Contoh Kalimat Slogan Pendidikan dan Gambarnya

Contoh Kalimat Slogan Pendidikan dan Gambarnya - Sahabat warna kali ini admin akan sedikit berbagai contoh yang unik end kreatif. yakni tentang slogan. Banyak sekalo kalimat slogan yang ada di dunia online maupun offline khususnya Contoh Kalimat Slogan Pendidikan dilengkapi dengan gambar dari selogan yang biasa kita temukan di kantor kantor, mulai dari sekolah, rumah sakit dan instansi pemerintahan pada umumnya akan memberikan nilai ajakan yang membangun dan meningkatkan kinerja dalam dunia kerja. Misalkan saja di sekolah akan kita temukan sebuah kalimat singkat penuh makna mulai dari ajakan belajar dan berprestasi salah satu contohnya adalah ” Tiada Hari Tanpa Prestasi ” dan masih banyak lagi yang bisa sahabat lihat dalam artikel dibawah ini.
Contoh Slogan Pendidikan biasanya akan ditempatkan di jalan atau lorong kelas atau bahkan di dalam kelas dan di ruang guru dan kepala sekolah jika mencakup lingkungan pendidikan. Atau bisa di kantor kelurahan yang memberikan ajakan supaya melayani masyarakat dengan setulus hati.

Langsung saja cek dibawah ini lengkap kami hadirkan beberapa kalimat slogan dalam dunia pendidikan dilengkapi dengan gambar yang bisa anda ambil dan print kemudian tempelkan di lingkungan sekolah.

Contoh Slogan Pendidikan

Berikut ini adalah contoh slogan pendidikan yang bisa admin sajikan kesempatan kali ini, silahkan buat anda yang membutuhkan selogan pilih sesuai tema yang anda rencanakan.
  1. Gantungkan Cita-citamu Setinggi Bintang Dilangit
  2. Jenius adalah 1% Inspirasi dan 99% Keringat
  3. Menuntut Ilmu adalah Kewajiban Kita Semua
  4. Mari Meraih Masa Depan Gemilang Melalui Pendidikan Berkualitas
  5. Pendidikan Bermutu Merupakan Syarat Mutlak Bangsa yang Besar
  6. Generasi yang Hebat adalah Generasi yang Berpendidikan
  7. Pendidikan yang Baik Itu Untuk Mendidik Dan Juga Mencerahkan
  8. Pendidikan Maju, Generasi Maju, Bangsa Maju
  9. Selalu Belajar dan Tak Mengenal Kata Putus Asa
  10. Berangkatlah ke sekolah setiap pagi demi impian yang dinanti!
  11. Sekolah adalah gudang ilmu. Mendatangi sekolah berarti menjemput ilmu.
  12. Bangsa yang terbelakang adalah akibat dari pemuda yang malas belajar.
  13. Raihlah prestasi setinggi mungkin.
  14. Kesuksesan membutuhkan usaha yang keras dan pendidikan yang berkualitas.
  15. Jangan membuat alasan untuk menjadi orang yang berpendidikan.
  16. Ilmu yang baik akan menjadi penerang dan memandumu untuk mencapai impianmu.
  17. Membaca buku akan membawamu ke dunia yang baru.
  18. Jadikanlah ilmu sebagai bekalmu dan jadikanlah guru sebagai pemandumu.
  19. Hanya yang berpendidikanlah yang mendapatkan impian.
  20. Ciri orang yang berpendidikan adalah orang yang belajar bagaimana caranya belajar lalu berubah.
  21. Pendidikan bukanlah sesuatu yang dihadiahi tetapi sesuatu yang harus diraih.
  22. Raih impianmu demi kehidupanmu.
  23. Pendidikan menghasilkan ilmu. Ilmu menghasilkan impian.
  24. Belajar yang giat demi masa depan yang hebat.
  25. Tiada yang tidak mungkin tanpa usaha, Tiada usaha yang mungkin tanpa ilmu.
  26. Guru adalah kunci menuju masa depan sedangkan pendidikan adalah pintu menuju masa depan.
  27. Belajarlah agar tidak menjadi orang bodoh.
  28. Orang pintar memintari orang lain. Orang bodoh membodohi orang lain.
  29. Tanpa uang orang bisa beruang. Namun, tanpa ilmu orang tak bisa berilmu.
  30. Pendidikan yang berkualitas menghasilkan orang-orang yang berkualitas pula.
  31. Ilmu tanpa iman bagai tubuh tanpa nyawa.
  32. Impian tanpa pendidikan bagai rumah tanpa tiang.
  33. Ayo raih mimpimu dengan pendidikan yang bermutu!
  34. Bersekolahlah untuk masa depan yang cerah!
  35. Kemiskinan dapat diobati dengan pendidikan.
  36. Anda boleh miskin uang tetapi janga sampai miskin ilmu.
  37. Pendidikan memberantas kebodohan.
  38. Pendidikan memberikan secercah harapan bagi kehidupan.
  39. Pendidikan mengubah dunia.
  40. Tak ada yang lebih penting daripada pendidikan.
  41. Raihlah ilmu agar menjadi orang yang berilmu.
  42. Guru hanya membuka pintu kesuksesan. Engkaulah yang harus masuk sendiri.

Gambar Slogan Pendidikan

Dibawah ini admin sajikan beberapa contoh gambar slogan tentang kebersihan dan pendidikan serta motivasi untuk lebih semangat menggapai cita-cita. Silah lihat berikut ini:


 Contoh Kalimat Slogan Kebersihan

 Contoh Kalimat Slogan Pendidikan dan Gambarnya

 Contoh Kalimat Slogan Pendidikan dan Gambarnya


Demikianlah informasi mengenai Contoh Slogan Silahkan buat anda yang membutuhkan slogan tersebut dan sesuaikan dengan tema yang anda rencangan semoga bermanfaat dan tetap semangat mengejar cita-citanya. Terimakasih

Posted by Fitri Jahe
Warna Sahabat Updated at: Tuesday, November 13, 2018

Contoh Pidato tentang Hari Raya Idul Adha | Hari Raya Qurban

Contoh Pidato Hari Raya Idul Adha atau Qurban. Sahabat Warna, Kali ini saya akan berbagi Contoh/Konsep/Pidato untuk hari raya qurban, mudah-mudah dengan ini anda semuanya bisa mengambil pelajaran ataupun sebagai bahan untuk persiapan pada waktunya. Mudah-mudahan bermanfaat sekaligus menambah wawasan anda semuanya. Untuk Temanya Silahkan anda simat dibawah ini :


Contoh Pidato Hari Raya Idul Adha

Dengan TEMA
" MEMANFAATKAN KELEMAHAN MANUSIA UNTUK BERKURBAN"
Alhamdulillah merupakan pujian yang paling pantas kita panjatkan kehadirat Allah swt, karena dengan takdir-Nya kita dapat menjalankan sekaligus merasakan nikmatnya iedul adha dalam suasana yang tentram dan aman, walaupun sempat dibayangi keraguan ketika kita mengetahui adanya perbedaan hari dalam pelaksanaan iedul adha tahun ini, antara Indonesia dengan Arab Saudi. Namun atas dasar keilmuan terhadap sunah Nabi dan standar hisab kita tetap berpegang teguh terhadap hasil hisab yang telah ditetapkan sebelumnya, yakni beridul adha pada hari Kamis 20 Desember 2007.
Perlu diketahui bahwa sebelum memasuki tahun 1428 H, Dewan Hisab PP Persis telah menetapkan bahwa iedul adha 10 Dzulhijjah 1428 H jatuh pada hari Kamis, bertepatan dengan 20 Desember 2007 dan Shaum Arafah 9 Dzulhijjah 1428 H jatuh pada hari Rabu 19 Desember 2007. Hal itu ditetapkan dengan pertimbangan bahwa pada hari Ahad 9 Desember 2007 bertepatan dengan 29 Dzulqa’dah 1428 H. saat matahari terbenam Hilal bulan Dzulhijjah  tidak mungkin terlihat diseluruh Indonesia. Dengan demikian usia bulan Dzulqa’dah 1428 H digenapkan menjadi 30 hari dan 1 Dzulhijjah 1428 H jatuh pada hari Selasa, bertepatan dengan 11 Desember 2007. Shaum Arafah 9 Dzulhijjah 1428 H jatuh pada hari Rabu 19 Desember 2007, dan Idul Adha 10 Dzulhijjah 1428 H jatuh pada hari Kamis 20 Desember 2007Kesimpulan yang sama di tetapkan pula oleh Pemerintah setelah mendapat laporan dari Tim Hisab dan Rukyat Kantor Wilayah Departemen Agama di 29 lokasi di Indonesia, dari Jayapura hingga Banda Aceh yang menyatakan tidak melihat hilal. Oleh karena itu, pelaksanaan Iedul Adha hari iniKamis 20 Desember 2007 ini kita yakini sebagai takdir Allah yang terbaik.
Peristiwa tersebut semakin mempertebal keyakinan kita bahwa apa pun  yang terjadi dalam kehidupan manusia, hal itu merupakan takdir Allah yang terbaik. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya bila pada hari ini kita bertakbir, bertasbih, mengagungkan asma Allah.

