Kumpulan Novel Cinta Terbaru 2016 news

Novel Cinta -  Sahabat Warna Kali ini admin akan sedikit berbagi mengenai Kumpulan Novel CintaNovel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Penulis novel disebut novelis. Genrenovel digambarkan memiliki "sejarah yang berkelanjutan dan komprehensif selama sekitar dua ribu tahun". wikipedia.

Novel Cinta

Kumpulan Novel Cinta 


 Cinta Terpendam Yang Dibawa Sampai Mati

Dear My Story - Kadang rasanya aku tidak pantas lagi untuk mengeluh, semua doa ku terjawab sudah, harapan menjadi kenyataan, dunia mimpiku seolah menjadi kehidupan. Baru kemarin aku bermimpi indah sekali tidak ingin aku bangun lagi dari tidur itu tetapi keadaan sekarang memaksa untuk bangun bahwa "Seindah-indah dunia mimpi pasti engkau akan terbangun juga" meski Indah itu tetaplah sebuah mimpi yang tidak akan berubah menjadi kenyataan.


Pernah berfikir dulu bahwa suatu saat nanti mimpi-mimpi indah itu akan benar-benar menjadi nyata, saat waktunya tiba sekarang memang semua sudah menjadi nyata tetapi semua memang tidak seindah mimpi, pernah ingat kisah ku dulu yang sangat merindukan seseorang gadis impian itulah yang dimaksud, mungkin semua itu memang salah ku, tidak pernah berani mengunkapkan isi hati ini selama puluhan tahun lamannya.




Hal yang paling aku sesalkan adalah tidak ada kesempatan lagi meski hanya terakhir kali, walau sekedar mengungkapkan perasaan bahwa aku memang benar-benar menyayanginnya sejak kami berusia belasan tahun. Kini aku tumbuh dewasa menjadi laki-laki mandiri dan memiliki beberapa target hidup yang harus segera dicapai, semua rasanya tidak lengkap karena perasaan ini hanya sampai pada sebuah sms yang tidak pernah terkirim dan sepenggal kisah yang aku tulis.


Dulu jauh sebelum hari ini aku pernah menulis banyak sekali tentang perasaan yang terpendam saat ini kepada sang puteri, web adalah teman curhat dan menulis adalah cara terbaik ku untuk mengungkapkan semua perasaan yang ada sedangkan tempat ku berharap adalah Alloh dengan doa aku bisa belajar untuk mencoba mengutarakan isi hati tanpa harus memiliki. Tidak banyak yang aku inginkan cuma satu dari apa yang aku tulis yaitu suatu saat nanti semoga dia membaca semua tulisan ku, tentang perasaan ini kepadanya.


Harapan itu seolah menjadi sebuah kenyataan, memang benar kisah yang ku tulis mendapatkan respon tinggi dari pembaca ada ribuan orang yang menyukai tulisan itu, beberapa pembaca mengungkapkan bahwa karangan fiktif yang dibuat keren sekali. Padahal jika mereka tahu apa yang ku tulis adalah bukan sebuah karangan tetapi itu kisah hidup nyata yang sedang aku tulis dengan sentuhan hati antara kisah ku dan dia yang aku idolakan.


Dari menulis aku berani mengungkapkan isi hati ini, dengan jelas, tegas dan emosional mengungkapkan semua perasaan yang tidak berani diungkapkan, dalam setiap tulisan itu juga ada sebuah harapan semoga saja Sang Puteri membaca tulisan ku, memang ini hal konyol yang pernah aku lakukan menyimpan sebuah perasaan 11 tahun lamanya, aku menjumpai tanggal 8 Agustus sebanyak sebelas kali tanpa berhenti memikirkannya.


Yang ku ingat tentang tanggal itu adalah tanggal lahirnya, setiap tanggal yang sama ku sempatkan untuk mengirimkan sebuah ucapan dan ungkapan perasaan hati bahwa aku sangat amat mencintainnya, tetapi pesan itu sengaja aku kirim ke nomor ponsel yang tidak aktif lagi meski aku tahu tetap saja dilakukan, karena cuma nomor itu saja yang aku punya, ku anggap 11 tahun lamanya semua pesan yang dikirim itu sudah dibaca.


