DOA BUKA PUASA

Doa Buka Puasa. Sahabat Warna kali ini admin akan sedikit membahas mengenai Bacaan Doa Buka Puasa (shaum). Ada beberapi referensi terkait doa berbuka puasa, Untuk lebih jelasnya dan menjadi sedikit tahu  mengingatkan agar tidak lupa lagi dan salah melafalkan doa buka puasa tersebut. doa Buka Puasa yang admin akan sajikan buat anda semuanya mudah-mudah bermanfaat.


Keutamaan Berdoa 

Seperti yang dijelaskan Dalam Alquran, Allah swt berfirman :

وَإِذَاسَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّىفَإِنِّىقِرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَالدَّاعِى إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبوُالِى وَلْيُؤْمِنُوابِىلَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (jawablah) bahwa Aku ini Maha Dekat. Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk." Q.s. Al-Baqarah:186

Ayat tersebut ditempatkan di antara ayat-ayat shaum, namun ia tidak berbicara tentang shaum. Penempatan atau penyisipan ayat itu pada pembahasan tentang shaum tentu bukan suatu kebetulan ataupun ketidaksengajaan, namun mempunyai rahasia atau maksud tersendiri. Hemat kami ayat tersebut menjadi dilalatul isyarah (keterangan berbentuk isyarat) bahwa kaum mukminin sangat dianjurkan berdoa di bulan Ramadhan, karena bulan Ramadhan adalah saat diijabahnya doa, terutama saat berbuka shaum.. Hal itu sebagaimana diterangkan oleh Abdullah bin Amr bin al-Ash bahwa Rasulullah saw. bersabda 


إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَاتُرَّدُ

"Sesungguhnya bagi orang yang shaum, ketika ia berbuka, ada satu doa yang pasti diijabah " H.r. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II:350.
Hadis tersebut diriwayatkan pula oleh al-Hakim, al-Mustadrak I:583, al-Baihaqi, Syu’abul Iman III:407, al-Mundziri, at-Targhib wat Tarhib II:53, Abu Daud at-Thayalisi, Musnad at-Thayalisi, hal. 229, dengan sedikit perbedaan redaksi.
 
Hadis di atas menunjukkan bahwa pada bulan Ramadhan itu ada waktu yang lebih dianjuran untuk berdoa, yakni saat berbuka shaum. Namun yang sering menjadi pertanyaan, apakah redaksi doa pada waktu itu manshush (ditentukan) ataukah ghair manshush (tidak ditentukan). Inilah permasalahan yang perlu dikaji secara mendalam.
Redaksi Doa Berbuka Shaum


Berdasarkan penelitian kami, hadis-hadis tentang berdoa ketika berbuka shaum diriwayatkan oleh sekitar 12 mukharrij (pencatat hadis) dengan redaksi sebagai berikut:


أَنَّ النَّبِيَ r كانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ.

Sesungguhnya Nabi saw. apabila berbuka, beliau mengucapkan, “Ya Allah, hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkaulah aku berbuka"


Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Sunan Abu Daud, I: 529, Al Baihaqi, As-Sunanul Kubra, IV: 239, dan Syu’abul Iman, III : 407, dari Muadz bin Zuhrah. Ibnu Abu Syaibah, al-Mushanaf, II : 344 dari Abu Hurairah, dan Ad-Daraqutni, Sunan Ad-Daraquthni, II : 185 dari Ibnu Abas. Namun pada riwayat At-Thabrani, al Mu’jamul Kabir XII : 146, dari Ibnu Abas terdapat tambahan fataqabbal minni innaka antas sami’ul ‘aliim, dari Abu Zuhrah. Sedangkan pada riwayat At-Thabrani lainnya (Al-Mu’jamu As Shaqir, II : 133, Al Mu’jamu Al Ausat, VIII : 270) dari Anas bin Malik, terdapat tambahan “bismillah” di awalnya.


Hadis tersebut diriwayatkan pula oleh Al-Harits bin Abu Usamah dan Al-Haitsami dari Ali bin Abu Thalib, dengan redaksi

قَالَ لِيْ رَسُولُ اللهِ r يا عَلِيُ … إِذَا كُنْتَ صَاِئمًا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَقُلْ بَعْدَ اِفْطَارِكَ اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَلْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ تُكْتَبُ لَكَ مِثْلَ مَنْ كَانَ صَاِئمًا مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْتَقَصَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئًا…


“Rasulullah saw. berkata kepadaku, ‘Ya Ali… Apabila engkau shaum pada bulan Ramadhan maka ucapkanlah (berdoalah) setelah kamu berbuka, ’ Ya Allah, hanya karena Mu aku shaum, hanya kepada-Mu aku bertawakal, dan atas rezeki-Mu aku berbuka,’ maka akan dicatat bagimu pahala seperti pahala yang shaum tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka…” (Musnad al- Harits [Zawaid Al Haitsami] I : 526/CD al-Maktabah al-Alfiyah)

b) كَانَ رَسُولُ الله r إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: الحَمْدُ للهِ الَّذي أَعَانَنِي فَصَمْتُ، وَرَزَقَنِي فأفْطَرْتُ.‏



Rasulullah saw. apabila berbuka, beliau berdoa, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepadaku, maka aku shaum, dan telah memberi rezeki kepadaku, maka aku berbuka’.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’abul Iman, III : 407. Dari Muadz bin Zuhrah.

Berdasarkan penelitian kami, hadis-hadis tentang berbuka shaum dengan redaksi di atas tidak ada satu pun yang sahih, karena itu tidak dapat diyakini sebagai redaksi doa yang diucapkan oleh Nabi saw. Adapun keterangan tentang kedaifan hadis-hadis di atas telah diterangkan oleh Tim Hadis Daif, pada al Qudwah No. 43, rubrik Hadits Dhaif, hal. 33-36. Sementara doa yang memakai tambahan kalimat wabika amantu

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَىرِزْ قِكَ أَفْطَرْتُ


tidak didapatkan satu riwayat pun walaupun yang da'if.


Kemudian kami temukan pula hadis lain dengan redaksi sebagai berikut:



Sedangkan tentang berdoa ketika berbuka shaum dengan redaksi
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ


Diriwayatkan oleh Abu Daud, Sunan Abu Daud, II : 529, Al-Hakim, al-Mustadrak, I : 422, Al-Baihaqi, as-Sunanul Kubra, II : 255, Ad-Daraqutni, Sunan ad-Daraquthni, II : 185, An Nasai, as-Sunanul Kubra, II:255, An-Nasai, Amalul Yaumi wal Lailah, I: 268/CD al-Maktabah al-Alfiyah, dan Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, III : 407, secara mualaq.


Walaupun hadis di atas dicatat pada tujuh kitab, namun semuanya melalui rawi bernama Marwan bin Salim al-Muqaffa. Ibnu Hajar, pada kitab Taqribut Tahdzib (terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1995, II:171, No. biografi: 6590) menulis al-Muqaffa - biqaf, tsumma fa tsaqilah -; Lihat juga Lisan al-Mizan, VII:382 dan Tahdzibut Tahdzib, X : 93. Demikian pula menurut Al-Bukhari pada at-Tarikhul Kabir, VII:374; Al-Mizzi pada Tahdzibul Kamal, XXVII :390-392; Adz-Dzahabi pada Mizanul I’tidal, IV : 91 dan al-Kasyif, III : 142; Ibrahim bin Muhamad al-Halbi pada al-Kasyful Hatsits, 1987:255; Ibnu Hiban, pada Kitab ats-Tsiqat III:54. Namun pada Taqribut Tahdzib, terbitan Dar al-Fikr, Beirut, 1995, II:577, No. biografi: 6841 dan Dar al-Rasyid, Syria, 1986, hal. 526, No. biografi 6569, tertulis al-Mufaqqa (bifa, tsumma qaf tsaqilah). Sedangkan pada Faidhul Qadir II:172, Abdurrauf al-Manawi menyebut al-Muqni’i. menyebut Marwan bin al-Muqaffa.