ألله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله هو الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
‘Aidin wal ‘aidat rahimakumullah
Setiap manusia mempunyai kelemahan. Namun justru kelemahan inilah yang menyebabkan manusia berkembang dan berbahagia. Karena di balik kelemahan itu terdapat kemajuan, moderenisasi dalam bidang sosial, ekonomi, politik, dan teknologi, sehingga terjadi perubahan dipelbagai sektor kehidupan.
Sejak zaman Nabi Adam hingga sekarang ini, manusia senantiasa berusaha untuk menghilangkan kelemahan dirinya juga kelemahan orang lain, agar mendapatkan kehidupan yang lebih nikmat dan terhormat. Namun karena sadar terhadap kelemahannya itu, manusia bisa berubah menjadi “makluk buas” yang berbahaya bagi sesamanya. Menjadikan orang lain sebagai korban hawa nafsunya.
Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa memperhatikan kelemahan dirinya juga kelemahan orang lain. Suatu saat ketika Rasulullah saw. hendak menyembelih kambing, para sahabat sibuk mencari dan memperhatikan kelemahan kawannya. Seorang sahabat menghadap Rasul seraya berkata “ya Rasulallah alayya dzabhuha-wahai Rasulullah biarlah saya yang menyembelihnya”. Melihat hal ini, sahabat yang lain tidak tinggal diam, lalu ia berkata, “alayya salhuha-biarlah saya yang mengulitinya”. Demikian pula sahabat yang lain berkata, “alayya thabkhuha-biarlah saya yang memasaknya”. Memperhatikan sikap para sahabatnya ini, Rasulullah memandang masih ada satu kelemahan yang harus ditutupi, karena itu beliau segera menutupinya dengan mengatakan, “alayya jam’ul hathabi-biarlah saya yang mencari kayu bakarnya”.
Peristiwa ini menjadi ibrah bagi kita, bahwa sudah sepantasnya bila kaum muslimin memperhatikan kelemahan sesamanya. Setelah dipelajari, barulah ia menyingsingkan lengan baju untuk menutupi kelemahan itu menurut kemampuan masing-masing, baik dengan harta, tenaga, maupun pikiran. Dengan diketahuinya kelemahan orang lain, maka terbukalah lapangan yang luas untuk beramal salih, bertaqarrub kepada Allah dengan penuh ketakwaan.
Apabila jiwa qurbani seperti ini tertanam pada setiap manusia, maka tidak perlu ada si miskin menangis, si faqir meringis, orang yang merasa terasingkan hidup di daerah terpencil, dan merasa kesepian hidup di kota metropolitan.
Apabila jiwa qurbani seperti ini tetap segar dan mendarah daging pada diri tiap pemimpin, maka tidak akan ada pegawai negeri yang merasa kekurangan gaji, ibu rumah tangga berkeluh kesah, pemuda yang bejat moral dan kehilangan pegangan hidup serta masa depannya, sehingga masyarakat menjadi aman dan tentram.
Namun sebaliknya, apabila jiwa qurbani tidak ada pada diri manusia, maka kelemahan orang lain bukan dijadikan modal untuk beramal salih melainkan dijadikan kesempatan dalam kesempitan, dijadikan korban hawa nafsunya, sehingga kehidupan penuh dengan kemunkaran.
Aidin wal ‘aidat rahimakumullah
Ketika Rasulullah saw. mendapatkan tugas amar ma’ruf nahi munkar, kaum jahiliah merasa tertutup ruang geraknya untuk memanfaatkan kelemahan orang lain, menguras keuntungan. Maka diutuslah Utbah bin Rabi’ah membawa misi untuk membujuk Rasul agar berhenti berdakwah, dengan memberikan ganti rugi apabila Rasul merasa rugi dengan berhentinya tugas itu.
Mereka berani melakukan hal demikian, karena beranggapan bahwa bagaimana pun kuatnya seekor banteng tetap saja ada kelemahan, akan tunduk pada tuannya apabila dicocoki lubang hidungnya. Demikian pula halnya dengan Rasulullah. Maka Utbah membawa misi untuk menundukkan kelemahan Rasul, sehingga Rasul menuruti kehendak kaum jahiliah.
Datanglah Utbah ke hadapan Rasul, kemudian ia meminta agar beliau menutup kegiatan dakwahnya, mengakhiri perjuangan menegakkan keadilan dan kebenaran, dicari-cari titik kelemahan beliau seraya menawarkan ganti rugi,
“Inkunta innama bihadzal amri malan, jama’naka min amwalina hatta takuna aktsarana malan
Jika dengan kegiatanmu itu sesungguhnya engkau mengharapkan harta, maka akan kami kumpulkan seluruh harta kami untukmu sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami.”
Utbah berani menawarkan harta kepada rasul, karena ia memandang bahwa manusia lemah ketika berhadapan dengan harta. Karena kelemahan terhadap harta itu, manusia menjadi lupa akan kewajiban dan hakikat perjuangannya.
Di samping itu Utbah pun berusaha menawarkan yang lainnya, “wainkunta turidu tasyrifan, sawwadnaka ‘alaina
dan sekiranya engkau ingin mendapatkan kedudukan, akan kami angkat menjadi pemimpin kami.”
“wain kunta turidu mulkan, mallaknaka ‘alaina
dan jika engkau menghendaki jadi raja, kami angkat engkau menjadi raja.” 
Utbah berani menawarkan pangkat dan tahta sebab manusia lemah pula ketika menghadapi tahta. Demi tahta rela menyembunyikan kebenaran.
Demikian pula manusia lemah pada saat menghadapi wanita. Karena lemahnya menghadapi wanita, maka manusia diperas dan diumpan dengan aneka ragam penampilan wanita.
Tapi Rasul telah menjaga dirinya dengan perisai keimanan dan ketakwaan yang luar biasa, sehingga beliau tidak lemah lagi ketika berhadapan dengan harta, tahta, maupun wanita. Beliau menolak tawaran ganti-rugi dari Utbah dan tetap amar ma’ruf nahi munkar.

Aidin wal ‘aidat rahimakumullah

Hari ini kita akan menyaksikan kembali hewan kurban bergelimpangan. Darahnya mengalir memerahi bumi yang fana ini. Setelah menunaikan baktinya, mereka melepaskan nyawanya dengan memberi banyak manfaat kepada manusia.
Sebelum disembelih, mereka penarik bajak di sawah atau gerobak dijalan. Sesudah disembelih, dagingnya jadi makanan manusia, kulitnya jadi pelindung kaki manusia, tulangnya jadi kancing baju manusia, segalanya bermanfaat. Mereka banyak berqurban dan membantu manusia.
Kini rabalah diri kita, qurban apakah yang sudah dibaktikan kepada Allah. Qurban apakah yang sudah diberikan kepada sesama hamba Allah.
Mudah-mudahan dengan Idul Adha ini kita dapat mengembalikan semangat dan jiwa qurbani sehingga mendarah daging pada diri kita masing-masing.
الله يأخذ بأيدينا إلى ما في خير للإسلام والمسلمين
أقول قولى هذا وأستغفر الله لي

Demikianlah ulasan mengenai Contoh Pidato Hari Raya Idul Adha atau Qurban. semoga bermanfaat. Terimakasih By. Penulis : M Amien - Semoga Bermanfaat
Posted by Fitri Jahe
Warna Sahabat Updated at: Tuesday, July 17, 2018

Sejarah qurban idul adha | Makna qurban idul adha | Hakikat qurban idul adha

Sejarah qurban - Sejarah qurban idul adha dijelaskan secara singkat dan jelas dalam Al Quran surat As Shoffat ayat 102. Dalam QS AS Shoffat tersebut bisa diceritakan sejarah qurban adalah sebagai berikut. Saat Ismail berusia remaja, ayahnya Ibrahim memanggil Ismail (anak Ibrahim) untuk mendiskusikan sesuatu. Ibrahim menceritakan kepada Ismail bahwa Ibrahim telah mendapatkan perintah dari Allah melalui mimpi untuk menyembelih Ismail. Dari sini, Ibrahim menanyakan kepada Ismail: "Bagaimana menurutmu, wahai Ismail?"




Lantas, Ismail menjawab: "Wahai ayah, laksanakan perintah Allah yang dimandatkan untukmu. Saya akan sabar dan ikhlas atas segala yang diperintahkan Allah," ujar Ismail kepada ayahnya, Ibrahim. Dalam hal ini, Ibrahim mengkonfirmasikan mimpinya jangan-jangan mimpinya datang dari setan. 