Tetapi dengan begitu aku sudah bahagia bisa mengungkapkan perasaan walau aku tahu bahwa sms itu selalu gagal. Bertahun-tahun kisah itu terus berlalu tidak sehari pun aku berhenti memikirkan dia, sambil terus menulis dari 1000 artikel yang ku buat sebanyak itulah aku berharap semoga saja dia mengetahui isi hati ini dengan mencari kata kunci melalui google.com "Cerita Cinta" browsing di Internet.


Karena aku seorang blogger jadi kata kunci itulah yang aku tembus, dengan menulis aku merasa sangat lega sekali, sampai pada waktunya tiba, memang dia tidak pernah membaca semua tulisan itu, tetapi mungkin Tuhan melihat usaha yang aku lakukan sangat keras sampai akhirnya semua tulisan itu dibaca oleh banyak teman SMA ku dulu, beberapa teman dekat sang puteri juga membaca tulisan itu, akhirnya untuk pertama kalinya pada awal tahun 2013 si teman dekat menyampaikan apa yang dia baca kepada sang puteri.


Bahwa aku pernah menyayangi bahkan sangat amat menyayangi sang puteri. Tetapi aku tidak tahu kalau dia sudah tahu tentang perasaan itu, kesibukan ku kuliah dan kesibukan dia bekerja membuat kami tidak memiliki kesempatan untuk bertemu karena aku kuliah di kota yang berbeda sedangkan dia bekerja di kota berbeda juga. Aku tetap menulis apa yang dirasa sambil terus berharap meski sebenarnya semua harapan itu sudah terjawab hanya saja aku tidak mengetahuinya.


Tidak ada pernah berfikir untuk menjadikan Sang Puteri menjadi seorang kekasih, sebab yang aku takutkan adalah saat nanti kami putus aku terikat pada sebuah prinsip hidup, bahwa tidak akan pernah balikan ke mantan setelah putus. Mungkin memang benar seperti apa yang diungkapkan oleh sabahat karib ku dulu waktu Kuliah. Sang Puteri tidak akan pernah cocok untuk menjadi seorang pacar ku, tetapi dia sangat cocok untuk menjadi seorang Istri bagi anak-anak ku nanti.


Meski hati ini terikat dengan sebuah cinta yang besar, aku akan berusaha mewujudkan semua mimpi itu menjadi kenyataan dengan menjadikan diri ini pantas untuknya mencapai target dan sukses semuda mungkin, rencana ku setelah lulus kuliah dan mencapai sukses, aku akan datang langsung melamarnya itu janji ku dulu pada diri ini dan Alloh saksi atas semua perkataan dan kemauan keras ku. Jika ditanya bagaimana cara ku sukses ? aku sudah mempunyai caranya.


Diakhir kuliah aku akan melamar perkerjaan yaitu Astra Internasional perusahaan besar bertaraf Dunia, jika lulus aku akan meminta rayon Sumatera Selatan harapannya bisa mendatangi Sang Puteri karena waktu itu ingat sekali dia bekerja disalah satu Perusahaan Kecil yang ada kaitannya dengan Astra Motor, Kota dia bekerja dibawah pengawasan Perusahaan tempat Sang Puteri Bekerja. Sebelum semua terwujud ternyata Tuhan berkata lain.


Aku mulai dipertemukan dengan Wanita lain yang menurutku mampu menghapus semua bayang Sang Puteri, rencana ku untuk mendaftar kerja pun menjadi memudar, selain itu ternyata hobby ku menulis bisa menghasilkan uang, Web yang ku buat untuk pertama kali mendapatkan sponsor dari label yang lumayan besar untuk menunjang kehidupan ku. Jika dirata-rata gaji yang ku terima saat itu sama seperti bekerja di perusahaan Astra Internasional.


Niat itu menjadi urung, perlahan tapi pasti bahwa aku mulai melupakan semua mimpi untuk melamar Sang Puteri karena aku sudah menemukan sosok Wanita penggantinya, bahkan sanggup melupakan semua bayang tentang dia dulu. Memang benar kisah yang terjadi kadang tidak sesuai dengan harapan, aku berfikir Wanita pengganti Sang Puteri adalah cinta terakhir ku. Mulai sadar entah mengapa kepada orang yang sangat aku sayang aku tidak memiliki kekutan untuk mengutarakan isi hati termasuk kepada Wanita satu ini.