Marwan memiliki seorang guru bernama Abdullah bin Umar (sahabat Nabi) dan dua orang murid bernama (a) al-Husain bin Waqid dan (b) ‘Azrah bin Tsabit al-Anshari. Sejauh penelitian kami, rawi ini tidak dikenal kecuali pada hadis ini saja. Meskipun dimuat pada berbagai kitab rijalul hadits, namun tidak ada seorang ulama pun yang men-ta’dil dan men-jarh-nya. Kami tidak habis pikir, kenapa ulama setingkat Al-Bukhari, Al-Mizzi, dan Adz-Dzahabi, tidak berkomentar apapun terhadap rawi ini, padahal rawi ini dicatat pada kitab mereka.


Kemudian kami berusaha untuk mengetahui sikap Ibnu Hajar, sebagai seorang ahli hadis abad XII, terhadap Marwan dan periwayatannya. Pada berbagai kitab rijal hadis yang disusunnya, beliau tidak berkomentar. Namun hanya menerangkan sikap Ibnu Hiban pada rawi tersebut. Pada kitabnya Lisanul Mizan II:382, beliau menyatakan, “Wawatsaqqahubnu Hiban (dia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hiban)” Sedangkan pada kitabnya Tahdzibut Tahdzib, X : 93, beliau menyatakan, “Dzakarahubnu Hibana fis Tsiqat (Ibnu Hiban menerangkannya pada kitab at-Tsiqat)”.


Sebagaimana telah kami kemukakan pada al Qudwah No. 39, bahwa untuk menetapkan status rawi yang majhul, Ibnu Hiban memiliki kaidah atau standar tersendiri yang tidak sesuai dengan standar umum para ulama, yaitu dengan memperhatikan siapa guru atau muridnya. Apabila murid atau gurunya da’if, maka orang tersebut benar-benar majhul menurut beliau. Sedangkan apabila murid atau gurunya itu tsiqat, maka orang tersebut tidak majhul. kaidah atau standar Ibnu Hiban, justru ditolak oleh Ibnu Hajar dengan menyatakan “Pendapat Ibnu Hiban ini –yaitu seorang rawi bila dinafikan majhul ain-nya maka rawi itu termasuk adil, selama tidak jelas jarh-nya- adalah pendapat yang mengherankan, berbeda dengan madzhab jumhur. Dan ini metode Ibnu Hiban pada kitab-nya at-Tsiqat. Dengan demikian, apabila ada keterangan bahwa seorang rawi watsaqahub hiban atau wadzakarahubnu hibban fikitabi at-tsiqat itu menunjukkan bahwa terjadi perbedaan pendapat di antara ulama dalam menilai rawi seperti itu, yakni Ibnu Hiban menerimanya sedangkan imam yang lain menolaknya. (lihat, Muqaddimah al Majruhin, I:huruf lam)


Namun dalam menyikapi Marwan yang majhul, Ibnu Hajar yang dikenal sangat kritis terhadap Ibnu Hiban, justru meruju’ pada sikap Ibnu Hiban sendiri.


Sedangkan pada kitabnya Taqribut Tahdzib (II:171, No. biografi: 6590), Ibnu Hajar menyatakan maqbul


Adapun tentang ungkapan maqbul Ibnu Hajar ditujukan terhadap rawi yang sedikit hadisnya serta tidak ada yang men-jarh (mencela) juga yang men-ta’dil. Jika ada mutabi’ (periwayatan rawi lain sebagai penguat), rawi itu dinilai maqbul. Namun jika tidak ada, rawi itu dikategorikan layyinul hadits (tidak dapat dipakai hujjah bila meriwayatkan hadis sendirian) oleh Ibnu Hajar (lihat, Taqribut Tahdzib, I:8; Syifa-ul ‘Alil, I:301). Dengan demikian, pernyataan maqbul Ibnu Hajar itu menunjukkan bahwa Marwan tidak maqbul, karena sampai saat ini kami tidak menemukan jalur periwayatan lain, sebagai mutabi’ atau syahid bagi Marwan. Kemudian dengan memperhatikan jumlah murid Marwan hanya dua orang, menurut kaidah Ibnu Hajar, Marwan dikategorikan sebagai rawi mastur atau majhul hal. Dan apabila hadis dari rawi mastur ini diriwayatkan pula oleh rawi lainnya, maka derajatnya menjadi hasan lighairi (Lihat, Taqribut Tahdzib, I:8; Nuzhatun Nazhar, hal. 24/Manhaj Dirasah al-Asanid wal Hukmu ‘alaiha, 1997:44)


Kemudian dalam menyikapi hadis di atas, Ibnu Hajar mengutip pernyataan Ad-Daraquthni bahwa sanad hadis itu hasan. Sedangkan dalam menyikapi doa lainnya, beliau bersikap tegas dengan menyatakan kedaifannya (Lihat, Talkhisul Habir, II:802). Sikap Ibnu Hajar terhadap pernyataan Ad-Daraquthni ini diterangkan oleh Al-Albani dengan ungkapan Waaqarrahul hafizh fit talkhis (Pernyataan Ad-Daraquthni diakui oleh al-Hafizh pada kitab at-Talkhis) (Lihat, Irwa-ul Ghalil, IV:39). Setelah sekian lama mempelajari kaidah sahih dan hasan versi Ibnu Hajar, kami menjadi tidak paham ketika Ibnu Hajar menyetuji pernyataan hasan Ad-Darquthni. Padahal Ibnu Hajar sendiri mensyaratkan bahwa periwayatan rawi mastur terangkat derajatnya menjadi hasan jika ada mutabi’. Dalam hal ini beliau dan Ad-Daraquthni tidak mengemukakan satu pun mutabi’ bagi periwayatan Marwan di atas.


Sikap Ad-Daraquthni dan Ibnu Hajar terhadap periwayatan Marwan di atas dijadikan rujukan oleh para ulama generasi selanjutnya seperti As-Syaukani dalam Nailul Authar, Muhamad Syamsul Haq dalam Aunul Ma’bud, Abdurrauf al-Manawi dalam Faidhul Qadir, Muhamad bin ‘Alan as-Shidiqi dalam al-Futuhatur Rabbaniyyah Syarah Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi, Syekh Manshur Ali Nashief dalam at-Taj lijami’ al-Ushul, Syekh Nashirudin al-Albani dalam Irwaul Ghalil, Dr. Syu’aib al-Arnauth dalam tahqiq Zadul Ma’ad karya Ibnu Qayyim, Syu’abul Iman, Jami’ul Ushul karya Ibnul Atsir, Syarhus Sunnah karya al-Baghawi, dan Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu.


Sikap yang paling mengagumkan terhadap periwayatan Marwan di atas justru ditunjukan oleh Imam As-Suyuthi pada kitabnya al-Jami’us Shaghir dengan menulis rumus صح , yang berarti hadis dzahabad zhama adalah sahih menurut beliau. Padahal kriteria shahih yang ditetapkan oleh beliau sendiri rawi-rawinya harus ‘adil dan tammud dhabti (Lihat, Tadribur Rawi, hal. 31; Alfiyah as-Suyuthi, hal. 3) Sedangkan pada kitab al-jami’ li Ahaditsil Kabir-nya, beliau tidak berkomentar apapun.