Ternyata tidak, Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah sebanyak 3 (tiga) kali melalui mimpi. Setelah mendapatkan petunjuk dan yakin bahwa itu adalah perintah Allah, maka Ibrahim dengan ikhlas akan menyembelih puteranya sendiri, yaitu Ismail. 

Setelah Ibrahim dan Ismail kedua-duanya ikhlas untuk menjalankan perintah Allah, ternyata Allah mengganti Ismail menjadi domba. Dari peristiwa ini, sudah mulai bisa diketahui arti, makna, dan hakikat idul adha qurban. Peristiwa ini kemudian dijadikan sebagai hari raya umat Islam selain hari raya idul fitri.


Arti qurban idul adha


Arti kata idul adha qurban ada dua makna. Pertama, arti qurban adalah dekat yang diambil dari bahasa Arab Qarib. Pandangan umum mengatakan bahwa qurban adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. 



Kedua, arti qurban adalah udhhiyah atau bisa dikatakan dhahiyyah yang artinya adalah hewan sembelihan. Dari arti makna qurban ini, maka menjadi tradisi sebagaimana lazim dilakukan umat muslim di dunia untuk menyembelih hewan dengan cara kurban atau mengorbankan hewan yang menjadi sebagian hartanya untuk kegiatan sosial. 

"Tradisi kurban dalam hari raya idul adha memiliki dua dimensi. Pertama, makna qurban memiliki dimensi ibadah-spiritual. Kedua, makna qurban punya dimensi sosial," ujar Lismanto, pencetus teori aktualisasi syariat (dalam Hukum Islam Progresif, 2014) saat dihubungi Islamcendekia.com via telepon. 


Dimensi ibadah dalam tradisi qurban, lanjut Lismanto, sudah jelas menjadi bentuk ketaatan hamba kepada Tuhannya. Ketaatan itu harus dilandasi dengan rasa ikhlas sepenuhnya, sehingga kita menjadi dekat dengan Allah. Hal inilah yang dimaksud qurban dalam pengertian ibadah, yakni qarib. 


Sementara itu, tutur Lismanto, dimensi sosial dalam tradisi qurban sudah bisa dibaca dengan kasat mata bahwa ibadah qurban memberikan kesejahteraan kepada lingkungan sosial berupa daging kurban yang notabene hanya bisa dijangkau kalangan elite. "Ini berlaku di desa, bukan di kota-kota yang memang sudah terbiasa makan daging. Dengan qurban dari perspektif sosial, ini menjadi bagian dari ketakwaan kita kepada Allah secara horizontal," imbuh Lismanto. 



"Jadi, Allah selalu memerintah hamba-Nya untuk selalu mengharmonisasikan antara ibadah vertikal (hablum minallah) dan ibadah horizontal (hablum minannas). Keduanya berjalan beriringan tanpa ada sekat dan harus senantiasa berdialektika," tutur Lismanto. 


Dari penjelasan tersebut, kita bisa simpulkan bahwa arti qurban dalam tradisi idul adha memiliki dua makna. Makna pertama merujuk pada kata qarib yang identik pada ibadah vertikal, dan arti qurban kedua merujuk pada makna kata udhhiyah atau dhahiyyah yang dilekatkan pada ibadah horizontal. 

Kurban idul adha diambil dari bahasa Arab, yaitu qaruba, yaqrabu, dan qurban wa qurbaanan di mana artinya adalah mendekati atau menghampiri. Sementara itu, arti kata qurban secara harfiah berarti hewan sembelihan yang diambil dari kata udhhiyah atau dhahiyyah. 


Makna qurban idul adha


Makna dan arti adalah dua kata yang bisa jadi berbeda. Arti lebih kepada arti secara eksplisit atau kasat mata. Sementara itu, makna mengharuskan sebuah tafsir yang mendalam atas suatu teks. Dari sini makna qurban dalam tradisi idul adha dimaknai lebih dalam sebagai sebuah bentuk ketakwaan kita kepada Allah. 


Makna qurban dalam idul adha adalah bahwa kita harus ikhlas dalam menjalankan cobaan dari Allah. Kata lainnya adalah saat kita "disembelih" Allah, maka ikhlaslah dan bertawakal sehingga dengan keikhlasan itu kita akan mendapatkan "domba" sebagai penggantinya. 

Sayangnya, saat kita menjadi bagian dari sembelihan Allah, kemungkinan kita tidak ikhlas dan berat sehingga tentu kita tidak mendapatkan gantinya berupa domba. Oleh karena itu, atas segala sesuatu yang terjadi kepada kita karena cobaan dari Allah, kita mesti ikhlas menjalaninya. 

Muhammad Ainun Najib atau yang lebih akrab disapa Cak Nun dalam hal quran idul adha, menjelaskan, kalau kita sedang "disembelih" Allah, maka kita harus ikhlas dan tulus agar kita mendapatkan domba sebagaimana Ibrahim menyembelih Ismail. Masalahnya, kita seringkali tidak ikhlas saat disembelih Allah. Inilah hal yang paling berat, yaitu ikhlas dan tulus. Demikian arti dan makna qurban dalam idul adha menurut Emha (Muhammad) Ainun Najib (Cak Nun). 


Hakikat qurban idul adha



Hakikat qurban idul adha adalah bahwa kita harus kembali kepada tujuan hidup, yaitu beribadah kepada Allah. Karena manusia dan jin tidaklah diciptakan, kecuali untuk beribadah. 


Sebagaimana ujian Allah kepada nabi Ibrahim, hikmah dari segala peistiwa qurban tidak lain tidak bukan adalah untuk memperoleh ridha Allah melalui ibadah dengan menjalankan apa yang menjadi perintah Allah. Namun, tidak sekadar ibadah, kita harus ikhlas dalam menjalankan setiap perintah Allah. Kalau tidak, apa yang kita kerjakan dan menurut kita ibadah, itu menjadi sia-sia karena tidak dilakukan dengan ikhlas. Inilah hakikat dari peristiwa qurban dalam idul adha. 

Sebagaimana arti kata qurban yang bermakna qarib atau dekat kepada Allah, maka hakikat kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Karena itu, makna qurban dalam pengertian Islam adalah bentuk pendekatan diri kita kepada Allah melalui lantaran hewan ternak yang dikurbankan atau disembelih. 

Dengan begitu, kita merelakan sebagian harta kita yang sebetulnya milik Allah untuk orang lain. Ini menjadi bagian dari ketaatan kita kepada Allah. Syaratnya, dalam qurban kita harus benar-benar untuk mencari ridha Allah, bukan untuk yang lain. Inilah hakikat qurban dalam Islam yang sebenarnya. 



Demikian arti, makna dan hakikat qurban idul adha dalam tradisi Islam yang dibangun sejak sepeninggal Nabi Ibrahim sampai sekarang. Semoga artikel tentang arti makna dan hakikat qurban idul adha dalam Islam memberikan manfaat nyata kepada pembaca untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Posted by Fitri Jahe
Warna Sahabat Updated at: Tuesday, July 17, 2018

DOA BUKA PUASA

Doa Buka Puasa. Sahabat Warna kali ini admin akan sedikit membahas mengenai Bacaan Doa Buka Puasa (shaum). Ada beberapi referensi terkait doa berbuka puasa, Untuk lebih jelasnya dan menjadi sedikit tahu  mengingatkan agar tidak lupa lagi dan salah melafalkan doa buka puasa tersebut. doa Buka Puasa yang admin akan sajikan buat anda semuanya mudah-mudah bermanfaat.


Keutamaan Berdoa 

Seperti yang dijelaskan Dalam Alquran, Allah swt berfirman :

وَإِذَاسَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّىفَإِنِّىقِرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَالدَّاعِى إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبوُالِى وَلْيُؤْمِنُوابِىلَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (jawablah) bahwa Aku ini Maha Dekat. Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk." Q.s. Al-Baqarah:186

Ayat tersebut ditempatkan di antara ayat-ayat shaum, namun ia tidak berbicara tentang shaum. Penempatan atau penyisipan ayat itu pada pembahasan tentang shaum tentu bukan suatu kebetulan ataupun ketidaksengajaan, namun mempunyai rahasia atau maksud tersendiri. Hemat kami ayat tersebut menjadi dilalatul isyarah (keterangan berbentuk isyarat) bahwa kaum mukminin sangat dianjurkan berdoa di bulan Ramadhan, karena bulan Ramadhan adalah saat diijabahnya doa, terutama saat berbuka shaum.. Hal itu sebagaimana diterangkan oleh Abdullah bin Amr bin al-Ash bahwa Rasulullah saw. bersabda 


إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَاتُرَّدُ

"Sesungguhnya bagi orang yang shaum, ketika ia berbuka, ada satu doa yang pasti diijabah " H.r. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II:350.
Hadis tersebut diriwayatkan pula oleh al-Hakim, al-Mustadrak I:583, al-Baihaqi, Syu’abul Iman III:407, al-Mundziri, at-Targhib wat Tarhib II:53, Abu Daud at-Thayalisi, Musnad at-Thayalisi, hal. 229, dengan sedikit perbedaan redaksi.
 