Kondisi yang sama terjadi pada orang berbeda, kondisi yang sama melupakan masalah lama dengan cara lama dan pada orang yang baru, baru ku sadari bahwa aku memang belum berani mengungkapkan isi hati dan belum sempat waktu itu Wanita yang dimaksud memilih bergaul dan mencari jodoh dengan cara Islam menolak pacaran jika siap langsung lamar menikah ke orang tuanya.


Namun apa daya meski aku sudah melupakan Sang Puteri karena Wanita baru ini, yang terjadi tepat pada hari itu dia tidak memiliki kemampuan menolak baginya keputusan orang tuanya adalah keputusan dia juga meski dia tidak bahagia, asalkan orang tuannya setuju ia akan terima pada keputasan itu. Akhir Wanita itu memilih menikahi dan bahagia dengan Laki-Laki lain. Sedangkan aku untuk kesekian kali belum sempat untuk mengungkapkan perasaan ku Pada Wanita yang sangat ku sayang dan keburu ditinggal menikah.


Kekecewaan itu mengalihkan semua dunia dan permasalahan, tidak ada satu orang pun yang bisa mengobati kekecewaan tersebut, Mengapa Tuhan aku lemah untuk menyatakan Cinta kepada orang yang sangat ku sayangi, padahal bagiku mengungkapkan perasaan bukan masalah sulit sebab daftar list orang yang pernah ku tembak sudah lumayan banyak. Tetapi rasaya aku lemah sekali untuk kesekian kali untuk menyatakan Cinta pada orang yang sangat disayang, dari saat itu aku tidak mau kenal lagi yang namanya Cinta serius karena hal itu

menyakitkan.


Ingat waktu itu keadaan Finansial ku sedikit turun perlu beberapa bulan untuk bangkit dari keterpurakan karena Down oleh masalah tersebut. Sampai pada waktu yang tepat aku harus mencari cara untuk melupakan Wanita tersebut, hal hasil menemukan satu cara, yaitu ada satu orang yang bisa membuatku perlahan melupakan Wanita itu, dengan mulai memikirkan Sang Puteri lagi, dalam hati memaksa diri untuk memikirkan Sang Puteri Lagi.


Sering kali aku larutkan dalam sebuah lamunan, dalam hati aku berkata "Apa kabar ya Sang Puteri sekarang" tetapi aku mulai sadar bahwa Cinta ini tidak lagi sebesar yang dulu karena sadar bahwa aku sudah bisa melupakannya. Aku mulai memaksa diri untuk mencintai dia yang belum tentu mencitai ku, tetapi bagi ku itu sudah lebih dari sekedar cukup. Entah kenapa kebiasaan menulis ku kembali lagi, berharap lagi, mulai memikirkan lagi Sang Puteri.


Tetapi sebelum kegagalan ku menikah, Aku juga mendengar bahwa Sang Puteri akan menikah, memang mungkin hati ini tengah diuji, rasanya berdosa saja untuk kesekian kali memikirkan Calon Istri Orang. Dari kejadian itulah semua perasaan ini hambar bisa dibilang mati rasa sakit hati, untuk satu alasan yaitu orang yang sangat ku Cintai. Kepada mereka bahwa aku menyayangi mereka. Semua sudah terlambat mereka sudah pergi dan menikah dengan orang lain bahkan semuannya.


Sejak hari itu, rasanya aku sudah tidak memiliki hati lagi, semua hal ku pikirkan dengan logika tidak ada perasaan bahkan aku pernah berjanji kepada Alloh tidak akan pernah menangis lagi untuk alasan yang masih bisa diatasi. Entah sampai kapan aku akan seperti ini rasanya sisa hidup ini ku habiskan untuk memikirkan Sang Puteri, Istirahat sebenar lalu aku mulai memikirkan dia lagi, apa seumur hidup ku akan terus memikirkan Sang Puteri meski tidak bisa memiliki.


Tetapi percayalah satu hal, Rencana Alloh jauh lebih indah dan Ia tidak akan menguji HambaNYA diluar batas kemampuannya itu JanjiNYA. Beberapa tahun lamanya setidaknya 7 bulan setelah kabar itu, Aku mendengarkan bahwa ternyata Sang Puteri juga gagal Menikah. Hati ini ingin sekali bahagia ternyata ada harapan untuk ku kembali mengungkapkan perasaan ini, dalam hati aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan agar bisa mengkapkan perasaan ku, kali ini tidak akan ku biarkan kesempatan bagus ini, tetapi untuk senang rasanya tidak pantas karena orang yang sangat aku sayangi disakiti oleh Laki-Laki lain.