Setelah kami meneliti dengan cukup susah payah, lalu dengan menghargai dan menghormati jerih payah para ulama seperti sukut (diam)-nya Abu Daud, pernyataan hasan dari Ad-Daraquthni, bahkan pernyataan sahih dari as-Suyuthi, serta dimasukkannya Marwan oleh Ibnu Hiban pada kitab-nya al-Tsiqat, kami berkesimpulan redaksi doa inilah yang paling baik untuk diucapkan pada saat berbuka saum.

Dalam hal ini ada beberapa riwayat yang menerangkan lafazh-lafazh doa ketika berbuka shaum, seperti

Abu Daud meriwayatkan dari Muadz bin Zuhrah bahwa Rasulullah saw. apabila berbuka shaum mengucapkan :

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَىرِزْقِكَ أَ فْطَرْتُ

Artinya: "Ya Allah, hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkaulah aku berbuka," (Sunan Abu Daud II:528)

Kemudian dalam riwayat Thabrani disebutkan :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَلِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ص إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ



"Dari Anas bin Malik, ia mengatakan, 'Rasulullah saw. apabila berbuka shaum mengucapkan, Dengan nama Allah, ya Allah, hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkaulah aku berbuka, " (Al-Mu'jamul Ausath VIII:270).


Masih menurut riwayat Ath-Thabrani, Ibnu Abbas mengatakan :
كَانَ النَّبِىُّص إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْ قِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّ إِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيمُ


"Nabi saw. apabila berbuka mengucapkan : Hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkau aku berbuka. Maka terimalah dariku karena sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui," (Al-Mu'jamul Kabir XII:146).

Keterangan :

Pada sanad hadis Abu Daud terdapat kelemahan, yaitu Muadz bin Zuhrah. Ia bukan seorang sahabat melainkan seorang tabi'in. Dengan cara periwayatannya ia disangka seorang sahabat. Karena itu hadis itu dhaif mursal.

Hadis At-Thabrani I juga dhaif, bahkan dikategorikan sebagai hadis maudhu'. Dan kalaupun tidak termasuk hadis maudhu', hadis matruk sudah tentu. Pada sanadnya terdapat seorang rawi bernama Daud bin Az-Zibirqan. Menurut Ya'qub bin Syu'bah dan Abu Zur'ah, "ia itu matruk (tertuduh dusta)". Sedangkan Ibrahim bin Ya'qub al-Jurjani mengatakan, "Kadzdzab (pendusta" (Tahdzibul Kamal XIII:394-395).

Hadis At-Thabrani II juga dhaif bahkan palsu, karena terdapat seorang rawi bernama Abdul Malik bin Harun. Abu Hatim berkata, "Ia itu matruk, menghilangkan hadis". Yahya bin Main mengatakan, "Ia itu kadzdzab". Ibnu Hiban mengatakan, "Ia itu membuat hadis palsu". (Lisanul Mizan IV:71).

Keterangan-keterangan di atas menunjukkan bahwa ada beberapa lafazh doa berbuka shaum yang konon diucapkan oleh Nabi, namun sejauh penelitian kami berdasarkan kaidah kesahihan hadis, maka semua hadis tentang doa shaum dengan redaksi di atas tidak ada satupun yang shahih, bahkan terdapat hadis yang disinyalir sebagai hadis maudhu' (palsu).

Karena semua hadis tentang doa-doa di atas mengandung kelemahan, artinya tidak dapat dipastikan dari Nabi, maka ketika kita hendak mempergunakan doa itu untuk berbuka shaum, hendaknya kita tidak meyakini sebagai doa Nabi. Adapun redaksi doa yang pernah diucapkan oleh Nabi adalah sebagai berikut.

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Nabi saw. apabila berbuka mengucapkan : 

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ


"Telah hilang dahaga, terbasahi tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala insya Allah,"
(Aunul Ma'bud VI:482).

Sejauh penelitian kami hanya hadis inilah yang benar-benar sahih. Karena itu apabila hendak berdoa ketika berbuka shaum, maka redaksi doa ini yang lebih afdhal atau sangat dianjurkan untuk diucapkan. Wallahu A'lam.

Hemat kami redaksi (lafazh) doa pada waktu berbuka shaum itu ghair manshush, artinya pada saat berbuka kita boleh berdoa dengan apa saja yang kita kehendaki. Namun bila dilihat dari segi afdhaliyat (keutamaan), maka redaksi doa yang dipergunakan oleh Nabi tentu lebih utama kita amalkan.

وجدت الكلمات في الحديث رقم:
1/480 روينا في سنن أبي داود والنسائي، عن ابن عمر رضي اللّه عنهما قال:
كان النبيّ صلى اللّه عليه وسلم إذا أفطر قال: "ذَهَبَ الظَّمأُ، وابْتَلَّتِ العُرُوقُ، وَثَبَتَ الأجْرُ إِنْ شاءَ اللَّهُ تَعالى".
قلت: الظمأ مهموز الآخر مقصور: وهو العطش. قال اللّه تعالى: {ذلكَ بأنهُمْ لا يُصِيبُهُمْ ظَمأُ} [التوبة:120] وإنما ذكرت هذا وإن كان ظاهراً لأني رأيتُ مَن اشتبه عليه فتوهمه ممدود
2/481 وروينا في سنن أبي داود، عن معاذ بن زهرة أنه بلغه؛
أن النبيّ صلى اللّه عليه وسلم كان إذا أفطر قال:"اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ" هكذا رواه مرسَلا
3/482 وروينا في كتاب ابن السني، عن معاذ بن زهرة قال:
كان رسولُ اللّه صلى اللّه عليه وسلم إذا أفطر قال: "الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي أعانَنِي فَصَمْتُ، وَرَزَقَنِي فأفْطَرْتُ"
4/483 وروينا في كتاب ابن السني، عن ابن عباس رضي اللّه عنهما قال:
كان النبيّ صلى اللّه عليه وسلم إذا أفطر قال: "اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنا، وَعلى رِزْقِكَ أَفْطَرْنا، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إنَّكَ أنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ"
5/484 وروينا في كتابي ابن ماجه وابن السني، عن عبد اللّه بن أبي مليكة عن عبد اللّه بن عمرو بن العاص رضي اللّه عنهما قال:
سمعت رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم يقول: "إنَّ للصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً ما تُرَدُّ" قال ابن أبي مُليكة: سمعتُ عبد اللّه بن عمرو إذا أفطرَ يقول:"اللَّهُمَّ إني أسألُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْء أنْ تَغْفِرَ لي".

(480) أبو داود (2357) وإسناده حسن.

(481) أبو داود (2358) وله شاهدان عند الدارقطني والطبراني يقوى بهما.

(482) ابن السني (480) قال الحافظ: وهو محقق الإرسال، وفي زيادة الرجل الذي لم يسمِّه ما يُعَلُّ به.

(483) ابن السني (481) وقال الحافظ: هذا حديث غريب وسنده واهٍ جداً. الفتوحات 4/341.

(484) ابن ماجه (1753) ، وابن السني (482) وإسناده حسن.