Hadis di atas menunjukkan bahwa pada bulan Ramadhan itu ada waktu yang lebih dianjuran untuk berdoa, yakni saat berbuka shaum. Namun yang sering menjadi pertanyaan, apakah redaksi doa pada waktu itu manshush (ditentukan) ataukah ghair manshush (tidak ditentukan). Inilah permasalahan yang perlu dikaji secara mendalam.
Redaksi Doa Berbuka Shaum


Berdasarkan penelitian kami, hadis-hadis tentang berdoa ketika berbuka shaum diriwayatkan oleh sekitar 12 mukharrij (pencatat hadis) dengan redaksi sebagai berikut:


أَنَّ النَّبِيَ r كانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ.

Sesungguhnya Nabi saw. apabila berbuka, beliau mengucapkan, “Ya Allah, hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkaulah aku berbuka"


Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Sunan Abu Daud, I: 529, Al Baihaqi, As-Sunanul Kubra, IV: 239, dan Syu’abul Iman, III : 407, dari Muadz bin Zuhrah. Ibnu Abu Syaibah, al-Mushanaf, II : 344 dari Abu Hurairah, dan Ad-Daraqutni, Sunan Ad-Daraquthni, II : 185 dari Ibnu Abas. Namun pada riwayat At-Thabrani, al Mu’jamul Kabir XII : 146, dari Ibnu Abas terdapat tambahan fataqabbal minni innaka antas sami’ul ‘aliim, dari Abu Zuhrah. Sedangkan pada riwayat At-Thabrani lainnya (Al-Mu’jamu As Shaqir, II : 133, Al Mu’jamu Al Ausat, VIII : 270) dari Anas bin Malik, terdapat tambahan “bismillah” di awalnya.


Hadis tersebut diriwayatkan pula oleh Al-Harits bin Abu Usamah dan Al-Haitsami dari Ali bin Abu Thalib, dengan redaksi

قَالَ لِيْ رَسُولُ اللهِ r يا عَلِيُ … إِذَا كُنْتَ صَاِئمًا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَقُلْ بَعْدَ اِفْطَارِكَ اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَلْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ تُكْتَبُ لَكَ مِثْلَ مَنْ كَانَ صَاِئمًا مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْتَقَصَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئًا…


“Rasulullah saw. berkata kepadaku, ‘Ya Ali… Apabila engkau shaum pada bulan Ramadhan maka ucapkanlah (berdoalah) setelah kamu berbuka, ’ Ya Allah, hanya karena Mu aku shaum, hanya kepada-Mu aku bertawakal, dan atas rezeki-Mu aku berbuka,’ maka akan dicatat bagimu pahala seperti pahala yang shaum tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka…” (Musnad al- Harits [Zawaid Al Haitsami] I : 526/CD al-Maktabah al-Alfiyah)

b) كَانَ رَسُولُ الله r إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: الحَمْدُ للهِ الَّذي أَعَانَنِي فَصَمْتُ، وَرَزَقَنِي فأفْطَرْتُ.‏



Rasulullah saw. apabila berbuka, beliau berdoa, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepadaku, maka aku shaum, dan telah memberi rezeki kepadaku, maka aku berbuka’.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’abul Iman, III : 407. Dari Muadz bin Zuhrah.

Berdasarkan penelitian kami, hadis-hadis tentang berbuka shaum dengan redaksi di atas tidak ada satu pun yang sahih, karena itu tidak dapat diyakini sebagai redaksi doa yang diucapkan oleh Nabi saw. Adapun keterangan tentang kedaifan hadis-hadis di atas telah diterangkan oleh Tim Hadis Daif, pada al Qudwah No. 43, rubrik Hadits Dhaif, hal. 33-36. Sementara doa yang memakai tambahan kalimat wabika amantu

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَىرِزْ قِكَ أَفْطَرْتُ


tidak didapatkan satu riwayat pun walaupun yang da'if.


Kemudian kami temukan pula hadis lain dengan redaksi sebagai berikut:



Sedangkan tentang berdoa ketika berbuka shaum dengan redaksi
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ


Diriwayatkan oleh Abu Daud, Sunan Abu Daud, II : 529, Al-Hakim, al-Mustadrak, I : 422, Al-Baihaqi, as-Sunanul Kubra, II : 255, Ad-Daraqutni, Sunan ad-Daraquthni, II : 185, An Nasai, as-Sunanul Kubra, II:255, An-Nasai, Amalul Yaumi wal Lailah, I: 268/CD al-Maktabah al-Alfiyah, dan Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, III : 407, secara mualaq.


Walaupun hadis di atas dicatat pada tujuh kitab, namun semuanya melalui rawi bernama Marwan bin Salim al-Muqaffa. Ibnu Hajar, pada kitab Taqribut Tahdzib (terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1995, II:171, No. biografi: 6590) menulis al-Muqaffa - biqaf, tsumma fa tsaqilah -; Lihat juga Lisan al-Mizan, VII:382 dan Tahdzibut Tahdzib, X : 93. Demikian pula menurut Al-Bukhari pada at-Tarikhul Kabir, VII:374; Al-Mizzi pada Tahdzibul Kamal, XXVII :390-392; Adz-Dzahabi pada Mizanul I’tidal, IV : 91 dan al-Kasyif, III : 142; Ibrahim bin Muhamad al-Halbi pada al-Kasyful Hatsits, 1987:255; Ibnu Hiban, pada Kitab ats-Tsiqat III:54. Namun pada Taqribut Tahdzib, terbitan Dar al-Fikr, Beirut, 1995, II:577, No. biografi: 6841 dan Dar al-Rasyid, Syria, 1986, hal. 526, No. biografi 6569, tertulis al-Mufaqqa (bifa, tsumma qaf tsaqilah). Sedangkan pada Faidhul Qadir II:172, Abdurrauf al-Manawi menyebut al-Muqni’i. menyebut Marwan bin al-Muqaffa.


Marwan memiliki seorang guru bernama Abdullah bin Umar (sahabat Nabi) dan dua orang murid bernama (a) al-Husain bin Waqid dan (b) ‘Azrah bin Tsabit al-Anshari. Sejauh penelitian kami, rawi ini tidak dikenal kecuali pada hadis ini saja. Meskipun dimuat pada berbagai kitab rijalul hadits, namun tidak ada seorang ulama pun yang men-ta’dil dan men-jarh-nya. Kami tidak habis pikir, kenapa ulama setingkat Al-Bukhari, Al-Mizzi, dan Adz-Dzahabi, tidak berkomentar apapun terhadap rawi ini, padahal rawi ini dicatat pada kitab mereka.


Kemudian kami berusaha untuk mengetahui sikap Ibnu Hajar, sebagai seorang ahli hadis abad XII, terhadap Marwan dan periwayatannya. Pada berbagai kitab rijal hadis yang disusunnya, beliau tidak berkomentar. Namun hanya menerangkan sikap Ibnu Hiban pada rawi tersebut. Pada kitabnya Lisanul Mizan II:382, beliau menyatakan, “Wawatsaqqahubnu Hiban (dia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hiban)” Sedangkan pada kitabnya Tahdzibut Tahdzib, X : 93, beliau menyatakan, “Dzakarahubnu Hibana fis Tsiqat (Ibnu Hiban menerangkannya pada kitab at-Tsiqat)”.


Sebagaimana telah kami kemukakan pada al Qudwah No. 39, bahwa untuk menetapkan status rawi yang majhul, Ibnu Hiban memiliki kaidah atau standar tersendiri yang tidak sesuai dengan standar umum para ulama, yaitu dengan memperhatikan siapa guru atau muridnya. Apabila murid atau gurunya da’if, maka orang tersebut benar-benar majhul menurut beliau. Sedangkan apabila murid atau gurunya itu tsiqat, maka orang tersebut tidak majhul. kaidah atau standar Ibnu Hiban, justru ditolak oleh Ibnu Hajar dengan menyatakan “Pendapat Ibnu Hiban ini –yaitu seorang rawi bila dinafikan majhul ain-nya maka rawi itu termasuk adil, selama tidak jelas jarh-nya- adalah pendapat yang mengherankan, berbeda dengan madzhab jumhur. Dan ini metode Ibnu Hiban pada kitab-nya at-Tsiqat. Dengan demikian, apabila ada keterangan bahwa seorang rawi watsaqahub hiban atau wadzakarahubnu hibban fikitabi at-tsiqat itu menunjukkan bahwa terjadi perbedaan pendapat di antara ulama dalam menilai rawi seperti itu, yakni Ibnu Hiban menerimanya sedangkan imam yang lain menolaknya. (lihat, Muqaddimah al Majruhin, I:huruf lam)


Namun dalam menyikapi Marwan yang majhul, Ibnu Hajar yang dikenal sangat kritis terhadap Ibnu Hiban, justru meruju’ pada sikap Ibnu Hiban sendiri.