Dalam hati aku merasakan merahan "Jika Laki-Laki itu menyakiti Dia yang sangat ku sayang aku tidak pernah akan Ikhlas karena disini aku siap untuk membuat Dia bahagia Jika Laki-Laki itu tidak mampu melakukannya, jangan pernah sakiti Dia ada banyak sekali orang yang berharap diposisi bersama itu termasuk aku". Ingat waktu itu adalah tanggal 8 Agustus 2014 tidak terasa aku melewat sebanyak sepuluh kali hanya dilewati untuk memikirkan Sang Puteri lagi. Tetapi pada tanggal yang sama itulah aku mulai menemukan kabar yang tidak mengenakan tentang Sang Puteri, Tetapi hati ini tidak pernah percaya meski itu terjadi. Awal tahun 2015 aku mulai kembali mencari kabar Sang Puteri dan mencari kebenaran hal itu.


Tahukah apa kabar yang ku dengar tentang Sang Puteri "Bahwa dia yang Dulu Telah Meninggal Dunia". Rasanya tidak ingin percaya sambil berkata dalam hati bahwa semua itu tidak benar, hati ini menolak untuk semua berita tetangnya. Sampai pada waktu tiba bulan 14 Juni 2015 aku mendapatkan kepastian bahwa dia yang dulu memang sudah benar-benar pergi untuk selamanya. Padahal aku sangat amat menyayangi dia.


Percaya atau tidak setiap hari dari tanggal 14 Juni 2015 sampai dengan 8 Agusutus 2015 tanpa sadar air mata itu menetes setiap pagi saat aku bangun tidur. Seandanya dulu aku berani mengungkapkan isi hati ini pasti tidak akan jadi seperti ini, Mungkin sudah menjadi takdir hidup ku mencintai Sang Puteri yang dulu tanpa dicintai dia sampai ia telah tiada lagi. Jika aku diberikan kesempatan untuk mengulang waktu 2010 silam ingat saat itu kami sedang ujian nasional sebenarnya aku memiliki kesempatan untuk mengungkapkan isi hati ini kepada Sang Puteri.


Kami sempat jalan berdua menggunakan sepeda motor diatas motor ia menyandarkan kepalanya bahu ku, tanpa disadari aku beranikan diri untuk mencium pipinya, tetapi hanya sekali itu saja setela itu kami sempat dekat mulai telponan, mengambil air, sholat berjamaan sama-sama dirumah yang berdekatan tetapi alangkah bodohnya aku masih tidak berani mengungkapkan isi hati ini dan menyimpannya menjadi sebuah penyesalan yang tidak akan pernah dilupakan sampai kapan pun. 


Tapi aku sudah terjebak dikondisi "Fren Zone" bahwa dimana ikatan persahabatan jauh lebih penting dan menyampingkan semua perasaan Cinta atau sejenisnya, karena itu akan menjadi perusak sebuah hubungan persahabatan, itu tidak diinginkan sebagai seorang sahabat yang takut kecewa dan dikecewakan bagi ku Persahabatan jauh lebih penting dari sedekar pacaran. Aku memilih dia menjadi sahabat ku karena persahabatan tidak akan mudah putus, sedangkan pacaran sehari saja bisa seleksai meski alasan tidak nyaman.


Tanggal 20 Januari 2014 aku mendengarkan kabar bahwa Sang Puteri yang dulu telah pergi untuk selama-lamannya, bahkan selama 10 tahun lamanya aku menyimpan rasa ini agar suatu saat nanti bisa mengungkapkan perasaan meski aku tidak pengharapkan lebih. Kini menjadi sebuah penyesalan yang sangat amat terdalam. Padahal aku merasa bahwa sekarang waktu yang tepat untuk ku mengungkapkan semua perasaan ini.


Menurutku aku sudah pantas untuknya dengan membawa segenggap keseksesan untuk bisa dinikmati bersama, meski aku dulu tidak pantas untuknya sekarang aku merasa sangat pantas untuk bisa membahagiakannya tetapi hal itu percuma karena dia sudah pergi "Kalau sejak dulu aku menggungkapkan perasaan ini kira-kira dia marah ngak ya" Jika Dia yang dulu masih hidup apakah dia akan menerima cinta ku, seandainnya aku ungkapkan perasaan ku Padanya sekarang.