Pada keterangan lain Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ


“Ada tiga golongan yang tidak tertolak doanya; orang shaum sampai berbuka, imam yang adil, dan orang yang dizhalimi..” H.r. Ibnu Majah, At-Tirmidzi, dan Ahmad

فصل 1469 عن عبد الله يعني ابن أبي مليكة عن عبد الله يعني ابن عمرو بن العاصي رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن للصائم عند فطره لدعوة ما ترد قال وسمعت عبد الله يقول عند فطره اللهم إني أسألك برحمتك التي وسعت كل شيء أن تغفر لي - رواه المنذري , الترغيب والترهيب 2: 53 - زاد في رواية ذنوبي رواه البيهقي عن إسحاق بن عبيد الله عنه وإسحاق هذا مدني لا يعرف والله أعلم

1743 حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْمَدَنِيُّ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي مُلَيْكَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ قَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو يَقُولُ إِذَا أَفْطَرَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي – رواه ابن ماجة –

3522 حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ عَنْ سَعْدَانَ الْقُمِّيِّ عَنْ أَبِي مُجَاهِدٍ عَنْ أَبِي مُدِلَّةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ قَالَ أَبمو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَسَعْدَانُ الْقُمِّيُّ هُوَ سَعْدَانُ بْنُ بِشْرٍ وَقَدْ رَوَى عَنْهُ عِيسَى بْنُ يُونُسَ وَأَبُو عَاصِمٍ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ كِبَارِ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَأَبُو مُجَاهِدٍ هُوَ سَعْدٌ الطَّائِيُّ وَأَبُو مُدِلَّةَ هُوَ مَوْلَى أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ وَإِنَّمَا نَعْرِفُهُ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَيُرْوَى عَنْهُ هَذَا الْحَدِيثُ أَتَمَّ مِنْ هَذَا وَأَطْوَلَ * - الترمذي –


1742 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سَعْدَانَ الْجُهَنِيِّ عَنْ سَعْدٍ أَبِي مُجَاهِدٍ الطَّائِيِّ وَكَانَ ثِقَةً عَنْ أَبِي مُدِلَّةَ وَكَانَ ثِقَةً عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ دُونَ الْغَمَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ بِعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ * - إبن ماجة –


120 كان إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله د ك عن ابن عمر كان إذا أفطر قال ذهب الظمأ مهموز الآخر مقصور العطش قال تعالى ذلك بأنهم لا يصيبهم ظمأ ذكره في الأذكار قال وإنما ذكرته وإن كان ظاهرا لأني رأيت من اشتبه عليه فتوهمه ممدودا وابتلت العروق لم يقل ذهب الجوع أيضا لأن أرض الحجاز حارة فكانوا يصبرون على قلة الطعام لا العطش وكانوا يتمدحون بقلة الأكل لا بقلة الشرب وثبت الأجر قال القاضي هذا تحريض على العبادة يعني زال التعب وبقي الأجر إن شاء الله ثبوته بأن يقبل الصوم ويتولى جزاءه بنفسه كما وعد إن الله لا يخلف الميعاد وقال الطيبي قوله ثبت الأجر بعد قوله ذهب الظمأ استبشار منه لأنه من فاز

Tata Cara Berdoa

Ditinjau dari segi jenis doa itu ada dua macam. Pertama, tsanain/hamdin (puji-pujian atau sanjungan). Kedua, sualin (permintaan). Kemudian ditinjau dari segi waktu/tempat dan redaksinya ada manshush dan Ghair manshush. Manshush dalam istilah penulis berarti berdoa dengan lafazh-lafazh tertentu pada waktu/tempat yang telah ditentukan. Seperti subhana rabbiyal azhiem ketika ruku dan subhana rabbiyal a'laa ketika sujud. Sementara ghair manshush berarti berdoa dengan lafazh bebas sesuai dengan keinginan orang yang mengucapkannya pada tempat-tempat yang tidak ditentukan. Atau lafazh bebas pada waktu/tempat yang telah ditentukan. Seperti ketika sujud setelah doa diatas.

Demikianlah ulasan mengenai Bacaan Doa Buka Puasa dan Artinya. mudah-mudah bermanfaat terimakasih
Posted by Fitri Jahe
Warna Sahabat Updated at: Sunday, April 15, 2018

Hikmah Puasa Ramadhan | Bacaan Doa Buka Puasa | Doa Menyambut Bulan Puasa (Ramadhan)

Hikmah Puasa. Sahabat Warna Sehubungan Datangnya Bulan Ramadhan dengan itu marilah kita persiapkan diri, dengan cara mengevaluasi kualitas ibadah shaum kita di tahun-tahun sebelumnya, untuk segera dilakukan koreksi di tahun sekarang andaikata kita masih diberi kesempatan untuk melaksanakannya pada tahun ini, sehingga shaum di tahun ini merupakan shaum terakhir yang paling baik dari sekian banyak ibadah shaum yang telah kita laksanakan sepanjang hayat, karena kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih dapat kesempatan untuk melaksanakannya atau tidak. Hal itu merupakan perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah swt.


Hikmah Puasa Ramadhan

Dilihat dari sisi penamaan, bulan Ramadhan tidak ada bedanya dengan bulan-bulan yang lain.. Abul Qasim Al-Husain bin Muhamad, yang populer dengan sebutan Ar-Raghib al-Asfahani, pada kitabnya al-mufradat fi gharibil quran, hal. 203, memberikan penjelasan bahwa Ramadhan berasal dari kata ar-Ramdhu, artinya: شدَّةُ وَقْعِ الشَّمْسِ yaitu sangat panasnya matahari (panas panon poe kacida nyebretna). 

Menurut al-Mawardi (Tafsir Al-Qurthubi, II:291), pada masa jahiliyyah bulan ini bernama natiq (melelahkan). Kemudian diganti oleh generasi berikutnya menjadi Ramadhan. Adapun penamaan bulan ini dengan Ramadhan, karena berbagai latar belakang.

1. kondisi cuaca
Menurut Az-Zamakhsyari, orang-orang Arab mengambil nama bagi bulan-bulan itu dari bahasa terdahulu (buhun). Orang Arab jahiliyyah menamai bulan-bulan itu disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada saat itu. Karena pada waktu itu cuaca/udara sangat panas, maka bulan ini oleh mereka diberi nama Ramadhan. Rawa-i’ul Bayan, I:190. 

2. Kondisi tubuh
Ada yang berpendapat bulan ini disebut Ramadhan karena pada bulan ini tenggorokan terasa panas karena sangat haus. Tafsir Al-Qurthubi, II:291


3. Kondisi batin
Ada yang berpendapat disebut Ramadhan karena pada bulan ini hati-hati manusia menaruh perhatian pada “panasnya” nasehat dan akhirat. Tafsir Al-Qurthubi, II:291

4. Situasi
Ada yang berpendapat disebut Ramadhan karena pada bulan ini orang-orang pada masa itu mempertajam senjata mereka dengan cara dibakar untuk persiapan perang pada bulan syawal. Tafsir Al-Qurthubi, II:291

5. Keyakinan
Sebagian ulama menyatakan bulan ini disebut Ramadhan karena orang-orang pada masa itu berkeyakinan bahwa bulan ini akan membakar dosa-dosa oleh amal shalih (sebagaimana matahari membakar tanah).

Ada yang berpendapat bahwa Ramdhan itu salah satu di antara asmaul husna (nama Allah), karena itu tidak boleh menyebut Ramadhan saja, tapi harus “bulan Ramadhan”. Pendapat ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Sahabat Abu Hurairah; Ad-Dailami dari sahabat Abu Hurairah dan Aisyah:


لا تقولوا رمضان فإن رمضان اسم من أسماء الله ولكن قولوا شهر رمضان

Tetapi hadis ini dha’if, karena diriwayatkan melalui seorang rawi bernama Najih bin Abdurrahman, kun-yah (panggilan) nya Abu Ma’syar. Kata Al-Bukhari, “Dia munkarul hadis” Tahdzibul Kamal, XXIX:327.