Sedangkan pada kitabnya Taqribut Tahdzib (II:171, No. biografi: 6590), Ibnu Hajar menyatakan maqbul


Adapun tentang ungkapan maqbul Ibnu Hajar ditujukan terhadap rawi yang sedikit hadisnya serta tidak ada yang men-jarh (mencela) juga yang men-ta’dil. Jika ada mutabi’ (periwayatan rawi lain sebagai penguat), rawi itu dinilai maqbul. Namun jika tidak ada, rawi itu dikategorikan layyinul hadits (tidak dapat dipakai hujjah bila meriwayatkan hadis sendirian) oleh Ibnu Hajar (lihat, Taqribut Tahdzib, I:8; Syifa-ul ‘Alil, I:301). Dengan demikian, pernyataan maqbul Ibnu Hajar itu menunjukkan bahwa Marwan tidak maqbul, karena sampai saat ini kami tidak menemukan jalur periwayatan lain, sebagai mutabi’ atau syahid bagi Marwan. Kemudian dengan memperhatikan jumlah murid Marwan hanya dua orang, menurut kaidah Ibnu Hajar, Marwan dikategorikan sebagai rawi mastur atau majhul hal. Dan apabila hadis dari rawi mastur ini diriwayatkan pula oleh rawi lainnya, maka derajatnya menjadi hasan lighairi (Lihat, Taqribut Tahdzib, I:8; Nuzhatun Nazhar, hal. 24/Manhaj Dirasah al-Asanid wal Hukmu ‘alaiha, 1997:44)


Kemudian dalam menyikapi hadis di atas, Ibnu Hajar mengutip pernyataan Ad-Daraquthni bahwa sanad hadis itu hasan. Sedangkan dalam menyikapi doa lainnya, beliau bersikap tegas dengan menyatakan kedaifannya (Lihat, Talkhisul Habir, II:802). Sikap Ibnu Hajar terhadap pernyataan Ad-Daraquthni ini diterangkan oleh Al-Albani dengan ungkapan Waaqarrahul hafizh fit talkhis (Pernyataan Ad-Daraquthni diakui oleh al-Hafizh pada kitab at-Talkhis) (Lihat, Irwa-ul Ghalil, IV:39). Setelah sekian lama mempelajari kaidah sahih dan hasan versi Ibnu Hajar, kami menjadi tidak paham ketika Ibnu Hajar menyetuji pernyataan hasan Ad-Darquthni. Padahal Ibnu Hajar sendiri mensyaratkan bahwa periwayatan rawi mastur terangkat derajatnya menjadi hasan jika ada mutabi’. Dalam hal ini beliau dan Ad-Daraquthni tidak mengemukakan satu pun mutabi’ bagi periwayatan Marwan di atas.


Sikap Ad-Daraquthni dan Ibnu Hajar terhadap periwayatan Marwan di atas dijadikan rujukan oleh para ulama generasi selanjutnya seperti As-Syaukani dalam Nailul Authar, Muhamad Syamsul Haq dalam Aunul Ma’bud, Abdurrauf al-Manawi dalam Faidhul Qadir, Muhamad bin ‘Alan as-Shidiqi dalam al-Futuhatur Rabbaniyyah Syarah Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi, Syekh Manshur Ali Nashief dalam at-Taj lijami’ al-Ushul, Syekh Nashirudin al-Albani dalam Irwaul Ghalil, Dr. Syu’aib al-Arnauth dalam tahqiq Zadul Ma’ad karya Ibnu Qayyim, Syu’abul Iman, Jami’ul Ushul karya Ibnul Atsir, Syarhus Sunnah karya al-Baghawi, dan Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu.


Sikap yang paling mengagumkan terhadap periwayatan Marwan di atas justru ditunjukan oleh Imam As-Suyuthi pada kitabnya al-Jami’us Shaghir dengan menulis rumus صح , yang berarti hadis dzahabad zhama adalah sahih menurut beliau. Padahal kriteria shahih yang ditetapkan oleh beliau sendiri rawi-rawinya harus ‘adil dan tammud dhabti (Lihat, Tadribur Rawi, hal. 31; Alfiyah as-Suyuthi, hal. 3) Sedangkan pada kitab al-jami’ li Ahaditsil Kabir-nya, beliau tidak berkomentar apapun.


Setelah kami meneliti dengan cukup susah payah, lalu dengan menghargai dan menghormati jerih payah para ulama seperti sukut (diam)-nya Abu Daud, pernyataan hasan dari Ad-Daraquthni, bahkan pernyataan sahih dari as-Suyuthi, serta dimasukkannya Marwan oleh Ibnu Hiban pada kitab-nya al-Tsiqat, kami berkesimpulan redaksi doa inilah yang paling baik untuk diucapkan pada saat berbuka saum.

Dalam hal ini ada beberapa riwayat yang menerangkan lafazh-lafazh doa ketika berbuka shaum, seperti

Abu Daud meriwayatkan dari Muadz bin Zuhrah bahwa Rasulullah saw. apabila berbuka shaum mengucapkan :

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَىرِزْقِكَ أَ فْطَرْتُ

Artinya: "Ya Allah, hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkaulah aku berbuka," (Sunan Abu Daud II:528)

Kemudian dalam riwayat Thabrani disebutkan :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَلِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ص إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ



"Dari Anas bin Malik, ia mengatakan, 'Rasulullah saw. apabila berbuka shaum mengucapkan, Dengan nama Allah, ya Allah, hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkaulah aku berbuka, " (Al-Mu'jamul Ausath VIII:270).


Masih menurut riwayat Ath-Thabrani, Ibnu Abbas mengatakan :
كَانَ النَّبِىُّص إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْ قِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّ إِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيمُ


"Nabi saw. apabila berbuka mengucapkan : Hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkau aku berbuka. Maka terimalah dariku karena sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui," (Al-Mu'jamul Kabir XII:146).

Keterangan :

Pada sanad hadis Abu Daud terdapat kelemahan, yaitu Muadz bin Zuhrah. Ia bukan seorang sahabat melainkan seorang tabi'in. Dengan cara periwayatannya ia disangka seorang sahabat. Karena itu hadis itu dhaif mursal.

Hadis At-Thabrani I juga dhaif, bahkan dikategorikan sebagai hadis maudhu'. Dan kalaupun tidak termasuk hadis maudhu', hadis matruk sudah tentu. Pada sanadnya terdapat seorang rawi bernama Daud bin Az-Zibirqan. Menurut Ya'qub bin Syu'bah dan Abu Zur'ah, "ia itu matruk (tertuduh dusta)". Sedangkan Ibrahim bin Ya'qub al-Jurjani mengatakan, "Kadzdzab (pendusta" (Tahdzibul Kamal XIII:394-395).

Hadis At-Thabrani II juga dhaif bahkan palsu, karena terdapat seorang rawi bernama Abdul Malik bin Harun. Abu Hatim berkata, "Ia itu matruk, menghilangkan hadis". Yahya bin Main mengatakan, "Ia itu kadzdzab". Ibnu Hiban mengatakan, "Ia itu membuat hadis palsu". (Lisanul Mizan IV:71).

Keterangan-keterangan di atas menunjukkan bahwa ada beberapa lafazh doa berbuka shaum yang konon diucapkan oleh Nabi, namun sejauh penelitian kami berdasarkan kaidah kesahihan hadis, maka semua hadis tentang doa shaum dengan redaksi di atas tidak ada satupun yang shahih, bahkan terdapat hadis yang disinyalir sebagai hadis maudhu' (palsu).

Karena semua hadis tentang doa-doa di atas mengandung kelemahan, artinya tidak dapat dipastikan dari Nabi, maka ketika kita hendak mempergunakan doa itu untuk berbuka shaum, hendaknya kita tidak meyakini sebagai doa Nabi. Adapun redaksi doa yang pernah diucapkan oleh Nabi adalah sebagai berikut.

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Nabi saw. apabila berbuka mengucapkan : 

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ


"Telah hilang dahaga, terbasahi tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala insya Allah,"
(Aunul Ma'bud VI:482).

Sejauh penelitian kami hanya hadis inilah yang benar-benar sahih. Karena itu apabila hendak berdoa ketika berbuka shaum, maka redaksi doa ini yang lebih afdhal atau sangat dianjurkan untuk diucapkan. Wallahu A'lam.

Hemat kami redaksi (lafazh) doa pada waktu berbuka shaum itu ghair manshush, artinya pada saat berbuka kita boleh berdoa dengan apa saja yang kita kehendaki. Namun bila dilihat dari segi afdhaliyat (keutamaan), maka redaksi doa yang dipergunakan oleh Nabi tentu lebih utama kita amalkan.

