Hikmah Puasa Ramadhan | Bacaan Doa Buka Puasa | Doa Menyambut Bulan Puasa (Ramadhan)

Hikmah Puasa Ramadhan | Bacaan Doa Buka Puasa | Doa Menyambut Bulan Puasa (Ramadhan)

Hikmah Puasa. Sahabat Warna Sehubungan Datangnya Bulan Ramadhan dengan itu marilah kita persiapkan diri, dengan cara mengevaluasi kualitas ibadah shaum kita di tahun-tahun sebelumnya, untuk segera dilakukan koreksi di tahun sekarang andaikata kita masih diberi kesempatan untuk melaksanakannya pada tahun ini, sehingga shaum di tahun ini merupakan shaum terakhir yang paling baik dari sekian banyak ibadah shaum yang telah kita laksanakan sepanjang hayat, karena kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih dapat kesempatan untuk melaksanakannya atau tidak. Hal itu merupakan perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah swt.


Hikmah Puasa Ramadhan

Dilihat dari sisi penamaan, bulan Ramadhan tidak ada bedanya dengan bulan-bulan yang lain.. Abul Qasim Al-Husain bin Muhamad, yang populer dengan sebutan Ar-Raghib al-Asfahani, pada kitabnya al-mufradat fi gharibil quran, hal. 203, memberikan penjelasan bahwa Ramadhan berasal dari kata ar-Ramdhu, artinya: شدَّةُ وَقْعِ الشَّمْسِ yaitu sangat panasnya matahari (panas panon poe kacida nyebretna). 

Menurut al-Mawardi (Tafsir Al-Qurthubi, II:291), pada masa jahiliyyah bulan ini bernama natiq (melelahkan). Kemudian diganti oleh generasi berikutnya menjadi Ramadhan. Adapun penamaan bulan ini dengan Ramadhan, karena berbagai latar belakang.

1. kondisi cuaca
Menurut Az-Zamakhsyari, orang-orang Arab mengambil nama bagi bulan-bulan itu dari bahasa terdahulu (buhun). Orang Arab jahiliyyah menamai bulan-bulan itu disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada saat itu. Karena pada waktu itu cuaca/udara sangat panas, maka bulan ini oleh mereka diberi nama Ramadhan. Rawa-i’ul Bayan, I:190. 

2. Kondisi tubuh
Ada yang berpendapat bulan ini disebut Ramadhan karena pada bulan ini tenggorokan terasa panas karena sangat haus. Tafsir Al-Qurthubi, II:291


3. Kondisi batin
Ada yang berpendapat disebut Ramadhan karena pada bulan ini hati-hati manusia menaruh perhatian pada “panasnya” nasehat dan akhirat. Tafsir Al-Qurthubi, II:291

4. Situasi
Ada yang berpendapat disebut Ramadhan karena pada bulan ini orang-orang pada masa itu mempertajam senjata mereka dengan cara dibakar untuk persiapan perang pada bulan syawal. Tafsir Al-Qurthubi, II:291

5. Keyakinan
Sebagian ulama menyatakan bulan ini disebut Ramadhan karena orang-orang pada masa itu berkeyakinan bahwa bulan ini akan membakar dosa-dosa oleh amal shalih (sebagaimana matahari membakar tanah).

Ada yang berpendapat bahwa Ramdhan itu salah satu di antara asmaul husna (nama Allah), karena itu tidak boleh menyebut Ramadhan saja, tapi harus “bulan Ramadhan”. Pendapat ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Sahabat Abu Hurairah; Ad-Dailami dari sahabat Abu Hurairah dan Aisyah:


لا تقولوا رمضان فإن رمضان اسم من أسماء الله ولكن قولوا شهر رمضان

Tetapi hadis ini dha’if, karena diriwayatkan melalui seorang rawi bernama Najih bin Abdurrahman, kun-yah (panggilan) nya Abu Ma’syar. Kata Al-Bukhari, “Dia munkarul hadis” Tahdzibul Kamal, XXIX:327.