Sehubungan dengan hal itu, Imam Al-Bukhari telah membuat bab dalam Shahih-nya dengan judul:

بَابٌ هَلْ يُقَالُ رَمَضَانُ أَوْ شَهْرُ رَمَضَانَ وَمَنْ رَأَى كُلَّهُ وَاسِعًا وَقَالَ النَّبِيُّ (صلعم) مَنْ صَامَ رَمَضَانَ

Judul ini dibuat oleh Imam Al-Bukhari sebagai bantahan terhadap hadis yang melarang menyebut kata Ramadhan saja, tapi harus “bulan Ramadhan”. Menurut beliau boleh-boleh saja menyebut Ramadhan atau bulan Ramadhan. Karena Nabi sendiri pernah menyebutkan keduanya.

Dengan keterangan-keterangan di atas, maka dari segi penamaan bulan Ramadhan itu tidak memiliki kelebihan apapun dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, sama halnya dengan Januari pada bulan masehi. Karena itu, perlu kita kaji secara cermat, dari sisi mana bulan Ramadhan memiliki kelebihan dibandingkan dengan bulan lain. Ada apa pada bulan Ramadhan ? Pada umumnya kaum muslimin memiliki keyakinan bahwa di antara keutamaan bulan Ramadhan itu karena awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah, dan akhirnya ‘itqun minanar (pelindung dari api neraka). Bahkan tidak sedikit yang berkayakinan bahwa melaksanakan amalan sunatpun ganjarannya seimbang dengan yang wajib. Karena itu kaum muslimin senantiasa berlomba untuk memperbanyak amalan-amalan sunat pada bulan tersebut. Hemat kami, keyakinan itu tumbuh karena didasarkan atas keterangan-keterangan yang sebenarnya tidak bersumber dari Rasullah saw. antara lain riwayat Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi, dan Al-Haitsami yang menerangkan bahwa bulan Ramadhan itu memiliki keutamaan daripada bulan lainnya, karena

a. Bulan rahmat di 10 hari pertama, maghfirah (ampunan) di 10 hari kedua, dan ‘itqun minanar (pembebasan dari api neraka) di 10 hari terakhir,
b. Ganjaran amalan sunat yang dilaksanakan pada bulan itu seimbang dengan ganjaran amalan wajib.
c. Ganjaran satu amalan wajib yang dilaksanakan pada bulan itu seimbang dengan ganjaran tujuh puluh amalan wajib.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ. رواه ابن عدي و العقيلي و الديلمي

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ’Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah magfirah, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka”. H.r. Ibnu Adi, Al-Uqaili, dan Ad-Dailami

Keterangan:
Menurut penelitian para pakar, hadis tersebut tidak benar bersumber dari Rasul dilihat dari 2 aspek: Pertama, kualitas rawi atau wartawan sebagai sumber informasi itu bernama Ali bin Zaed bin Jud’an yang buruk hapalan/pelupa dan Yusuf bin Ziad an-Nahdi yang biasa berdusta. Kedua, dilihat dari isi berita sebagai bukti kesalahan berita yang disampaikan oleh kedua wartawan tersebut yaitu bertentangan dengan firman Allah yang menerangkan bahwa kelipatan ganjaran itu bukan hanya terjadi pada bulan Ramadhan tetapi juga di hari-hari lain di luar bulan Ramadhan:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (الأنعام :160)

Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). Q.s. Al-An'am:160

Bahkan oleh Rasul dinyatakan bahwa pahala satu amal kebaikan itu adalah 10 hingga 700 kali lipat, baik di Ramadhan maupun diluar Ramadhan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَعَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ وَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ – رواه مسلم –


عَنْ خُرَيْمِ بْنِ فَاتِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ كُتِبَتْ لَهُ بِسَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ – رواه الترمذي –

Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut, kami berkesimpulan bahwa bulan Ramadhan tidak memiliki keutamaan-keutamaan seperti yang diterangkan dalam hadis tadi.

Ada pula yang berkeyakinan bahwa keutamaan bulan Ramadhan itu terlihat dari aspek penyambutan, mulai dari keramas hingga berdoa khusus menyambut kedatangan Ramadhan dengan doa yang terkenal:

اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً
Setelah 4 tahun kami menelusuri jejak sumber doa itu, kami temukan beberapa redaksi yang berbeda, antara lain


عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ : اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ لِي مُقَبَّلاً .رواه الديلمي, الفردوس بمأثور الخطاب 1:471

عن عُبَادَةَ بن الصَّامت رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يُعَلمُنَا هؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ: اللَّهُمَّ سَلمْني لِرَمَضَانَ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ لِي، وَسَلمْهُ لِي مُتَقِبَّلاً . (طب فِي الدُّعَاءِ والدَّيْلمِي). جامع الأحاديث والمراسيل 20 : 76 -

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ يُعَلِّمُنَا أَنْ نَقُوْلَ اللّهُمَّ سَلِّمْنَا لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ مِنَّا وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلاً - رواه عبد الكريم بن محمد الرافعي القزويني , التدوين في أخبار قزوين 3: 424 –

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا هؤلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً.رواه إبن شبغة عبد الملك بن علي – سير أعلام النبلاء 19 : 50 –51

اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً

Keterangan:


Hadis tentang berdoa menyambut Ramadhan di atas semuanya bersumber dari Abu Ja’far ar-Razi, namanya Isa bin Abu Isa Mahan. “Dia buruk hafalan/pelupa”. Abu Zur’ah berkata, “Sering ragu-ragu (dalam meriwayatkan)”. Al-Mughni fid Dhu’afa, II:500. Di antara bukti buruk hapalannya dia menyampaikan doa yang sama namun dengan redaksi/kalimat yang berbeda-beda.

Sedangkan keterangan terakhir dengan lafal wasallimhu minni mutaqabbalan tidak jelas riwayat siapa.
Demikian beberapa keterangan yang perlu disampaikan sebagai bahan evaluasi untuk melaksanakan ibadah shaum di bulan Ramadhan tahun ini.

Berdoa ketika berbuka shaum
عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ – رواه أبو داود –

Artinya: "Ya Allah, hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkaulah aku berbuka," H.r. Abu Daud dari Mu’az bin Zuhrah. H.r. Abu Daud, Sunan Abu Daud II:528.


Keterangan:
Muadz bin Zuhrah bukan seorang sahabat melainkan seorang tabi'in. Dengan cara periwayatannya ia disangka seorang sahabat. Karena itu hadis ini dhaif mursal


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَلِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Dari Anas bin Malik, ia mengatakan, 'Rasulullah saw. apabila berbuka shaum mengucapkan, Dengan nama Allah, ya Allah, hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkaulah aku berbuka, " H.r. At-Thabrani, Al-Mu'jamul Ausath VIII:270.


Keterangan:
Hadis ini dhaif, bahkan dikategorikan sebagai hadis maudhu'. Dan kalaupun tidak termasuk hadis maudhu', hadis matruk sudah tentu. Pada sanadnya terdapat seorang rawi bernama Daud bin Az-Zibirqan. Menurut Ya'qub bin Syu'bah dan Abu Zur'ah, "ia itu matruk (tertuduh dusta)". Sedangkan Ibrahim bin Ya'qub al-Jurjani mengatakan, "Kadzdzab (pendusta)" (Tahdzibul Kamal XIII:394-395).
 
عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ قال :كَانَ النَّبِىُّ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْ قِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيمُ

Dari Ibnu Abas, ia berkata, "Nabi saw. apabila berbuka mengucapkan : Hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkau aku berbuka. Maka terimalah dariku karena sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui," H.r. Ath-Thabrani, Al-Mu'jamul Kabir XII:146

Keterangan:
Hadis ini juga dhaif bahkan palsu, karena terdapat seorang rawi bernama Abdul Malik bin Harun. Abu Hatim berkata, "Ia itu matruk, menghilangkan hadis". Yahya bin Main mengatakan, "Ia itu kadzdzab". Ibnu Hiban mengatakan, "Ia itu membuat hadis palsu". (Lisanul Mizan IV:71).