وجدت الكلمات في الحديث رقم:
1/480 روينا في سنن أبي داود والنسائي، عن ابن عمر رضي اللّه عنهما قال:
كان النبيّ صلى اللّه عليه وسلم إذا أفطر قال: "ذَهَبَ الظَّمأُ، وابْتَلَّتِ العُرُوقُ، وَثَبَتَ الأجْرُ إِنْ شاءَ اللَّهُ تَعالى".
قلت: الظمأ مهموز الآخر مقصور: وهو العطش. قال اللّه تعالى: {ذلكَ بأنهُمْ لا يُصِيبُهُمْ ظَمأُ} [التوبة:120] وإنما ذكرت هذا وإن كان ظاهراً لأني رأيتُ مَن اشتبه عليه فتوهمه ممدود
2/481 وروينا في سنن أبي داود، عن معاذ بن زهرة أنه بلغه؛
أن النبيّ صلى اللّه عليه وسلم كان إذا أفطر قال:"اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ" هكذا رواه مرسَلا
3/482 وروينا في كتاب ابن السني، عن معاذ بن زهرة قال:
كان رسولُ اللّه صلى اللّه عليه وسلم إذا أفطر قال: "الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي أعانَنِي فَصَمْتُ، وَرَزَقَنِي فأفْطَرْتُ"
4/483 وروينا في كتاب ابن السني، عن ابن عباس رضي اللّه عنهما قال:
كان النبيّ صلى اللّه عليه وسلم إذا أفطر قال: "اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنا، وَعلى رِزْقِكَ أَفْطَرْنا، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إنَّكَ أنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ"
5/484 وروينا في كتابي ابن ماجه وابن السني، عن عبد اللّه بن أبي مليكة عن عبد اللّه بن عمرو بن العاص رضي اللّه عنهما قال:
سمعت رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم يقول: "إنَّ للصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً ما تُرَدُّ" قال ابن أبي مُليكة: سمعتُ عبد اللّه بن عمرو إذا أفطرَ يقول:"اللَّهُمَّ إني أسألُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْء أنْ تَغْفِرَ لي".

(480) أبو داود (2357) وإسناده حسن.

(481) أبو داود (2358) وله شاهدان عند الدارقطني والطبراني يقوى بهما.

(482) ابن السني (480) قال الحافظ: وهو محقق الإرسال، وفي زيادة الرجل الذي لم يسمِّه ما يُعَلُّ به.

(483) ابن السني (481) وقال الحافظ: هذا حديث غريب وسنده واهٍ جداً. الفتوحات 4/341.

(484) ابن ماجه (1753) ، وابن السني (482) وإسناده حسن.

Pada keterangan lain Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ


“Ada tiga golongan yang tidak tertolak doanya; orang shaum sampai berbuka, imam yang adil, dan orang yang dizhalimi..” H.r. Ibnu Majah, At-Tirmidzi, dan Ahmad

فصل 1469 عن عبد الله يعني ابن أبي مليكة عن عبد الله يعني ابن عمرو بن العاصي رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن للصائم عند فطره لدعوة ما ترد قال وسمعت عبد الله يقول عند فطره اللهم إني أسألك برحمتك التي وسعت كل شيء أن تغفر لي - رواه المنذري , الترغيب والترهيب 2: 53 - زاد في رواية ذنوبي رواه البيهقي عن إسحاق بن عبيد الله عنه وإسحاق هذا مدني لا يعرف والله أعلم

1743 حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْمَدَنِيُّ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي مُلَيْكَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ قَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو يَقُولُ إِذَا أَفْطَرَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي – رواه ابن ماجة –

3522 حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ عَنْ سَعْدَانَ الْقُمِّيِّ عَنْ أَبِي مُجَاهِدٍ عَنْ أَبِي مُدِلَّةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ قَالَ أَبمو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَسَعْدَانُ الْقُمِّيُّ هُوَ سَعْدَانُ بْنُ بِشْرٍ وَقَدْ رَوَى عَنْهُ عِيسَى بْنُ يُونُسَ وَأَبُو عَاصِمٍ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ كِبَارِ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَأَبُو مُجَاهِدٍ هُوَ سَعْدٌ الطَّائِيُّ وَأَبُو مُدِلَّةَ هُوَ مَوْلَى أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ وَإِنَّمَا نَعْرِفُهُ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَيُرْوَى عَنْهُ هَذَا الْحَدِيثُ أَتَمَّ مِنْ هَذَا وَأَطْوَلَ * - الترمذي –


1742 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سَعْدَانَ الْجُهَنِيِّ عَنْ سَعْدٍ أَبِي مُجَاهِدٍ الطَّائِيِّ وَكَانَ ثِقَةً عَنْ أَبِي مُدِلَّةَ وَكَانَ ثِقَةً عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ دُونَ الْغَمَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ بِعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ * - إبن ماجة –


120 كان إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله د ك عن ابن عمر كان إذا أفطر قال ذهب الظمأ مهموز الآخر مقصور العطش قال تعالى ذلك بأنهم لا يصيبهم ظمأ ذكره في الأذكار قال وإنما ذكرته وإن كان ظاهرا لأني رأيت من اشتبه عليه فتوهمه ممدودا وابتلت العروق لم يقل ذهب الجوع أيضا لأن أرض الحجاز حارة فكانوا يصبرون على قلة الطعام لا العطش وكانوا يتمدحون بقلة الأكل لا بقلة الشرب وثبت الأجر قال القاضي هذا تحريض على العبادة يعني زال التعب وبقي الأجر إن شاء الله ثبوته بأن يقبل الصوم ويتولى جزاءه بنفسه كما وعد إن الله لا يخلف الميعاد وقال الطيبي قوله ثبت الأجر بعد قوله ذهب الظمأ استبشار منه لأنه من فاز

Tata Cara Berdoa

Ditinjau dari segi jenis doa itu ada dua macam. Pertama, tsanain/hamdin (puji-pujian atau sanjungan). Kedua, sualin (permintaan). Kemudian ditinjau dari segi waktu/tempat dan redaksinya ada manshush dan Ghair manshush. Manshush dalam istilah penulis berarti berdoa dengan lafazh-lafazh tertentu pada waktu/tempat yang telah ditentukan. Seperti subhana rabbiyal azhiem ketika ruku dan subhana rabbiyal a'laa ketika sujud. Sementara ghair manshush berarti berdoa dengan lafazh bebas sesuai dengan keinginan orang yang mengucapkannya pada tempat-tempat yang tidak ditentukan. Atau lafazh bebas pada waktu/tempat yang telah ditentukan. Seperti ketika sujud setelah doa diatas.

Demikianlah ulasan mengenai Bacaan Doa Buka Puasa dan Artinya. mudah-mudah bermanfaat terimakasih
Posted by Fitri Jahe
Warna Sahabat Updated at: Sunday, April 15, 2018

Hikmah Puasa Ramadhan | Bacaan Doa Buka Puasa | Doa Menyambut Bulan Puasa (Ramadhan)

Hikmah Puasa. Sahabat Warna Sehubungan Datangnya Bulan Ramadhan dengan itu marilah kita persiapkan diri, dengan cara mengevaluasi kualitas ibadah shaum kita di tahun-tahun sebelumnya, untuk segera dilakukan koreksi di tahun sekarang andaikata kita masih diberi kesempatan untuk melaksanakannya pada tahun ini, sehingga shaum di tahun ini merupakan shaum terakhir yang paling baik dari sekian banyak ibadah shaum yang telah kita laksanakan sepanjang hayat, karena kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih dapat kesempatan untuk melaksanakannya atau tidak. Hal itu merupakan perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah swt.


Hikmah Puasa Ramadhan

Dilihat dari sisi penamaan, bulan Ramadhan tidak ada bedanya dengan bulan-bulan yang lain.. Abul Qasim Al-Husain bin Muhamad, yang populer dengan sebutan Ar-Raghib al-Asfahani, pada kitabnya al-mufradat fi gharibil quran, hal. 203, memberikan penjelasan bahwa Ramadhan berasal dari kata ar-Ramdhu, artinya: شدَّةُ وَقْعِ الشَّمْسِ yaitu sangat panasnya matahari (panas panon poe kacida nyebretna). 

Menurut al-Mawardi (Tafsir Al-Qurthubi, II:291), pada masa jahiliyyah bulan ini bernama natiq (melelahkan). Kemudian diganti oleh generasi berikutnya menjadi Ramadhan. Adapun penamaan bulan ini dengan Ramadhan, karena berbagai latar belakang.

1. kondisi cuaca
Menurut Az-Zamakhsyari, orang-orang Arab mengambil nama bagi bulan-bulan itu dari bahasa terdahulu (buhun). Orang Arab jahiliyyah menamai bulan-bulan itu disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada saat itu. Karena pada waktu itu cuaca/udara sangat panas, maka bulan ini oleh mereka diberi nama Ramadhan. Rawa-i’ul Bayan, I:190. 