Sehubungan dengan hal itu, Imam Al-Bukhari telah membuat bab dalam Shahih-nya dengan judul:

بَابٌ هَلْ يُقَالُ رَمَضَانُ أَوْ شَهْرُ رَمَضَانَ وَمَنْ رَأَى كُلَّهُ وَاسِعًا وَقَالَ النَّبِيُّ (صلعم) مَنْ صَامَ رَمَضَانَ

Judul ini dibuat oleh Imam Al-Bukhari sebagai bantahan terhadap hadis yang melarang menyebut kata Ramadhan saja, tapi harus “bulan Ramadhan”. Menurut beliau boleh-boleh saja menyebut Ramadhan atau bulan Ramadhan. Karena Nabi sendiri pernah menyebutkan keduanya.

Dengan keterangan-keterangan di atas, maka dari segi penamaan bulan Ramadhan itu tidak memiliki kelebihan apapun dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, sama halnya dengan Januari pada bulan masehi. Karena itu, perlu kita kaji secara cermat, dari sisi mana bulan Ramadhan memiliki kelebihan dibandingkan dengan bulan lain. Ada apa pada bulan Ramadhan ? Pada umumnya kaum muslimin memiliki keyakinan bahwa di antara keutamaan bulan Ramadhan itu karena awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah, dan akhirnya ‘itqun minanar (pelindung dari api neraka). Bahkan tidak sedikit yang berkayakinan bahwa melaksanakan amalan sunatpun ganjarannya seimbang dengan yang wajib. Karena itu kaum muslimin senantiasa berlomba untuk memperbanyak amalan-amalan sunat pada bulan tersebut. Hemat kami, keyakinan itu tumbuh karena didasarkan atas keterangan-keterangan yang sebenarnya tidak bersumber dari Rasullah saw. antara lain riwayat Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi, dan Al-Haitsami yang menerangkan bahwa bulan Ramadhan itu memiliki keutamaan daripada bulan lainnya, karena

a. Bulan rahmat di 10 hari pertama, maghfirah (ampunan) di 10 hari kedua, dan ‘itqun minanar (pembebasan dari api neraka) di 10 hari terakhir,
b. Ganjaran amalan sunat yang dilaksanakan pada bulan itu seimbang dengan ganjaran amalan wajib.
c. Ganjaran satu amalan wajib yang dilaksanakan pada bulan itu seimbang dengan ganjaran tujuh puluh amalan wajib.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ. رواه ابن عدي و العقيلي و الديلمي

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ’Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah magfirah, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka”. H.r. Ibnu Adi, Al-Uqaili, dan Ad-Dailami

Keterangan:
Menurut penelitian para pakar, hadis tersebut tidak benar bersumber dari Rasul dilihat dari 2 aspek: Pertama, kualitas rawi atau wartawan sebagai sumber informasi itu bernama Ali bin Zaed bin Jud’an yang buruk hapalan/pelupa dan Yusuf bin Ziad an-Nahdi yang biasa berdusta. Kedua, dilihat dari isi berita sebagai bukti kesalahan berita yang disampaikan oleh kedua wartawan tersebut yaitu bertentangan dengan firman Allah yang menerangkan bahwa kelipatan ganjaran itu bukan hanya terjadi pada bulan Ramadhan tetapi juga di hari-hari lain di luar bulan Ramadhan:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (الأنعام :160)

Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). Q.s. Al-An'am:160

Bahkan oleh Rasul dinyatakan bahwa pahala satu amal kebaikan itu adalah 10 hingga 700 kali lipat, baik di Ramadhan maupun diluar Ramadhan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَعَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ وَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ – رواه مسلم –


عَنْ خُرَيْمِ بْنِ فَاتِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ كُتِبَتْ لَهُ بِسَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ – رواه الترمذي –

Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut, kami berkesimpulan bahwa bulan Ramadhan tidak memiliki keutamaan-keutamaan seperti yang diterangkan dalam hadis tadi.