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَى رِزْ قِكَ أَفْطَرْتُ

Keterangan:
Redaksi dengan tambahan wabika amantu sampai saat ini tidak diketahui riwayat siapa (teu daif-dhaif acan)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ – رواه أبو داود والنسائي في الكبرى والبيهقي والحاكم والدارقطني –

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Nabi saw. apabila berbuka mengucapkan "Telah hilang dahaga, terbasahi tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala insya Allah," H.r. Abu Daud, Aunul Ma'bud VI:482, an-Nasai dalam as-Sunanul Kubra, al-Baihaqi, al-Hakim, dan ad-Daraquthni

Keterangan:

Kata ad-Daraquthni, “Sanad hadis ini hasan” Sunan ad-Daraquthni, II:185. Redaksi inilah yang dianjurkan untuk digunakan apabila kita berdoa pada waktu berbuka shaum.

Adapun keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan berdasarkan hadis sahih adalah sebagai beikut:

a. Bulan penuh berkah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا قَدْ حُرِمَ. رواه احمد
Dari Abu Hurairah, ia berkata,’Ketika bulan Ramadhan tiba, Rasulullah saw. bersabda,’Sungguh Ramadhan telah datang kepada kamu, yaitu bulan yang diberkahi, Allah telah fardukan shaum bagi kamu, pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu Jahanam dikunci, dan setan-setan diikat. Pada bulan itu terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak mendapatkan kebaikannya, sungguh ia tidak akan mendapatkannya”. (HR. Ahmad)

b. Kifarat dosa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ. رواه مسلم

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda,’Salat yang lima, dari Jum’at ke Jum’at, dan dari Ramadhan ke Ramadhan itu menjadi kifarat (penghapus dosa) selama menjauhi dosa-dosa besar. H.r. Muslim

c. umrah pada bulan itu sebanding dengan haji

عَنْ عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يُحَدِّثُنَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِامْرَأَةٍ مِنَ الْأَنْصَارِ سَمَّاهَا ابْنُ عَبَّاسٍ فَنَسِيتُ اسْمَهَا مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّي مَعَنَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ لَنَا إِلَّا نَاضِحَانِ فَحَجَّ أَبُو وَلَدِهَا وَابْنُهَا عَلَى نَاضِحٍ وَتَرَكَ لَنَا نَاضِحًا نَنْضِحُ عَلَيْهِ قَالَ فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً. مسلم

Dari Atha, ia berkata, “Aku mendengar Ibnu Abas menceritakan kepada kami, ‘Rasulullah saw. bersabda kepada seorang perempuan dari kaum Anshar yang diberinama oleh Ibnu Abbas, lalu aku lupa namanya, “Apa yang menghalangi kamu uuntuk melaksanakan ibadah haji bersama kami?” Ia menjawab, “Yang kami miliki hanyalah dua ekor unta. Ayah dan anaknya menunaikan iabadah haji dengan berkendaran satu unta dan ia meninnggalkan bagi kami satu unta untuk kami tunggangi.” Beliau bersabda, “Apabila bulan Ramadhan tiba, maka umrahlah kamu karena umrah pada bulan itu sebanding dengan ibadah haji.”H.r. Muslim

Dan dalam riwayat Al Bukhari


عَنْ عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا يُخْبِرُنَا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِامْرَأَةٍ مِنَ الْأَنْصَارِ… قَالَ فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِي فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ حَجَّةٌ أَوْ نَحْوًا مِمَّا قَالَ. البخاري


Dari Atha, ia berkata,’Aku mendengar Ibnu Abbas mengabarkan kepada kami, bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada seorang perempuan dari kaum Anshar…Beliau bersabda,’Apabila bulan Ramadhan, berumrahlah engkau karena umrah pada bulan Ramadhan itu adalah haji atau sebanding dengan apa yang beliau katakan (haji). H.r. Al Bukhari

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ…. رواه البخاري
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda,’Setiap amal Ibnu Adam adalah baginya terkecuali saum, karena ia itu bagiKu dan Aku yang akan membalasnya. Shaum adalah perisai…H.r. Al Bukhari


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَابَعَهُ سُلَيْمَانُ بْنُ كَثِيرٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ. رواه البخاري


Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda,’Siapa yang shaum bulan Ramadhan dengan niat dan tekad keimanan dan mengharap ridla Allah, akan dihapus yang telah lalu. H.r. Al Bukhari


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيمَةٍ فَيَقُولُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ… رواه مسلم


Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah saw. memberikan semangat pada qiamu Ramadhan tanpa memerintahkan mereka dengan satu kemestian, ia bersabda, ‘Siapa yang mendirikan Ramadhan dengan disertai keimanan dan ihtisab, maka akan diampuni baginya dosa yang telah lalu… H.r. Muslim.

ورمضان مأخوذ من رمض الصائم يرمض إذا حر جوفه من شدة العطش والرمضاء ممدودة شدة الحر ومنه الحديث صلاة الأوابين إذا رمضت الفصال خرجه مسلم ورمض الفصال أن تحرق الرمضاء أخفافها فتبرك من شدة حرها فرمضان فيما ذكروا وافق شدة الحر فهو مأخوذ من الرمضاء قال الجوهري وشهر رمضان يجمع على رمضانات وأرمضاء يقال إنهم لما نقلوا أسماء الشهور عن اللغة القديمة سموها بالأزمنة التي وقعت فيها فوافق هذا الشهر أيام رمض الحر فسمي بذلك وقيل إنما سمي رمضان لأنه يرمض الذنوب أي يحرقها بالأعمال الصالحة من الإرماض وهو الإحراق ومنه رمضت قدمه من الرمضاء أي احترقت وأرمضتني الرمضاء أي أحرقتني ومنه قيل أرمضني الأمر وقيل لأن القلوب تأخذ فيه من حرارة الموعظة والفكرة في أمر الآخرة كما يأخذ الرمل والحجارة من حر الشمس والرمضاء الحجارة المحماة وقيل هو من رمضت النصل أرمضه وأرمضه رمضا إذا دققته بين حجرين ليرق ومنه نصل رميض ومرموض عن ابن السكيت وسمي الشهر به لأنهم كانوا يرمضون أسلحتهم في رمضان ليحاربوا بها في شوال قبل دخول الأشهر الحرم وحكى الماوردي أن اسمه في الجاهلية ناتق وأنشد للمفضل وفي ناتق أجلت لدى حومة الوغى وولت على الأدبار فرسان خثعما و شهر بالرفع قراءة الجماعة على الإبتداء والخبر الذي أنزل فيه القرآن أو يرتفع على إضمار مبتدأ المعنى المفروض عليكم صومه شهر رمضان أو فيما كتب عليكم شهر رمضان ويجوز أن يكون شهر مبتدأ و الذي أنزل فيه القرآن صفة والخبر فمن شهد منكم الشهر وأعيد ذكر الشهر تعظيما كقوله تعالى الحاقة ما الحاقة وجاز أن يدخله معنى الجزاء لأن شهر رمضان وإن كان معرفة فليس معرفة بعينها لأنه شائع في جميع القابل قاله أبو علي وروى عن مجاهد وشهر بن حوشب نصب شهر ورواها هارون الأعور عن أبي عمرو ومعناه إلزموا شهر رمضان أو صوموا و الذي أنزل فيه القرآن نعت له ولا يجوز أن ينتصب بتصوموا لئلا يفرق بين الصلة والموصول بخبر أن هو خير لكم الرماني يجوز نصبه على البدل من قوله أياما معدودات الثانية واختلف هل يقال رمضان دون أن يضاف إلى شهر فكره ذلك مجاهد وقال يقال كما يقال الله تعالى وفي الخبر لا تقولوا رمضان بل انسبوه كما نسبه الله في القرآن - القرطبي 291 -2: 