Tuhan alangkah bodohnya aku, mengapa tidak dari dulu aku ungkapkan perasaan itu meski dia sudah tahu sejak sebelum pergi tentang perasaan dari tulisan ku, tetapi kami tidak pernah punya kesempatan untuk bertemu. Sang Puteri yang dulu kini sudah pergi untuk selama-lamannya, Mungkin ada benarnya bahwa cinta tidak harus memiliki dari dekat, cukup dari jauh saja, bagi ku pernah Mencintai dan Menyayangi dia saja lebih dari cukup meski tidak memiliki dan tidak akan pernah memiliki Cinta Sang Puteri yang dulu. Semua memang tinggal kenangan yang terindah, yang tersisa adalah penyesalan. Aku tetap menyayangi mu meski engaku telah pergi selamannya terima kasih sudah mengizinkan ku untuk mencintai mu.



Masa lalu adalah masa lalu meski indah ia tetaplah sesuatu yang harus dilalui, begitu juga masa sekarang meski menyiksa harus bisa dilewati agar bisa menjadi Masa Lalu yang Indah, ada harapan baru dimasa depan karena Rencana Alloh akan lebih Indah, Dia Maha Mengetahui segalannya. Aku lebih bahagia jika dia diambil orang dari pada dia diambil Alloh. Jika diambil orang setidaknya masih bisa melihatnya dari kejauhan meski tidak bisa memiliki, tetapi jika diambil oleh Mu Ya Rob untuk sekedar melihatnya saja aku tidak bisa lagi. Setidaknya bahwa aku pernah menyimpan perasaan ini untuknya dan itu bagi ku lebih dari cukup, mungkin perasaan ini akan kubawa juga sampai aku Mati ketika aku juga pergi semoga kisah ini dapat memberikan Inspirasi dan pelajaran jangan sampai kesalahan bodoh seperti itu terjadi pada orang lain.


8 Agustus 2015 tepat pada hari ini saat aku menulis semua kisah ini, sejak puluhan tahun lalu yang ku tahu hari ini adalah ulang tahunnya padahal sebenarnya dia ulang tahun tanggal 03 Agustus. Tetapi aku ingin mengingat hari ini saja yang menjadi ulang tahunnya, yang tersisa adalah Sang Puteri yang sekarang, karena bagi ku yang dulu sudah pergi untuk selamanya. Aku memiliki kesempatan untuk mencintai orang yang sama dikondisi yang berbeda meski rasa itu tidak sebesar dulu tetapi aku tidak ingin Alloh mengambil Dia lagi, cukup sekali saja.


Akan ku gunakan kesempatan ini tanpa menyia-nyiakannya sedikit pun, untuk membahagiakannya, menikahinya, tidak membiarkan Dia sedih lagi, Gemuk bersama, melihat anak tumbuh besar dan Bersama sampai tua nanti. Tetapi untuk bisa mencintai Dia yang sekarang aku butuh waktu dan terus belajar. Satu hal yang pasti aku sangat takut kehilangan Sang Puteri karena Alloh mengambilnya dari Ku karena aku lupa mensyukuri Nikmat itu. Terima kasih Ya Rob atas Luka, Luka dan Luka itu. Aku akan mencoba untuk mencintai Dia seperti dulu lagi. Maaf aku belum bisa memberikan sepenuhnya perasaan ini untuk mu dan akan terus belajar jatuh cinta, lagi, lagi, lagi dan lagi pada orang yang sama berulang kali. I Love You So Much Beb.


Raksasa Dari Jogja


Pertama-tama aku mau ngucapin makasih sama Rahib BBI (udah pada tau dong siapa? hehe) yang udah ngasih buku ini ke aku (oh iya, makasih juga random.org!). tanpa mengurangi rasa hormat ke siapaun, aku bakal mereview buku ini sejujur-jujurnya (baca: sesadis-sadisnya).