Ada pula yang berkeyakinan bahwa keutamaan bulan Ramadhan itu terlihat dari aspek penyambutan, mulai dari keramas hingga berdoa khusus menyambut kedatangan Ramadhan dengan doa yang terkenal:

اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً
Setelah 4 tahun kami menelusuri jejak sumber doa itu, kami temukan beberapa redaksi yang berbeda, antara lain


عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ : اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ لِي مُقَبَّلاً .رواه الديلمي, الفردوس بمأثور الخطاب 1:471

عن عُبَادَةَ بن الصَّامت رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يُعَلمُنَا هؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ: اللَّهُمَّ سَلمْني لِرَمَضَانَ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ لِي، وَسَلمْهُ لِي مُتَقِبَّلاً . (طب فِي الدُّعَاءِ والدَّيْلمِي). جامع الأحاديث والمراسيل 20 : 76 -

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ يُعَلِّمُنَا أَنْ نَقُوْلَ اللّهُمَّ سَلِّمْنَا لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ مِنَّا وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلاً - رواه عبد الكريم بن محمد الرافعي القزويني , التدوين في أخبار قزوين 3: 424 –

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا هؤلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً.رواه إبن شبغة عبد الملك بن علي – سير أعلام النبلاء 19 : 50 –51

اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً

Keterangan:


Hadis tentang berdoa menyambut Ramadhan di atas semuanya bersumber dari Abu Ja’far ar-Razi, namanya Isa bin Abu Isa Mahan. “Dia buruk hafalan/pelupa”. Abu Zur’ah berkata, “Sering ragu-ragu (dalam meriwayatkan)”. Al-Mughni fid Dhu’afa, II:500. Di antara bukti buruk hapalannya dia menyampaikan doa yang sama namun dengan redaksi/kalimat yang berbeda-beda.

Sedangkan keterangan terakhir dengan lafal wasallimhu minni mutaqabbalan tidak jelas riwayat siapa.
Demikian beberapa keterangan yang perlu disampaikan sebagai bahan evaluasi untuk melaksanakan ibadah shaum di bulan Ramadhan tahun ini.

Berdoa ketika berbuka shaum
عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ – رواه أبو داود –

Artinya: "Ya Allah, hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkaulah aku berbuka," H.r. Abu Daud dari Mu’az bin Zuhrah. H.r. Abu Daud, Sunan Abu Daud II:528.


Keterangan:
Muadz bin Zuhrah bukan seorang sahabat melainkan seorang tabi'in. Dengan cara periwayatannya ia disangka seorang sahabat. Karena itu hadis ini dhaif mursal


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَلِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Dari Anas bin Malik, ia mengatakan, 'Rasulullah saw. apabila berbuka shaum mengucapkan, Dengan nama Allah, ya Allah, hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkaulah aku berbuka, " H.r. At-Thabrani, Al-Mu'jamul Ausath VIII:270.


Keterangan:
Hadis ini dhaif, bahkan dikategorikan sebagai hadis maudhu'. Dan kalaupun tidak termasuk hadis maudhu', hadis matruk sudah tentu. Pada sanadnya terdapat seorang rawi bernama Daud bin Az-Zibirqan. Menurut Ya'qub bin Syu'bah dan Abu Zur'ah, "ia itu matruk (tertuduh dusta)". Sedangkan Ibrahim bin Ya'qub al-Jurjani mengatakan, "Kadzdzab (pendusta)" (Tahdzibul Kamal XIII:394-395).
 
عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ قال :كَانَ النَّبِىُّ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْ قِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيمُ

Dari Ibnu Abas, ia berkata, "Nabi saw. apabila berbuka mengucapkan : Hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkau aku berbuka. Maka terimalah dariku karena sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui," H.r. Ath-Thabrani, Al-Mu'jamul Kabir XII:146

Keterangan:
Hadis ini juga dhaif bahkan palsu, karena terdapat seorang rawi bernama Abdul Malik bin Harun. Abu Hatim berkata, "Ia itu matruk, menghilangkan hadis". Yahya bin Main mengatakan, "Ia itu kadzdzab". Ibnu Hiban mengatakan, "Ia itu membuat hadis palsu". (Lisanul Mizan IV:71).