Demikianlah Kajian yang dapat admin sajikan pada kesempatan kali ini Mengenai Hikmah Puasa dan Doa Menyambut Darangnya Bulan Puasa mudah-mudahn bermanfaat sekaligus menambah pengetahuan tentang Puasa (shaum) Terimakasih.
Posted by Fitri Jahe
Warna Sahabat Updated at: Sunday, April 15, 2018

Pengertian Puasa Ramadhan (Niat, Syarat, Rukun, Dalil Dan Keutamaannya)

Pengertian Puasa - Sahabat budiman dalam hitungan Bulan kurang 1 Bulan lagi kedatangan tamu yakni bulan ramadhan, bulan ramadhan  akan menjadi bulan yang sangat dinanti-nanti orang kaum Muslimin karena disitu ada bintang Film yang menjadikan bulan ramadhan jadi bulan yang sangat berharga. Siapa dan apa bintang ramadhan itu' Yakni Shaum atau Puasa.   

Menurut bahasa puasa  berasal dari kata “Assiyam” yang artinya“ al imsyak artinya menahan diri “. Sedangkan menurut istilah syara’ puasa adalah menahan diri  dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Setiap muslim diwajibkan untuk berpuasa karena Puasa merupakan rukun islam yang ketiga.


Pengertian Puasa Ramadhan
Pengertian Puasa 

Hukum Puasa 

Puasa hukumnya wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan. Hal ini berdasarkan perintah Allah SWT dalam Al-qur’an surat Al-baqarah ayat 183 yang berbunyi:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertakwa.(Al-baqarah:183)

Syarat Wajib Puasa
1) Islam 
2) Baligh atau berakal 
3) Suci dari Haid dan Nifas 
4) Mampu (kuat dalam berpuasa)

Rukun Puasa
1) Niat berpuasa "didalam hati"
2) Menahan diri dari segala hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

Hal-Hal Sunnah Ketika  Berpuasa
1) Bersahur
2) Mentakhirkan makan sahur
3) Menyegerakan berbuka saat masuk waktu berbuka
4) Berbuka dengan kurma dan minuman yang manis-manis
5) Membaca doa berbuka puasa


Doa berbuka yang benar:

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ
Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah
“Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.”

Hadis Selengkapnya

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ… »
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau berbuka, beliau membaca: “Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu…” (HR. Abu Daud 2357, Ad-Daruquthni dalam sunannya 2279, Al-Bazzar dalam Al-Musnad 5395, dan Al-Baihaqi dalam As-Shugra 1390. Hadis ini dinilai hasan oleh Al-Albani).

Hal-Hal Yang Dapat Membatalkan Puasa
1.      Bersetubuh (Jima)
2.      Makan Minum
2.      Kedatangan Haid, nifas 
3.      Murtad ( keluar dari agama Islam)


Amalan Sunnah Saat Berpuasa;

1.      Mengerjakan sholat tarawih
2.      Bertadarus
3.      Memperbanyak sholat sunnah
4.      Mengutamakan berjama’ah
5.      Menjauhi dari  segala hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa 
6.      DLL

Hikmah Dan Keutamaan Orang Yang Berpuasa
1.      Orang yang berpuasa akan mendapatkan rahmat Allah dan Pengampunan Allah.( Kalo shaumnya disertai dengan Iman dan Ihtisab)
2.      Orang yang berpuasa akan dibebaskan dari api neraka.
3.    Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah seperti bau kasturi.
4.    Orang yang berpuasa akan meraih dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagian ketika berjumpa dengan Allah  SWT.
5.    Orang yang berpuasa Akan diamppuni dosanya yang telah lalu. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW yang Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu, dan barangsiapa sholat di malam lailatul qodr karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim ).
6.   Orang yang berpuasa akan dilipat gandakan pahalanya. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW yang Artinya :“Setiap amalan anak Adam akan dilipat gandakan, satu kebaikan dibalas sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat”. Allah berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, sebab orang yang berpuasa itu telah meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku”. Dan bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu Rabb-Nya. Dan sungguh, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari aroma kasturi.” (HR. Muslim).


Demikianlah Singkat mengenai Pengertian Puasa Ramadhan (Niat, Syarat, Rukun, Dalil Dan Keutamaannya) Mudah-mudahan bermanfaat sedikitnya bisa membantu anda dalam memahami Arti Shaum Atau Puasa. Terimakasih


Posted by Fitri Jahe
Warna Sahabat Updated at: Sunday, April 15, 2018

Pengertian Administrasi Fungsi Tujuan Peran dan Ruang Lingkup

Pengertian Administrasi - Sahabat warna kali ini admin akan sedikit berbagi pengertian menurut para ahli terkait Administrasi. Apa sich yang dinamakan adminstrasi itu, seperti yang dilansir id.wikipedia.org. Administrasi adalah usaha dan kegiatan yang berkenaan dengan penyelenggaraan kebijaksanaan untuk mencapai tujuan. Administrasi dalam arti sempit adalah kegiatan yang meliputi: catat-mencatat, surat-menyurat, pembukuan ringan, ketik-mengetik, agenda, dan sebagainya yang bersifat teknis ketatausahaan.

Administrasi dalam arti luas adalah seluruh proses kerja sama antara dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan dengan memanfaatkan sarana prasarana tertentu secara berdaya guna dan berhasil guna.

Pengertian Administrasi Fungsi Tujuan Peran dan Ruang Lingkup

Pemahaman yang tepat tentang peranan administrasi dalam kehidupan modern sangat tergantung pada definisi yang digunakan sebagai titik tolak berpikir. Administrasi didefinisikan sebagai ”keseluruhan proses  kerja sama” antara dua orang atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dengan memanfaatkan sarana dan prasarana tertentu secara berdaya guna dan berhasil guna. 

Fungsi administrasi
Pengertian Administrasi


Apabila definisi diatas disimak, akan terlihat paling sedikit 3 hal yaitu : 
  • Administrasi merupakan suatu seni sekaligus sebagai proses. Sebagai seni, penarapan administrasi memerlukan kiat tertentu yang sifatnya sangat  situasional dan  kondisional. Administrasi selulu terikat pada kondisi, situasi, waktu dan tempat. 
  • Administrasi memiliki unsur-unsur tertentu, yaitu adanya dua oarang atau lebih, orang-orang tersebut bekerja sama dalam hubungan yang sifatnya formal dan hirarkis, adanya tujuan yang ingin dicapai. Adanya tugas-tugas yang harus dilaksanakan dan tersedianya sarana dan prasarana tertentu. 
  • Administrasi sebagai proses kerja sama bukanlah merupkan hal baru karena administrasi sesungguhnya timbul bersamaan dengan timbulnya peradaban manusia. 



Istilah administrasi berasal dari bahasa latin yaitu  ad  +  ministrare  yang berarti melayani, membantu, menunjang dan memenuhi. Istilah administrsi sama dengan tata usaha, artinya setiap kegiatan yang mengadakan pencatatan berbagai keterangan yang penting didalam usaha/organisasi yang bersangkutan. 