Sebelum ngereview buku ini, aku search di Goodreads dulu mengenai rate buku ini. Aku pengen tahu aja gimana penilaian orang yang udah pada baca. Apakah sama dengan pandangan aku atau nggak. Dan ternyata, sama loh! Banyak yang hanya me-rate 2 bintang, bahkan yang rate 1 bintang pun ada. Dan banyak! Ada 1-2 orang yang me-rate bintang 4. Entah apa alasannya me-rate 4. Well, itu selera sih. Tapi, ketika membaca penilaian orang lain di Goodreads itu, aku jadi sedikit lega ternyata nggak Cuma aku yang sesadis itu me-rate 2 bintang. Muhehe. *kibarkan bendera YNWA*

Dari review orang-orang di Goodreads pun aku jadi tahu kalo ternyata si penulis adalah selebtweet. “Jiyah. Pantesan!” Begitu gumamku saat mengetahui kalau Dwitasari ini seorang selebtweet. Bukan underestimate atau apa yah. Belakangan ini kan banyak fenomena buku terbit hanya karena lantaran si penulis itu selebtweet. Yang kebanyakan kita tahu seperti apa UMUMNYA kualitas buku karya selebtweet itu. Aku pernah membaca beberapa buku punya selebtweet.

Penilaian aku rata-rata sama. Well, jam terbang memang nggak bisa dibohongi sih. Sangat disayangkan, padahal Dwita ini mahasiswi jurusan sastra Indonesia UI loh (eh, jaminan gak sih? Gak ya kayaknya). Hehe.

Udah ya. Itu anggap aja pembukaan atau behind the scene. Sekarang mari kita masuk ke review yang sesungguhnya. *tsaaahhh bahasa gue*

Disclaimer : aku nggak akan cerita panjang lebar soal synopsis buku ini. Karena jalan ceritanya terlalu biasa dengan konflik yang biasa pula.

Ceritanya tentang seorang cewek bernama Bianca lulusan SMA yang memutuskan untuk kuliah di Jogja. Bianca ini nggak percaya dengan yang namanya cinta. Ia benci jatuh cinta. Karena menurut dia, yang namanya “jatuh” itu ya sakit. Bapaknya melakukan KDRT terhadap dirinya dan mamanya, sahabatnya mengambil cowok yang disukainya, hal-hal itu membuatnya tidak percaya cinta. Sampai suatu hari di Jogja ia bertemu dengan seorang cowok yang mengasihinya dengan lembut. Bianca mulai membuka hatinya untuk cinta. Namun ternyata cowok itu punya masa lalu yang misterius yang lagi-lagi membuat Bianca terluka dan semakin tidak percaya cinta.

Kesan pertama baca buku ini… mmm keren! Kavernya keren, desain interior bukunya keren, nama tokoh-tokohnya keren. Dan ada sedikit ilustrasi di kop judul setiap bab yang menambah keren. Pokoknya menurut saya ini kaver anak muda banget deh. 1 bintang deh untuk kaver dan fisiknya. Oh iya, plus ada bonus bookmark berbentuk hati yang cukup bagus juga menurutku.

Hal paling menonjol yang aku rasakan saat baca buku ini yaitu logic check di buku ini tuh kayaknya nggak ada deh. Aku jadi bingung sendiri. Buku ini t uh punya editor nggak sih? Di halaman depan sih tertulis siapa “Pemeriksa Aksara”, tapi melihat banyaknya typo yang bukan sekedar typo, bikin aku merasa buku ini pasti nggak melalui proses pengeditan yang baik. Banyak banget hal-hal yang di luar logika menurutku.

Pertama, Bianca ini kan tadinya tinggal sama ortunya. Mamanya setiap hari harus jadi korban kemarahan papanya. Bianca yang menyaksikan itu setiap hari pasti tau gimana menderitanya sang mama karena gak jarang dirinya juga suka jadi sasaran kemarahan papanya. Di halaman awal Bianca terlihat nggak mau pisah dari mamanya. Akan selalu melindungi mama dan lain sebagainya. Eh tapi kok bisa-bisanya dia pas tau pengumuman keterima di kuliah di Jogja teriak seneng banget. Begitu tinggal di Jogja juga dia jarang menelepon mamanya. Maksud aku, aduuuh, kok tega sih ninggalin mamanya sendirian di rumah? Entah ya, kalau aku jadi Bianca, aku pasti gak akan ninggalin mamaku sendirian dengan papa yang temperamen kayak gitu. Plus, Bianca punya adek yang tinggal sama neneknya. Ya masak gak pernah nanya kabar adeknya barang sekali-dua kali. Egois banget.