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَى رِزْ قِكَ أَفْطَرْتُ

Keterangan:
Redaksi dengan tambahan wabika amantu sampai saat ini tidak diketahui riwayat siapa (teu daif-dhaif acan)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ – رواه أبو داود والنسائي في الكبرى والبيهقي والحاكم والدارقطني –

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Nabi saw. apabila berbuka mengucapkan "Telah hilang dahaga, terbasahi tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala insya Allah," H.r. Abu Daud, Aunul Ma'bud VI:482, an-Nasai dalam as-Sunanul Kubra, al-Baihaqi, al-Hakim, dan ad-Daraquthni

Keterangan:

Kata ad-Daraquthni, “Sanad hadis ini hasan” Sunan ad-Daraquthni, II:185. Redaksi inilah yang dianjurkan untuk digunakan apabila kita berdoa pada waktu berbuka shaum.

Adapun keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan berdasarkan hadis sahih adalah sebagai beikut:

a. Bulan penuh berkah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا قَدْ حُرِمَ. رواه احمد
Dari Abu Hurairah, ia berkata,’Ketika bulan Ramadhan tiba, Rasulullah saw. bersabda,’Sungguh Ramadhan telah datang kepada kamu, yaitu bulan yang diberkahi, Allah telah fardukan shaum bagi kamu, pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu Jahanam dikunci, dan setan-setan diikat. Pada bulan itu terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak mendapatkan kebaikannya, sungguh ia tidak akan mendapatkannya”. (HR. Ahmad)

b. Kifarat dosa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ. رواه مسلم

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda,’Salat yang lima, dari Jum’at ke Jum’at, dan dari Ramadhan ke Ramadhan itu menjadi kifarat (penghapus dosa) selama menjauhi dosa-dosa besar. H.r. Muslim

c. umrah pada bulan itu sebanding dengan haji

عَنْ عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يُحَدِّثُنَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِامْرَأَةٍ مِنَ الْأَنْصَارِ سَمَّاهَا ابْنُ عَبَّاسٍ فَنَسِيتُ اسْمَهَا مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّي مَعَنَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ لَنَا إِلَّا نَاضِحَانِ فَحَجَّ أَبُو وَلَدِهَا وَابْنُهَا عَلَى نَاضِحٍ وَتَرَكَ لَنَا نَاضِحًا نَنْضِحُ عَلَيْهِ قَالَ فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً. مسلم

Dari Atha, ia berkata, “Aku mendengar Ibnu Abas menceritakan kepada kami, ‘Rasulullah saw. bersabda kepada seorang perempuan dari kaum Anshar yang diberinama oleh Ibnu Abbas, lalu aku lupa namanya, “Apa yang menghalangi kamu uuntuk melaksanakan ibadah haji bersama kami?” Ia menjawab, “Yang kami miliki hanyalah dua ekor unta. Ayah dan anaknya menunaikan iabadah haji dengan berkendaran satu unta dan ia meninnggalkan bagi kami satu unta untuk kami tunggangi.” Beliau bersabda, “Apabila bulan Ramadhan tiba, maka umrahlah kamu karena umrah pada bulan itu sebanding dengan ibadah haji.”H.r. Muslim

Dan dalam riwayat Al Bukhari


عَنْ عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا يُخْبِرُنَا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِامْرَأَةٍ مِنَ الْأَنْصَارِ… قَالَ فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِي فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ حَجَّةٌ أَوْ نَحْوًا مِمَّا قَالَ. البخاري


Dari Atha, ia berkata,’Aku mendengar Ibnu Abbas mengabarkan kepada kami, bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada seorang perempuan dari kaum Anshar…Beliau bersabda,’Apabila bulan Ramadhan, berumrahlah engkau karena umrah pada bulan Ramadhan itu adalah haji atau sebanding dengan apa yang beliau katakan (haji). H.r. Al Bukhari

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ…. رواه البخاري
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda,’Setiap amal Ibnu Adam adalah baginya terkecuali saum, karena ia itu bagiKu dan Aku yang akan membalasnya. Shaum adalah perisai…H.r. Al Bukhari


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَابَعَهُ سُلَيْمَانُ بْنُ كَثِيرٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ. رواه البخاري


Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda,’Siapa yang shaum bulan Ramadhan dengan niat dan tekad keimanan dan mengharap ridla Allah, akan dihapus yang telah lalu. H.r. Al Bukhari


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيمَةٍ فَيَقُولُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ… رواه مسلم


Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah saw. memberikan semangat pada qiamu Ramadhan tanpa memerintahkan mereka dengan satu kemestian, ia bersabda, ‘Siapa yang mendirikan Ramadhan dengan disertai keimanan dan ihtisab, maka akan diampuni baginya dosa yang telah lalu… H.r. Muslim.

