluk hidup. Rumah-rumah terendam, sawah yang tidak bisa dipanen karena terendam banjir, jalanan yang macet dan lain lain.

Selain itu banjir dapat merusak lapisan tanah. Tanah yang gundul tidak akan mampu menahan aliran air, sehingga terjadilah erosi atau pengikisan tanah. Tanah yang terkikis terbawa oleh aliran air dan diendapkan pada suatu tempat, peristiwa itu dinamakan sedimentasi.

Daerah pinggiran sungai yang tidak ditumbuhi tanaman lebih mudah terkikis oleh arus sungai. Pengikisan oleh air sungai tetap terjadi meskipun pinggiran sungai ditanami tumbuhan. Hanya pengikisan yang terjadi lebih sedikit!

Laku1. Pencegahan Banjir dan Erosi

Sudah kita pelajari bahwa erosi terjadi di tanah yang gersang tanpa tumbuh-tumbuhan. Banjir juga disebabkan tidak adanya pepohonan yang menyerap air hujan. Untuk itu, perlu dilakukan usaha yang dapat

mencegah terjadinya erosi dan banjir yaitu dengan menanam kembali hutan-hutan yang gundul yang disebut dengan reboisasi. Kerusakan hutan juga dapat dicegah dengan tidak melakukan penebangan hutankanlah kegiatan berikut untuk mengetahui terjadinya eros iTanah di lahan perkebunan yang dapat mengalami erosi dan longsor.

Cara lain untuk mencegah erosi dan longsor pada lahan perkebunan dan pertanian yang miring, yaitu dengan membuat tanah sengkedan atau terasering. Tanah sengkedan berupa tanah berundak-undak, sehingga aliran air tidak terlalu deras menyapu lapisan atas tanah  Erosi dapat dicegah dengan tidak menebang pohon secara semena-mena, melakukan reboisasi, dan membuat sengkedan pada tanah yang miring.s tanah.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan
  2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Ilmu Pengetahuan Alam 4 untuk SD dan MI Kelas IV/Heri Sulistyanto,

dan Edy Wiyono; editor Robin Ginting. – Jakarta: Pusat Perbukuan,

Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar, Edi Hendri Mulyana, UPI 2006

http://www.teknologipendidikan.net

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, BSNP Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

http://www.google.com

contoh surat perjanjian pinjam nama untuk kredit mobiletika guru terhadap diri sendiripengertian organisasi formalsurat pernyataan pinjam namacontoh fiqih muamalahyhs-fullyhosted_003c0ntoh surat tidak masuk kerja secara kolektifbuatlah makalah metode pembelajaran dan evaluasi pembelajaran perspektif globalAURAT PEBGUNDURAN GURUarti dan maksud guru waskito