Kedua, masih soal mamanya. Waktu ditinggal Bianca ke Jogja, mamanya itu bilang masih mau mempertahankan keluarganya. Mama gak mau cerai dari papa. Mama gak akan minta cerai dari papa. Dari sini tuh aku merasa mamanya ini udah cinta banget sama papanya. Um, oke. Wajar. Tapi pas jalan cerita berangsur-angsur maju, mamanya ini plin plan abis. Dia menelepon Bianca meraung-raung katanya udah gak tahan dengan semua ini. Laaahhh… (aku sampe komen : rasalin lo ma!) um, oke deh. Masih maklum. Mungkin mamanya baru sadar kalau papanya itu jahat. Tapi gak berapa lama setelah itu, mamanya labil lagi. Bilang masih sayang sama papa lah atau apalah. Adoooh… Arrrgh! (garuk-garuk dasar laut jawa)

Ketiga, sosok Kevin, sepupu Bianca yang udah deket banget dari kecil. Aduuuh speechless deh sama cara penulis menggambarkan tokoh yang satu ini. Di mata aku, sosok Kevin itu banci dan childish abis. Si Biancanya juga lebay maksimal. Menurut aku, penulis gagal membangun karakter yang ia mau. Seharusnya mungkin Bianca diciptakan sebagai cewek yang dingin dan cuek karena latar belakangnya yang membenci cinta. Tapi di sini, sosok Bianca yang aku dapet malah kekanak-kanakan dan manja. Aku juga melihat Kevin itu sebagai cowok yang sakit jiwa. Cemburuan nggak jelas, padahal bukan pacar Bianca. Sorry to say.

Keempat, hubungan antara Bianca dan Letisha (sahabat baiknya). Aduh ini udah seaneh-anehnya dari yang paling aneh di buku ini. Jadi ada satu setting cerita, di kamar Bianca. Pokoknya mereka lagi membicarakan cowok. Nah, tiba-tiba di Bianca nanya pendapat Letisha soal Joshua. Lethisa ini jawabnya lancer banget. Bianca mikir si Letisha ini suka sama Joshua. Dan bener aja, gak berapa lama, Letisha dan Joshua akhirnya jadian. Terus si Bianca marah. Berpikiran kalau Lethisha nusuk dia dari belakang. Lah? Sumpah bingung aku. Bianca sendiri nggak pernah bilang kalau dia suka Joshua kok. Antara Bianca dan Joshua juga ga pernah ada apa-apa. Malah si Letisha ini sampai dibilang Jalang dan brengsek segala. Jangan salahin Letisha dong. Wong Bianca aja gak pernah ngomong dia suka sama Joshua kok. Aduuuh, lama-lama aku sakit jiwa baca buku ini. Aneh abis. Coba seandainya penulis lebih mengeksplor gimana perasaan Bianca ke Joshua dan gimana hubungan mereka bertiga sebenernya.

Hubungan antara Bianca dan Vanessa, teman sekamarnya waktu ada camp di awal perkuliahan. Kok bisa sih Vanessa ini manggil Bianca dengan sebutan “Mbak”. Padahal kan jelas mereka satu angkatan. Lha wong diospek bareng-bareng gitu loh. Dan Bianca ini judes banget. Sempet negative thinking sama Vanessa. Ga penting banget pokoknya penggambaran sikapnya itu. Pointless. Terus ya bisa-bisanya tau-tau si Bianca manggil Vanessa dengan “Nessa”. Kalau aku ya, aku pasti bakal nanya dulu biasa dipanggil apa. Gak asal sebut nama panggilan aja. Proses-proses kecil kayak gItu yang kurang dijabarkan sama penulis. Yang bikin cerita jadi kurang logis. *abaikan*

Kelima, karena penulis mahasiswi sastra, maka gak heran kalau bahasa yang digunakan di buku ini termasuk nyastra dan indah. Cuma kok yah, jadi terkesan maksa pengen setiap kata jadi indah, alhasil malah jadi annoying buat pembacanya dan terkesan lebay. Coba seandainya sesekali aja penulis menulis sesuatu sastra yang indah itu. Pasti lebih ngena dan berkesan dibanding harus “maksa” nulis di setiap kalimat. Ini bukan buku kumpulan puisi kan?