ورمضان مأخوذ من رمض الصائم يرمض إذا حر جوفه من شدة العطش والرمضاء ممدودة شدة الحر ومنه الحديث صلاة الأوابين إذا رمضت الفصال خرجه مسلم ورمض الفصال أن تحرق الرمضاء أخفافها فتبرك من شدة حرها فرمضان فيما ذكروا وافق شدة الحر فهو مأخوذ من الرمضاء قال الجوهري وشهر رمضان يجمع على رمضانات وأرمضاء يقال إنهم لما نقلوا أسماء الشهور عن اللغة القديمة سموها بالأزمنة التي وقعت فيها فوافق هذا الشهر أيام رمض الحر فسمي بذلك وقيل إنما سمي رمضان لأنه يرمض الذنوب أي يحرقها بالأعمال الصالحة من الإرماض وهو الإحراق ومنه رمضت قدمه من الرمضاء أي احترقت وأرمضتني الرمضاء أي أحرقتني ومنه قيل أرمضني الأمر وقيل لأن القلوب تأخذ فيه من حرارة الموعظة والفكرة في أمر الآخرة كما يأخذ الرمل والحجارة من حر الشمس والرمضاء الحجارة المحماة وقيل هو من رمضت النصل أرمضه وأرمضه رمضا إذا دققته بين حجرين ليرق ومنه نصل رميض ومرموض عن ابن السكيت وسمي الشهر به لأنهم كانوا يرمضون أسلحتهم في رمضان ليحاربوا بها في شوال قبل دخول الأشهر الحرم وحكى الماوردي أن اسمه في الجاهلية ناتق وأنشد للمفضل وفي ناتق أجلت لدى حومة الوغى وولت على الأدبار فرسان خثعما و شهر بالرفع قراءة الجماعة على الإبتداء والخبر الذي أنزل فيه القرآن أو يرتفع على إضمار مبتدأ المعنى المفروض عليكم صومه شهر رمضان أو فيما كتب عليكم شهر رمضان ويجوز أن يكون شهر مبتدأ و الذي أنزل فيه القرآن صفة والخبر فمن شهد منكم الشهر وأعيد ذكر الشهر تعظيما كقوله تعالى الحاقة ما الحاقة وجاز أن يدخله معنى الجزاء لأن شهر رمضان وإن كان معرفة فليس معرفة بعينها لأنه شائع في جميع القابل قاله أبو علي وروى عن مجاهد وشهر بن حوشب نصب شهر ورواها هارون الأعور عن أبي عمرو ومعناه إلزموا شهر رمضان أو صوموا و الذي أنزل فيه القرآن نعت له ولا يجوز أن ينتصب بتصوموا لئلا يفرق بين الصلة والموصول بخبر أن هو خير لكم الرماني يجوز نصبه على البدل من قوله أياما معدودات الثانية واختلف هل يقال رمضان دون أن يضاف إلى شهر فكره ذلك مجاهد وقال يقال كما يقال الله تعالى وفي الخبر لا تقولوا رمضان بل انسبوه كما نسبه الله في القرآن - القرطبي 291 -2: 

Demikianlah Kajian yang dapat admin sajikan pada kesempatan kali ini Mengenai Hikmah Puasa dan Doa Menyambut Darangnya Bulan Puasa mudah-mudahn bermanfaat sekaligus menambah pengetahuan tentang Puasa (shaum) Terimakasih.

Posted by Fitri Jahe
Warna Sahabat Updated at: Sunday, April 15, 2018