2. Kondisi tubuh
Ada yang berpendapat bulan ini disebut Ramadhan karena pada bulan ini tenggorokan terasa panas karena sangat haus. Tafsir Al-Qurthubi, II:291


3. Kondisi batin
Ada yang berpendapat disebut Ramadhan karena pada bulan ini hati-hati manusia menaruh perhatian pada “panasnya” nasehat dan akhirat. Tafsir Al-Qurthubi, II:291

4. Situasi
Ada yang berpendapat disebut Ramadhan karena pada bulan ini orang-orang pada masa itu mempertajam senjata mereka dengan cara dibakar untuk persiapan perang pada bulan syawal. Tafsir Al-Qurthubi, II:291

5. Keyakinan
Sebagian ulama menyatakan bulan ini disebut Ramadhan karena orang-orang pada masa itu berkeyakinan bahwa bulan ini akan membakar dosa-dosa oleh amal shalih (sebagaimana matahari membakar tanah).

Ada yang berpendapat bahwa Ramdhan itu salah satu di antara asmaul husna (nama Allah), karena itu tidak boleh menyebut Ramadhan saja, tapi harus “bulan Ramadhan”. Pendapat ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Sahabat Abu Hurairah; Ad-Dailami dari sahabat Abu Hurairah dan Aisyah:


لا تقولوا رمضان فإن رمضان اسم من أسماء الله ولكن قولوا شهر رمضان

Tetapi hadis ini dha’if, karena diriwayatkan melalui seorang rawi bernama Najih bin Abdurrahman, kun-yah (panggilan) nya Abu Ma’syar. Kata Al-Bukhari, “Dia munkarul hadis” Tahdzibul Kamal, XXIX:327.

Sehubungan dengan hal itu, Imam Al-Bukhari telah membuat bab dalam Shahih-nya dengan judul:

بَابٌ هَلْ يُقَالُ رَمَضَانُ أَوْ شَهْرُ رَمَضَانَ وَمَنْ رَأَى كُلَّهُ وَاسِعًا وَقَالَ النَّبِيُّ (صلعم) مَنْ صَامَ رَمَضَانَ

Judul ini dibuat oleh Imam Al-Bukhari sebagai bantahan terhadap hadis yang melarang menyebut kata Ramadhan saja, tapi harus “bulan Ramadhan”. Menurut beliau boleh-boleh saja menyebut Ramadhan atau bulan Ramadhan. Karena Nabi sendiri pernah menyebutkan keduanya.

Dengan keterangan-keterangan di atas, maka dari segi penamaan bulan Ramadhan itu tidak memiliki kelebihan apapun dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, sama halnya dengan Januari pada bulan masehi. Karena itu, perlu kita kaji secara cermat, dari sisi mana bulan Ramadhan memiliki kelebihan dibandingkan dengan bulan lain. Ada apa pada bulan Ramadhan ? Pada umumnya kaum muslimin memiliki keyakinan bahwa di antara keutamaan bulan Ramadhan itu karena awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah, dan akhirnya ‘itqun minanar (pelindung dari api neraka). Bahkan tidak sedikit yang berkayakinan bahwa melaksanakan amalan sunatpun ganjarannya seimbang dengan yang wajib. Karena itu kaum muslimin senantiasa berlomba untuk memperbanyak amalan-amalan sunat pada bulan tersebut. Hemat kami, keyakinan itu tumbuh karena didasarkan atas keterangan-keterangan yang sebenarnya tidak bersumber dari Rasullah saw. antara lain riwayat Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi, dan Al-Haitsami yang menerangkan bahwa bulan Ramadhan itu memiliki keutamaan daripada bulan lainnya, karena

a. Bulan rahmat di 10 hari pertama, maghfirah (ampunan) di 10 hari kedua, dan ‘itqun minanar (pembebasan dari api neraka) di 10 hari terakhir,
b. Ganjaran amalan sunat yang dilaksanakan pada bulan itu seimbang dengan ganjaran amalan wajib.
c. Ganjaran satu amalan wajib yang dilaksanakan pada bulan itu seimbang dengan ganjaran tujuh puluh amalan wajib.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ. رواه ابن عدي و العقيلي و الديلمي

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ’Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah magfirah, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka”. H.r. Ibnu Adi, Al-Uqaili, dan Ad-Dailami

Keterangan:
Menurut penelitian para pakar, hadis tersebut tidak benar bersumber dari Rasul dilihat dari 2 aspek: Pertama, kualitas rawi atau wartawan sebagai sumber informasi itu bernama Ali bin Zaed bin Jud’an yang buruk hapalan/pelupa dan Yusuf bin Ziad an-Nahdi yang biasa berdusta. Kedua, dilihat dari isi berita sebagai bukti kesalahan berita yang disampaikan oleh kedua wartawan tersebut yaitu bertentangan dengan firman Allah yang menerangkan bahwa kelipatan ganjaran itu bukan hanya terjadi pada bulan Ramadhan tetapi juga di hari-hari lain di luar bulan Ramadhan:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (الأنعام :160)

Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). Q.s. Al-An'am:160

Bahkan oleh Rasul dinyatakan bahwa pahala satu amal kebaikan itu adalah 10 hingga 700 kali lipat, baik di Ramadhan maupun diluar Ramadhan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَعَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ وَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ – رواه مسلم –


عَنْ خُرَيْمِ بْنِ فَاتِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ كُتِبَتْ لَهُ بِسَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ – رواه الترمذي –

Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut, kami berkesimpulan bahwa bulan Ramadhan tidak memiliki keutamaan-keutamaan seperti yang diterangkan dalam hadis tadi.

Ada pula yang berkeyakinan bahwa keutamaan bulan Ramadhan itu terlihat dari aspek penyambutan, mulai dari keramas hingga berdoa khusus menyambut kedatangan Ramadhan dengan doa yang terkenal:

اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً
Setelah 4 tahun kami menelusuri jejak sumber doa itu, kami temukan beberapa redaksi yang berbeda, antara lain


عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ : اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ لِي مُقَبَّلاً .رواه الديلمي, الفردوس بمأثور الخطاب 1:471

عن عُبَادَةَ بن الصَّامت رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يُعَلمُنَا هؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ: اللَّهُمَّ سَلمْني لِرَمَضَانَ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ لِي، وَسَلمْهُ لِي مُتَقِبَّلاً . (طب فِي الدُّعَاءِ والدَّيْلمِي). جامع الأحاديث والمراسيل 20 : 76 -

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ يُعَلِّمُنَا أَنْ نَقُوْلَ اللّهُمَّ سَلِّمْنَا لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ مِنَّا وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلاً - رواه عبد الكريم بن محمد الرافعي القزويني , التدوين في أخبار قزوين 3: 424 –

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا هؤلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً.رواه إبن شبغة عبد الملك بن علي – سير أعلام النبلاء 19 : 50 –51

اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً

Keterangan:


Hadis tentang berdoa menyambut Ramadhan di atas semuanya bersumber dari Abu Ja’far ar-Razi, namanya Isa bin Abu Isa Mahan. “Dia buruk hafalan/pelupa”. Abu Zur’ah berkata, “Sering ragu-ragu (dalam meriwayatkan)”. Al-Mughni fid Dhu’afa, II:500. Di antara bukti buruk hapalannya dia menyampaikan doa yang sama namun dengan redaksi/kalimat yang berbeda-beda.

Sedangkan keterangan terakhir dengan lafal wasallimhu minni mutaqabbalan tidak jelas riwayat siapa.
Demikian beberapa keterangan yang perlu disampaikan sebagai bahan evaluasi untuk melaksanakan ibadah shaum di bulan Ramadhan tahun ini.

Berdoa ketika berbuka shaum
عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ – رواه أبو داود –

Artinya: "Ya Allah, hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkaulah aku berbuka," H.r. Abu Daud dari Mu’az bin Zuhrah. H.r. Abu Daud, Sunan Abu Daud II:528.


Keterangan:
Muadz bin Zuhrah bukan seorang sahabat melainkan seorang tabi'in. Dengan cara periwayatannya ia disangka seorang sahabat. Karena itu hadis ini dhaif mursal


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَلِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Dari Anas bin Malik, ia mengatakan, 'Rasulullah saw. apabila berbuka shaum mengucapkan, Dengan nama Allah, ya Allah, hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkaulah aku berbuka, " H.r. At-Thabrani, Al-Mu'jamul Ausath VIII:270.


Keterangan:
Hadis ini dhaif, bahkan dikategorikan sebagai hadis maudhu'. Dan kalaupun tidak termasuk hadis maudhu', hadis matruk sudah tentu. Pada sanadnya terdapat seorang rawi bernama Daud bin Az-Zibirqan. Menurut Ya'qub bin Syu'bah dan Abu Zur'ah, "ia itu matruk (tertuduh dusta)". Sedangkan Ibrahim bin Ya'qub al-Jurjani mengatakan, "Kadzdzab (pendusta)" (Tahdzibul Kamal XIII:394-395).
 
عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ قال :كَانَ النَّبِىُّ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ : لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْ قِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيمُ

Dari Ibnu Abas, ia berkata, "Nabi saw. apabila berbuka mengucapkan : Hanya karena Engkaulah aku shaum dan atas rezeki Engkau aku berbuka. Maka terimalah dariku karena sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui," H.r. Ath-Thabrani, Al-Mu'jamul Kabir XII:146

Keterangan:
Hadis ini juga dhaif bahkan palsu, karena terdapat seorang rawi bernama Abdul Malik bin Harun. Abu Hatim berkata, "Ia itu matruk, menghilangkan hadis". Yahya bin Main mengatakan, "Ia itu kadzdzab". Ibnu Hiban mengatakan, "Ia itu membuat hadis palsu". (Lisanul Mizan IV:71).

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَى رِزْ قِكَ أَفْطَرْتُ

Keterangan:
Redaksi dengan tambahan wabika amantu sampai saat ini tidak diketahui riwayat siapa (teu daif-dhaif acan)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ – رواه أبو داود والنسائي في الكبرى والبيهقي والحاكم والدارقطني –

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Nabi saw. apabila berbuka mengucapkan "Telah hilang dahaga, terbasahi tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala insya Allah," H.r. Abu Daud, Aunul Ma'bud VI:482, an-Nasai dalam as-Sunanul Kubra, al-Baihaqi, al-Hakim, dan ad-Daraquthni

Keterangan:

Kata ad-Daraquthni, “Sanad hadis ini hasan” Sunan ad-Daraquthni, II:185. Redaksi inilah yang dianjurkan untuk digunakan apabila kita berdoa pada waktu berbuka shaum.

Adapun keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan berdasarkan hadis sahih adalah sebagai beikut:

a. Bulan penuh berkah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا قَدْ حُرِمَ. رواه احمد
Dari Abu Hurairah, ia berkata,’Ketika bulan Ramadhan tiba, Rasulullah saw. bersabda,’Sungguh Ramadhan telah datang kepada kamu, yaitu bulan yang diberkahi, Allah telah fardukan shaum bagi kamu, pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu Jahanam dikunci, dan setan-setan diikat. Pada bulan itu terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak mendapatkan kebaikannya, sungguh ia tidak akan mendapatkannya”. (HR. Ahmad)

b. Kifarat dosa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ. رواه مسلم

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda,’Salat yang lima, dari Jum’at ke Jum’at, dan dari Ramadhan ke Ramadhan itu menjadi kifarat (penghapus dosa) selama menjauhi dosa-dosa besar. H.r. Muslim

c. umrah pada bulan itu sebanding dengan haji

عَنْ عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يُحَدِّثُنَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِامْرَأَةٍ مِنَ الْأَنْصَارِ سَمَّاهَا ابْنُ عَبَّاسٍ فَنَسِيتُ اسْمَهَا مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّي مَعَنَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ لَنَا إِلَّا نَاضِحَانِ فَحَجَّ أَبُو وَلَدِهَا وَابْنُهَا عَلَى نَاضِحٍ وَتَرَكَ لَنَا نَاضِحًا نَنْضِحُ عَلَيْهِ قَالَ فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً. مسلم

Dari Atha, ia berkata, “Aku mendengar Ibnu Abas menceritakan kepada kami, ‘Rasulullah saw. bersabda kepada seorang perempuan dari kaum Anshar yang diberinama oleh Ibnu Abbas, lalu aku lupa namanya, “Apa yang menghalangi kamu uuntuk melaksanakan ibadah haji bersama kami?” Ia menjawab, “Yang kami miliki hanyalah dua ekor unta. Ayah dan anaknya menunaikan iabadah haji dengan berkendaran satu unta dan ia meninnggalkan bagi kami satu unta untuk kami tunggangi.” Beliau bersabda, “Apabila bulan Ramadhan tiba, maka umrahlah kamu karena umrah pada bulan itu sebanding dengan ibadah haji.”H.r. Muslim

Dan dalam riwayat Al Bukhari


عَنْ عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا يُخْبِرُنَا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِامْرَأَةٍ مِنَ الْأَنْصَارِ… قَالَ فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِي فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ حَجَّةٌ أَوْ نَحْوًا مِمَّا قَالَ. البخاري


Dari Atha, ia berkata,’Aku mendengar Ibnu Abbas mengabarkan kepada kami, bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada seorang perempuan dari kaum Anshar…Beliau bersabda,’Apabila bulan Ramadhan, berumrahlah engkau karena umrah pada bulan Ramadhan itu adalah haji atau sebanding dengan apa yang beliau katakan (haji). H.r. Al Bukhari

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ…. رواه البخاري
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda,’Setiap amal Ibnu Adam adalah baginya terkecuali saum, karena ia itu bagiKu dan Aku yang akan membalasnya. Shaum adalah perisai…H.r. Al Bukhari


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَابَعَهُ سُلَيْمَانُ بْنُ كَثِيرٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ. رواه البخاري


Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda,’Siapa yang shaum bulan Ramadhan dengan niat dan tekad keimanan dan mengharap ridla Allah, akan dihapus yang telah lalu. H.r. Al Bukhari


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيمَةٍ فَيَقُولُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ… رواه مسلم


Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah saw. memberikan semangat pada qiamu Ramadhan tanpa memerintahkan mereka dengan satu kemestian, ia bersabda, ‘Siapa yang mendirikan Ramadhan dengan disertai keimanan dan ihtisab, maka akan diampuni baginya dosa yang telah lalu… H.r. Muslim.

ورمضان مأخوذ من رمض الصائم يرمض إذا حر جوفه من شدة العطش والرمضاء ممدودة شدة الحر ومنه الحديث صلاة الأوابين إذا رمضت الفصال خرجه مسلم ورمض الفصال أن تحرق الرمضاء أخفافها فتبرك من شدة حرها فرمضان فيما ذكروا وافق شدة الحر فهو مأخوذ من الرمضاء قال الجوهري وشهر رمضان يجمع على رمضانات وأرمضاء يقال إنهم لما نقلوا أسماء الشهور عن اللغة القديمة سموها بالأزمنة التي وقعت فيها فوافق هذا الشهر أيام رمض الحر فسمي بذلك وقيل إنما سمي رمضان لأنه يرمض الذنوب أي يحرقها بالأعمال الصالحة من الإرماض وهو الإحراق ومنه رمضت قدمه من الرمضاء أي احترقت وأرمضتني الرمضاء أي أحرقتني ومنه قيل أرمضني الأمر وقيل لأن القلوب تأخذ فيه من حرارة الموعظة والفكرة في أمر الآخرة كما يأخذ الرمل والحجارة من حر الشمس والرمضاء الحجارة المحماة وقيل هو من رمضت النصل أرمضه وأرمضه رمضا إذا دققته بين حجرين ليرق ومنه نصل رميض ومرموض عن ابن السكيت وسمي الشهر به لأنهم كانوا يرمضون أسلحتهم في رمضان ليحاربوا بها في شوال قبل دخول الأشهر الحرم وحكى الماوردي أن اسمه في الجاهلية ناتق وأنشد للمفضل وفي ناتق أجلت لدى حومة الوغى وولت على الأدبار فرسان خثعما و شهر بالرفع قراءة الجماعة على الإبتداء والخبر الذي أنزل فيه القرآن أو يرتفع على إضمار مبتدأ المعنى المفروض عليكم صومه شهر رمضان أو فيما كتب عليكم شهر رمضان ويجوز أن يكون شهر مبتدأ و الذي أنزل فيه القرآن صفة والخبر فمن شهد منكم الشهر وأعيد ذكر الشهر تعظيما كقوله تعالى الحاقة ما الحاقة وجاز أن يدخله معنى الجزاء لأن شهر رمضان وإن كان معرفة فليس معرفة بعينها لأنه شائع في جميع القابل قاله أبو علي وروى عن مجاهد وشهر بن حوشب نصب شهر ورواها هارون الأعور عن أبي عمرو ومعناه إلزموا شهر رمضان أو صوموا و الذي أنزل فيه القرآن نعت له ولا يجوز أن ينتصب بتصوموا لئلا يفرق بين الصلة والموصول بخبر أن هو خير لكم الرماني يجوز نصبه على البدل من قوله أياما معدودات الثانية واختلف هل يقال رمضان دون أن يضاف إلى شهر فكره ذلك مجاهد وقال يقال كما يقال الله تعالى وفي الخبر لا تقولوا رمضان بل انسبوه كما نسبه الله في القرآن - القرطبي 291 -2: 

Demikianlah Kajian yang dapat admin sajikan pada kesempatan kali ini Mengenai Hikmah Puasa dan Doa Menyambut Darangnya Bulan Puasa mudah-mudahn bermanfaat sekaligus menambah pengetahuan tentang Puasa (shaum) Terimakasih.
Posted by Fitri Jahe
Warna Sahabat Updated at: Sunday, April 15, 2018