Mengenai administrasi dapat dijelaskan bahwa administrasi merupakan sub sistem dari sistem administrasi organisasi yang bkerja sama dengan sub sistem lain membentuk suatu tujuan. Didalam ini bahwa administrasi dapat di artikan dalam arti luas dan dalam arti sempit. 

Pengertian Administrasi dalam Arti Sempit 

Administrasi dalam arti sempit berkisar pada berbagai kegiatan kettaushaan. Kegiatan-kegiatan ketatausahaan merupakan bagian yang sangat penting dari kegiatan organisasi terutama karena kegiatan tersebut  menyangkut penangnan informasi yang dikatakan berperan sebagai ” darah ” bagi suatu organisasi. Dalam pengertian yang demikian administrasi biasanya hanya dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan ktatausahaan yang mencakup korespondensi, kesekretariatan, penyusunan laporan dan kearsipan.(Siagian,2001:267) 

Definisi Administrasi dalam Arti Luas  

Administrasi dalam arti luas berarti keseluruhan proses penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang didasarkan pada rasional tertentu oleh dua orang atau lebih dalam rangka pencapaian sutu tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dengan menggunakan sarana dan prasarna tertentu pula.(Siagian,2001:267) 

Apabila definisi administrasi secara luas itu disimak dengan benar, akan terlihat bahwa administrasi dalam merupakan salah satu komponen dari administrasi dalam arti luas. 

Ruang Lingkup Administrasi 
Ruang Lingkup tugas administrasi pada kantor ini dapat dikatakan tugas pelayanan disekitar keterangan-keterangan yang berwujud (Gie, 2007:16) yaitu : 

Menghimpun 
Yaitu : kegiatan-kegiatan mencari dan mengusahakan tersedianya segala keterangan yang tadinya belum ada atau berserakan dimana-mana sehingga siap untuk dipergunakan bilamana diperlukan. 
Mencatat 
Yaitu : kegiatan yang mebubuhkan dengan berbagai peralatan tulis   keterangan-keterangan yang diperluka sehingga berwujud tulisan yang dapat dibaca, dikirim dan disimpan
Mengelola 
Yaitu : bermacam-macam kagiatan mengerjakan keterangan-keterangan dengan maksud menyajikan dalam bentuk yang berguna. 
Mengirim 
Yaitu : kegiatan yang menyimpan dengan berbagi cara dan alat dari satu pihak kepihak lain. 
Menyimpan 
Yaitu : kegiatan menaruh dengan berbagai cara dan alat ditempat tertentu yang aman. 

Ruang lingkup diatas termasuk keterangan atau informasi. Yang dimaksud dengan keterangan atau informasi ialah pengetahuan tentang suatu hal atau peristiwa yang diperoleh terutam melalui pembacaan atau pengamatan. 

Dewasa ini, informasi dapat berupa : surat, panggilan telepon, pesanan, faktur dan laporan mengenai berbagai kegiatan bisnis. Semuanya diterima, direkam (direcord), diatur, disebarkan dan dilindungi agar tugas kantor dapat terlaksana dengan efisien dan efektif. 

Dibagian Umum memiliki ruang lingkup tugas administrasi seperti : 
  • Mengagendakan surat masuk dan surat keluar. 
  • Mengarsip surat masuk dan surat keluar. 
  • Mengentri data surat masuk dan surat keluar kedalam komputer 
  • Memfilekan surat masuk dan surat keluar. 
  • Mencatat dan mengetik surat-surat ke buku agenda surat masuk dan keluar. 
  • Mendistribusikan surat masuk dan surat keluar. 


Fungsi Administrasi 

Pada dasarnya fungsi administrasi dan fungsi manajemen adalah sama perbedanya dimana fungsi administrasi adalah untuk menentukan tujuan organisasi dan merumuskan kebijaksanaan umum, sedangkan manajemen bersifat melaksanakan kegitan yang perlu dilaksanakan dalam rangka pencapian tujuan dalam batas-batas kebijaksanaan yang dirumuskan.  

Dalam proses pelaksanaan ini, administrasi mempunyai tugas-tugas tertentu yang harus dilakukan sendiri dan tugas-tugas itulah yang biasanya disebut sebagai fungsi-fungsi administrasi antara lain : 

Planning (Perencanaan) 
Perencanaan adalah suatu rincian yang merupakan organisasi yang besar didalamnya ada penyusunan dan perumusan rencana diserahkan kepada sekelompok staf perencana, akan tetapi penetapannya merupakan tugas dan tanggung jawab manajemen. (Daft, 2006:8) 

Organizing (Pengorganisasian) 
Pengorganisasian adalah suatu kegiatan yang menyangkut tipe-tipe struktur organisasi dan prinsip-prinsipnya, sejarah organisasi, gaya manajerial yang tepat digunakan, sifat dan jenis dari berbagai bentuk kegiatan yang harus dilaksanakan. (Daft, 2006:9).

Leading (Kepemimpinan) 
Kepemimpinan merupakan fungsi manajemen yang melibatkan penggunaan pengaruh untuk memotivasi karyawan meraih sasaran organisasi. (Daft, 2006:10) 

Controlling (Pengendalian) 
Pengendalian adalah fungsi keempat yang mempunyai arti memantau aktifitas karyawan, menjaga organisasi agar tetap berjalan ke arah pencapaian sasaran, dan membuat koreksi bila diperlukan. (Daft, 2006:11) 


Fungsi yang dijalankan pada administrasi kantor tersebut sangat mendekati dengan fungsi-fungsi dalam teori sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari, adanya pengelolaan surat menyurat yang merupakan petunjuk pelaksanaan sumber daya yang ada pada karyawan sehari-hari adanya struktur organisasi dan pembagian tugas, motivasi, pelatihan dan pengembangan karyawan dan sebagainya.



Tujuan Administrasi
Didalam administrasi terdapat tujuan yang dapat merupakan beberapa hal yaitu :

a. Tujuan Jangka Panjang

Didalam tujuan jangka panjang ini terdapat beberapa ciri-ciri yang diterapkan antara lain: 


Bersifat Idealistik
Bentuknya relatif abstrak
Kualifikasinya ialah tidak terbatas

Sesungguhnya tujuan jangka panjang tidak ditentukan oleh para anggota organisasi yang bergabung kemudian, melainkan oleh para pelopor atau pendiri organisasi yang bersangkutan.

Peranan Administrasi Pada hakikatnya perkembangan berbagai cabang ilmu pengetahuan terjadi sebagai tanggapan terhadap dinamika manusia. Pemahaman yang tepat tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dan membenarkan pendapat tersebut. Peranan utama sistem administrasi adalah untuk membantu memudahkan pelaksanaan tugas pekerjaan pokok lainnya.

Pada dasarnya sistem administrasi memiliki peranan yang sangat penting bagi perusahaan, karena dapat membantu perusahaan dalam memberikan data/informasi yang diperlukan oleh pimpinan perusahaan dan memudahkan pimpinan dalam mengambil keputusan dalam pelaksanaan tugas selanjutnya.




Daftar Pustaka Makalah Admiknistrasi
  • Daft, Richard L, Manajemen, Jakarta, Penerbit Erlangga, 2006. 
  • Sondang, P. Siagian , MPA, DR, Prof., Kerangka Dasar Ilmu Administrasi, Cetakan 2, Jakarta, Penerbit Rineka Cipta, 2001.


Demikianlah informasi singkat mengenai  Pengertian Administrasi Fungsi Tujuan Peran dan Ruang Lingkup, mudah-mudahan sedikitnya bisa membantu anda dalam memahami adminstrasi. terimakasih. 

Posted by Fitri Jahe
Warna Sahabat Updated at: Sunday, April 15, 2018