Keenam, cerita ini terkesan kayak penyanyi yang nyanyi terburu-buru gak sesuai tempo dengan maksud supaya lagunya cepat selesai. Yah, jadinya gitu. Gak dapet emosinya. Datar aja sepanjang baca. Kurang detail gimana awalnya si cowok yang di Jogjabisa naksir sama Bianca, terus kenapa Bianca bisa suka sama Joshua (gebetan jaman SMAnya dulu). Padahal mungkin kalau mau didetail soal itu, bisa jadi sedikit lebih menarik (mungkin) ceritanya.

Ketujuh, (wew banyak amat udah tujuh aja) *elap keringet di dahi*. Aku terganggu dengan kesalahan penggunaan tanda baca. Entah salah, entah gak dan atau kurang tepat ya. Seharusnya ada tanda Tanya, malah jadi tanda titik aja. Yang seharusnya tanda titik, malah jadi tanda seru. Hal-hal kayak gini bukan sepele loh. Karena itu sedikit banyak mempengaruhi imajinasi pembaca dalam menginterpretasikan emosi tokoh-tokohnya. Kemudian pada saat dialog. Sering hanya ditulis begini doang :



“Aku udah lakuin itu, Nessa.”
“Kamu harus tetap berjalan.”
“Enggak peduli hasilnya gimana?”
“Enggak peduli hasilnya gimana!”
“Capek kalau hasilnya nggak berkembang, Nes”
“Lebih capek lagi kalau jalan di tempat.”



Aduh, bahasa chatting banget gak sih? Daripada ngerepotin pakai tanda “petik” segala, mending ditulis gini aja.



Bianca : Aku udah lakuin itu, Nessa
Nessa : Kamu harus tetap berjalan
Bianca : Enggak peduli hasilnya gimana?
Nessa : Enggak peduli hasilnya gimana!



See? Toh sama-sama aja. Kelihatannya sepi malah kalau ditulis pakai tanda kutip begitu. Kayak kehabisan kata-kata mau dikasih embel-embel apa setelah tanda kutip. Biasanya kan “Ia berkata” atau “katanya”. Dan itu hampir di setiap dialog. Entah malas, entah miskin. Hhh!
Juga ketidakkonsistenan adanya footnote. Setting di jogja membuat dialog dalam buku ini sedikit mengandung bahasa daerah. Di awal-awal, disertakan footnote yang penulisannya agak gak biasa.



1. Bahasa jawa: sendhiko dalam bahasa Indonesia berarti bersedia
1. Bahasa Jawa : lali nek dalam bahasa Indonesia berarti lupa kalau
2. Bahasa jawa : piye dalam bahasa Indonesia berarti bagaimana



Nyeh. Capek gak sih bacanya? Lebih praktis kalau tinggal nulis aja langsung

1. Bersedia
1. Lupa kalau
2. Bagaimana


Entah apa itu justru penulisan footnote yang bener apa gimana, yang jelas baru kali ini aku baca footnote yang se-“menggurui” itu. Plus ga konsisten. Ke halaman belakang dan makin ke belakang, ada dialog yang pakai bahasa jawa juga tapi aku ga menemukan footnote halaman itu. Sangat disayangkan ada kata-kata “Asu” dalam dialog tapi gak ditulis di footnote apa artinya. Hehehe. Itu juga typo tuh nulis footnotenya. Udah footnote 1, kok nomor 1 lagi. Editornya manaaaaaaa???!!!

Dah ah, cuapek. Btw. Ini review terpanjang dalam sejarah yang pernah aku buat. Hahaha. Emang yah orang tuh kalo caci maki emang paling jago deh. Muhahaha!

Novel ini kalau dibaca pada waktu aku umur 15-16 mungkin akan aku bilang bagus yah. Tapi di umur yang sudah tidak lagi muda ini, agak nyesel juga baca buku ini. Malah jadi nyinyir. Hahahay!

At the end, tetep sih aku kasih 2 dari 5 bintang untuk kavernya yang oke dan penggunaan kata-kata yang puitis. Tapi inget, puitis kalo terlalu banyak, jatohnya malah jadi norak. Emang kan, yang serba “terlalu” itu nggak baik.

Demikianlah Sedikit Contoh Novel Cinta dari Berbagai sumber, Mudah-mudahan anda semuanya menikmati dan terhibur. Terimakasih